Hapus Stigma dan Kesenjangan Gender di Dunia Olahraga, Orangtua Bisa Apa?

Olahraga
Share

digitalMamaID — Isu kesetaraan gender dan kekerasan berbasis gender (KGB) masih hadir di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang olahraga. Atlet perempuan masih mendapat kompensasi yang lebih rendah dibandingkan atlet laki-laki. Visibilitas dari cabang olahraga perempuan juga masih rendah.

Forum diskusi “Breaking Barriers, Building Future #KickoutGBV” yang diadakan Magdalene dalam rangka memperingati International Women’s Day di Kedutaan Besar Inggris pada Jumat, 6 Maret 2026 menyoroti realita kesenjangan gender di dunia sepak bola perempuan Indonesia.

Sepak bola sebagai salah satu olahraga paling populer di dunia masih sangat identik dengan zona laki-laki. Di Indonesia, keberadaan program dan partisipasi perempuan dalam sepak bola masih tertinggal, meskipun minat dan antusiasme terus meningkat. Tantangan yang dihadapi tidak hanya berupa stigma namun juga hambatan struktural yang membatasi potensi dan bakat perempuan untuk berkembang.

Realita dunia olahraga bagi perempuan

Data Komnas Perempuan menunjukkan, risiko kekerasan berbasis gender (KBG) masih nyata di lingkungan olah raga Indonesia. Komisioner Komnas Perempuan RR. Sri Agustini menyatakan, laporan terbanyak adalah pelaporan kekerasan seksual, baik dalam bentuk pelecehan fisik maupun non-fisik. Eksploitasi dan kontrol atas tubuh perempuan, seperti misalnya mengatur bentuk dan berat badan atlet, juga masih banyak terjadi.

Pemain Timnas Futsal Putri Indonesia Novita Murni Piranti memaparkan bagaimana kekerasan verbal seringkali datang dari fans dan sesama pemain. Komentar tentang fisik pemain lebih sering terdengar dibandingkan komentar tentang skill dan performa tim selama pertandingan.

Secara sistemik, akses terhadap fasilitas dan pendanaan juga masih terbatas. Ajang kompetisi dan liga wanita masih sangat minim dibandingkan dengan sepak bola putra, sehingga visibilitas rendah dan berdampak pada support yang diterima. Menurut Novita, atlet putri masih kurang dipercaya untuk bisa sukses dan berprestasi, berbeda dengan atlet pria di cabang olah raga yang sama.

Panel diskusi “Breaking Barriers, Building Future #KickOutBGV yang diadakan oleh Magdalene di British Embassy Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026. (Gitta Azalia/digitalMamaID)

“Orang-orang melihat perempuan di Indonesia bermain sepak bola itu tidak punya masa depan. Dari rasa percaya saja mereka tidak punya,” ujarnya. Menurut Novita, rasa percaya baru akan muncul ketika atlet perempuan mampu mencapai prestasi sebagai bukti bahwa perempuan mampu bersaing di dunia olah raga profesional.

Peserta menempelkan stiker di Pledge Ball Ceremony sebagai bentuk komitmen untuk memajukan kesetaraan gender dan memerangi KBG dalam olah raga

Peran orangtua

Novita berbagi pengalamannya saat awal mula di larang bermain sepak bola oleh orang tuanya. “Saya juga pertama-tama [main bola] sama orang tua nggak boleh. Jadi kalau main bola tuh ngumpet-ngumpet, ketahuan dimarahin,” cerita Novita. “Ketika saya bisa membuktikan dengan prestasi, akhirnya rasa percaya itu muncul sedikit-sedikit. Ada kesempatan dan ada rasa percaya, akhirnya orang tua, orang-orang terdekat ada support dan jadi kekuatan tersendiri buat saya.”

Pengalaman Novita menggambarkan realita yang masih sering terjadi di sekitar kita. Orang tua yang seharusnya bisa mendorong passion dan antusiasme anak dalam menggeluti bidang olah raga yang diminati, justru menghambat aspirasi tersebut karena terjebak oleh stigma dan stereotype gender.

Sebagai lini pertama pendidikan anak, orangtua berkesempatan untuk menjadi role model. Orangtua bisa menunjukkan, dalam olahraga laki-laki dan perempuan berhak memiliki kesempatan yang sama. Orangtua memiliki peran untuk mengubah mindset bahwa olahraga tertentu hanya untuk anak laki-laki saja. Dukungan orangtua menjadi krusial untuk meningkatkan partisipasi anak perempuan di dunia olah raga.

Orangtua perlu memberikan edukasi dan empowerment kepada anak, terutama pada anak perempuan. Tunjukkan bahwa mereka mampu mencapai apa yang mereka inginkan, berikan mereka kesempatan dan peluang untuk mengeksplorasi minatnya.

Selain dukungan, membangun kesadaran akan kekerasan berbasis gender pada anak juga penting untuk dilakukan. Anak perlu mengenali seperti apa bentuk-bentuk kekerasan dan bagaimana menyikapi ketika hal itu terjadi di sekitar mereka. Mengenali tanda-tanda kekerasan dan ke mana harus melapor memberikan power pada anak dalam menavigasi hidup mereka.

Perubahan memang tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Namun, dengan kerja sama dari berbagai pihak maka masa depan olahraga perempuan di Indonesia bisa lebih cemerlang.

Olahraga adalah sarana berharga yang bisa memberikan anak perempuan kesempatan untuk membangun rasa percaya diri, merasa kuat, dan berdaya. Jangan biarkan stigma dan diskriminasi membatasi potensi anak-anak kita untuk berkarya di dunia olah raga tanah air. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE