digitalMamaID – Konten kesehatan kembali viral di media sosial, kali ini tentang klaim bahwa TBC bisa sembuh dengan herbal tanpa obat medis. Pernyataan ini langsung menuai kontroversi dan memicu kekhawatiran, terutama di kalangan tenaga kesehatan. Lalu, bagaimana fakta medis sebenarnya?
Kontroversi ini datang dari akun @kynov atau Bude Wellness, seorang influencer dengan 200 ribu lebih pengikut yang dikenal dengan gaya hidup alami. Setelah sebelumnya menuai sorotan karena pandangan antivaksin saat wabah campak pada Februari lalu, ia kembali membuat pernyataan yang memicu keresahan publik.
Dalam konten video yang diunggah di Instagram, ia menyebut bahwa penyakit TBC bisa disembuhkan hanya dengan tanaman herbal tanpa obat antituberkulosis (OAT). Konten tersebut langsung ramai diperbincangkan. Banyak dokter dan tenaga kesehatan angkat suara, sementara warganet membanjiri kolom komentar dengan kritik karena dinilai menyebarkan misinformasi berbahaya. Video tersebut kini telah dihapus, termasuk beberapa highlight terkait vaksin.

Bukan kontroversi pertama
Ini bukan kali pertama pernyataan @kynov menuai polemik. Sebelumnya, ia juga pernah menyebut bahwa suntikan vitamin K pada bayi baru lahir tidak diperlukan karena dapat menyebabkan bayi kuning. Padahal, vitamin K penting untuk mencegah perdarahan serius pada bayi, termasuk di otak dan saluran pencernaan.

Perlu diketahui, @kynov tidak memiliki latar belakang tenaga kesehatan. Ia merupakan lulusan Ilmu Komunikasi dan pernah mengikuti pelatihan di American Fitness Professionals and Associates (AFPA), lembaga sertifikasi di bidang kebugaran, nutrisi, dan health coaching. Sertifikasi ini membuatnya menyebut diri sebagai holistic health practitioner, seperti yang ia sematkan di bio Instagramnya.
Meski demikian, penting dipahami bahwa sertifikasi tersebut bukan pendidikan medis. Sayangnya, pernyataan di ruang publik dari figur dengan banyak pengikut berpotensi memengaruhi opini masyarakat, apalagi ketika didukung oleh lingkungan yang memiliki pandangan serupa.
TBC tidak bisa sembuh hanya dengan herbal
Dalam video yang beredar, @kynov merujuk pada jurnal milik Dr. Kintoko, seorang dosen farmasi yang juga meneliti herbal. Namun, Dr. Kintoko telah memberikan klarifikasi bahwa ia tidak pernah menyatakan TBC bisa sembuh dengan herbal saja.
Ia menegaskan bahwa herbal hanya berfungsi sebagai terapi pendamping, bukan pengganti pengobatan utama. Artinya, pengobatan TBC tetap harus menggunakan obat antituberkulosis (OAT) sesuai standar medis.
Apa itu penyakit TBC?
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyebar ke organ lain seperti tulang, usus, hingga otak. Disadur dari Centers for Disease Control and Prevention, penyakit TBC ditemukan oleh Robert Koch pada 1882, yang menjadi titik balik penting dalam dunia medis karena membuktikan bahwa TBC adalah penyakit menular, bukan penyakit keturunan. Pada masa itu, TBC bahkan menyebabkan satu dari tujuh kematian di Eropa dan Amerika.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, pemahaman tentang TBC terus berkembang, mulai dari cara penularan melalui udara hingga ditemukannya metode diagnosis dan pengobatan yang efektif. Dulu, pengobatan TBC hanya mengandalkan istirahat dan nutrisi, namun kini telah tersedia terapi antibiotik yang terbukti mampu menyembuhkan penyakit ini. Meski demikian, TBC masih menjadi tantangan kesehatan global hingga saat ini, sehingga edukasi, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat tetap menjadi kunci utama dalam menekan angka kasus dan kematian akibat TBC.
Penularannya terjadi melalui udara. Saat penderita TBC aktif batuk, bersin, atau berbicara, bakteri dapat menyebar melalui droplet yang terhirup orang lain. Menurut World Health Organization (WHO), TBC masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia, meskipun sebenarnya bisa dicegah dan disembuhkan.
Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sebanyak 1,23 juta orang meninggal akibat TBC, termasuk 150.000 orang dengan HIV. Secara global, TBC bahkan menjadi penyebab kematian utama akibat satu agen infeksi, serta termasuk dalam 10 penyebab kematian tertinggi di dunia. TBC juga menjadi penyebab kematian utama pada penderita HIV dan berkaitan erat dengan masalah resistensi antimikroba yang semakin meningkat.
Pada tahun yang sama, diperkirakan 10,7 juta orang jatuh sakit akibat TBC di seluruh dunia, terdiri dari 5,8 juta pria, 3,7 juta wanita, dan 1,2 juta anak-anak. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, di semua negara dan kelompok usia.
Di Indonesia, kasus TBC masih tinggi. Gejala umum TBC meliputi:
-
- Batuk lebih dari 2 minggu
- Demam berkepanjangan
- Penurunan berat badan
- Keringat malam
Kabar baiknya, pengobatan TBC tersedia gratis di puskesmas dan rumah sakit melalui program pemerintah. Namun, pasien harus menjalani terapi minimal enam bulan hingga tuntas.
Risiko misinformasi kesehatan tentang TBC
Dokter yang aktif mengedukasi di media sosial, dr. Adam Prabata menegaskan klaim TBC sembuh tanpa obat medis sangat berbahaya.
“Hingga saat ini belum ada herbal yang terbukti dapat mengobati TB. Herbal dapat digunakan sebagai terapi pendamping, bukan terapi utama,” tulisnya di unggahan Instagram pada Minggu, 15 Maret 2026.
Ia juga mengingatkan risiko yang bisa terjadi jika masyarakat percaya pada informasi keliru, seperti:
-
- Menunda pengobatan TBC
- Meningkatkan penularan
- Menghentikan terapi sebelum waktunya
Bahaya menghentikan pengobatan TBC
Dokter spesialis paru Prof. dr. Erlina Burhan, Sp.P(K) menegaskan, pengobatan TBC membutuhkan komitmen karena durasinya cukup panjang.
Menurutnya, banyak pasien tergoda mencari alternatif karena merasa lelah menjalani terapi. Padahal, pengobatan TBC tetap harus menggunakan kombinasi obat antituberkulosis selama minimal enam bulan.
“Saya paham pengobatan ini tidak mudah, tetapi menghentikan atau menggantinya tanpa rekomendasi dokter justru bisa memperburuk kondisi pasien,” ujar dr. Erlina di unggahan Instagramnya, Senin, 16 Maret 2026.
Ia menambahkan, bakteri TBC bisa menjadi lebih berbahaya jika tidak diobati dengan tepat. Bahkan, penghentian obat di tengah jalan dapat menyebabkan Tuberkulosis resisten obat.
“Kalau sudah resisten, pengobatannya jauh lebih panjang dan berat,” tegasnya.
Cara mencegah TBC yang efektif
Selain pengobatan, pencegahan TBC juga penting dilakukan, terutama di lingkungan keluarga. Beberapa langkah yang terbukti efektif antara lain:
-
- Menggunakan masker bagi penderita TBC
- Memastikan ventilasi rumah baik
- Vaksinasi BCG pada anak
- Deteksi dini dan pengobatan segera
Perlu diingat, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa herbal dapat mencegah atau menyembuhkan TBC secara mandiri.
Mengapa klaim “Obat Herbal untuk TBC” mudah dipercaya?
Fenomena ini tidak lepas dari faktor psikologis. Sebagian orang percaya bahwa tubuh dapat menyembuhkan diri sendiri tanpa intervensi medis, diperkuat oleh bias seperti naturalistic fallacy.
Di sisi lain, rendahnya kepercayaan terhadap institusi kesehatan membuat sebagian orang lebih mudah menerima teori konspirasi. Kondisi ini diperparah oleh lingkungan digital seperti echo chamber dan confirmation bias, yang membuat seseorang hanya terpapar informasi yang sesuai dengan keyakinannya.
Di tengah maraknya informasi kesehatan di media sosial, orangtua perlu lebih bijak dalam menyaring informasi. Mengikuti anjuran tenaga medis serta merujuk pada sumber terpercaya adalah langkah terbaik untuk menjaga kesehatan keluarga. Keputusan yang diambil hari ini akan berdampak besar, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang terdekat.[*]






