digitalMamaID – Influencer Rizki Novianti atau yang dikenal Bude Wellness kembali membuat pernyataan kotroversial terkait vitamin K yang biasanya diberikan pada bayi baru lahir. Pasalnya, menurut pemahamannya, pemberian vitamin K pada bayi baru lahir dapat memicu jaundice (penyakit kuning). Benarkah demikian?
Dalam story instagramnya, Maret lalu yang sekarang sudah dihapus, pemilik akun @kynov ini sempat merespon komentar pengikutnya yang mengeluhkan bayinya menjadi kuning kemungkinan karena vitamin K. “Di negara maju hal-hal ini dibahas banget. Ternyata salah satu efek samping dari cucuk (suntik) K itu adalah jaundice (penyakit kuning) eng ing eng. Iya kalau bayinya beruntung bisa bertahan, kalau lewat siapa yang tanggung jawab?” tulisnya dalam story.
Tidak menyebabkan bayi kuning
Sontak, pernyataan ini ditentang keras oleh banyak pihak termasuk sejumlah dokter dan tenaga kesehatan (nakes) karena dinilai berbahaya, menimbulkan misinformasi dan disinformasi serta mempengaruhi orangtua yang masih awam. Salah satu kritik, datang dari dr. Tirtawati Wijaya dalam Threads, baginya orang-orang yang menentang pemberian vitamin K itu kejam dan jahat. “Bayi-bayi itu tidak pernah minta dilahirkan ke dunia, mereka lemah dan perlu dilindungi supaya bisa tumbuh dengan sehat dan selamat,” tulisnya.

Pemberian vitamin K pada bayi baru lahir, menurutnya, sudah terbukti menurunkan risiko pendarahan, terutama yang paling ditakutkan adalah pendarahan otak. Vitamin K perlu diberikan karena saat bayi baru lahir belum bisa menghasilkan vitamin K sendiri dan kandungan vitamin K dalam ASI saja tidak cukup. Bahkan ada beberapa bayi baru lahir yang tidak bisa langsung minum ASI.
Satu suara, dr. Adam Prabata dalam X juga mengatakan pemberian vitamin K pada bayi baru lahir itu sangat penting untuk mencegah pendarahan atau hemorrhagic disease of the newborn yang bisa berakibat fatal. Ia mengatakan, sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kondisi kuning, asalkan sesuai dosis standar vitamin K yang diberikan untuk bayi.
Menurut Adam, kondisi kuning pada bayi itu berasosiasi dengan pemberian vitamin K2 dosis sangat tinggi, bukan vitamin K1. Vitamin K2 sudah tidak diberikan lagi untuk bayi baru lahir. “Vitamin K1 berhubungan dengan kuning pada bayi bila dosisnya sangat tinggi (25-30 mg). sedangkan yang diberikan kepada bayi itu 0,5-1 mg, sangat jauh dari dosis yang bisa membuat bayi kuning,” ujarnya.
Penjelasan IDAI
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut angkat bicara, dalam sejumlah laman media sosial resminya IDAI mengimbau agar orangtua lebih berhati-hati tehadap pihak yang tidak kompeten bicara soal kesehatan. Meski orang terkenal, belum tentu memiliki kapasitas keilmuan yang tepat. IDAI pun mengajak orangtua belajar bersama dan percaya pada sumber yang terpercaya dan tenaga kesehatan yang kompeten.
Menjawab sejumlah kegelisahan orangtua akibat hoaks yang beredar, IDAI menegaskan beberapa poin penting terkait vitamin K, diantaranya:
Vitamin K aman untuk bayi
“Vitamin K, telah diberikan pada bayi baru lahir selama puluhan tahun di seluruh dunia. Bukan hanya aman, justru penting untuk mencegah pendarahan berbahaya yang bisa terjadi pada bayi baru lahir,” tulis IDAI.
Vitamin K tidak sebabkan eczema
Eczema atau biasa disebut eksim adalah kondisi peradangan kulit dengan faktor risiko yang kompleks seperti, faktor genetik, riwayat alergi pada keluarga, gangguan atau kelainan lapisan kulit serta faktor lingkungan. Tidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa suntikan vitamin K pada bayi baru lahir menyebabkan eksim.
Vitamin K yang diberikan pada bayi baru lahir tidak sebabkan bayi menjadi kuning
Kuning pada bayi disebabkan banyak hal, dapat terjadi sejak minggu pertama bayi, terutama karena organ hati bayi yang baru mulai bekerja dan proses adaptasi normal setelah lahiran. “Pemberian vitamin K jenis K1 yang digunakan untuk pencegahan bayi baru lahir tidak terbukti sebabkan penyakit patologis,” ungkap IDAI.
Vitamin K tidak menyebabkan leukemia
Berbagai penelitian terkini dengan data besar tidak menunjukkan hubungan antara pemberian vitamin K saat lahir dengan leukemia pada anak.
Lalu kenapa bayi perlu vitamin K?
Dilansir dari HealthyChildren.org, situs web pengasuhan anak resmi yang didukung oleh 67 ribu dokter anak dari American Academy of Pediatrics (AAP) yang ditulis oleh Profesor Pediatri di SUNY-Downstate School of Medicine Ivan L.Hand, menjelaskan vitamin K adalah nutrisi larut lemak yang membantu tubuh membentuk bekuan darah dan juga penting untuk menjaga kesehatan tulang.
“Orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar mendapatkan vitamin K dari makanan seperti sayuran hijau berdaun, daging, produk susu, dan telur. Bakteri sehat di usus kita, yang membentuk mikrobioma kita, juga menghasilkan vitamin K,” jelas Ivan.
Berbeda dengan bayi, menurut Ivan bayi memiliki sangat sedikit vitamin K dalam tubuh mereka saat lahir. Hal ini membuat mereka berisiko mengalami masalah pendarahan. Untuk mencegah risiko tersebut, bayi perlu suntikan vitamin K. Suntikan yang diberikan kepada bayi dalam waktu enam jam setelah lahir.
Bayi baru lahir tidak punya cukup vitamin K karena mereka tidak mendapatkan banyak vitamin K dari ibu selama kehamilan. Tidak seperti banyak nutrisi lainnya, vitamin K tidak mudah melewati plasenta. Kemudian usus bayi belum memiliki banyak bakteri, sehingga tubuh mereka tidak dapat memproduksi vitamin K dalam jumlah yang cukup.

Bagaimana dengan ASI? ASI menurut Ivan memang mengandung vitamin K namun jumlahnya tidak cukup untuk mencegah Vitamin K Deficiency Bleeding (VKDB) pada bayi. Keadaan bisa berubah ketika bayi sudah cukup besar dan mulai mengonsumsi makanan padat, biasanya antara empat dan enam bulan bakteri di usus bayi juga akan mulai memproduksi vitamin K.
Pendarahan akibat kekurangan vitamin K
Pendarahan pada bayi akibat kekurangan vitamin K adalah kondisi yang sangat menakutkan. Bila dibiarkan tanpa pemberian vitamin K, pendarahan bisa sebabkan kerusakan otak hingga kematian pada bayi.
Perdarahan dapat terjadi di luar tubuh. Perdarahan juga dapat terjadi di dalam tubuh di tempat yang tidak dapat dilihat oleh orang tua. Bayi bisa mengalami pendarahan di usus atau otaknya sebelum orang tuanya menyadari ada sesuatu yang salah.
Ada tiga jenis pendarahan akibat kekurangan vitamin K:
- Early-onset (onset dini):Ini dimulai dalam 24 jam pertama setelah kelahiran. Biasanya terjadi ketika ibu mengonsumsi obat-obatan tertentu yang mengganggu penyerapan vitamin K.
- Classical (klasik):Ini terjadi antara dua hari dan satu minggu setelah kelahiran. Dokter tidak mengetahui secara pasti apa penyebab sebagian besar kasus ini. VKDB onset dini dan klasik terjadi pada 1 dari 60 hingga 1 dari 250 bayi baru lahir.
- Late-onset (onset terlambat): Ini terjadi antara satu minggu dan enam bulan setelah lahir. Tipe ini lebih jarang terjadi daripada tipe onset dini atau VKDB klasik, yaitu terjadi pada 1 dari 14.000 hingga 1 dari 25.000 bayi. Bayi yang tidak mendapatkan suntikan vitamin K saat lahir 81 kali lebih mungkin mengembangkan VKDB late-onset dibandingkan bayi yang mendapatkan suntikan tersebut.
Kasus VKDB memang cukup jarang terjadi, sehingga banyak orangtua tidak menyadari betapa berbahayanya efek penyakit ini. Dalam kebanyakan kasus, tidak ada tanda-tanda peringatan yang memberi tahu sebelumnya bahwa sesuatu yang serius dan mungkin mengancam jiwa sedang terjadi. Tapi, apabila bayi mengalami VKDB, mungkin beberapa menunjukkan satu atau lebih tanda-tanda berikut:
- Pendarahan dari tali pusar atau hidung
- Kulit lebih pucat atau, pada bayi berkulit gelap, gusi pucat
- Mudah memar, terutama di sekitar wajah dan kepala
- Feses berdarah atau feses berwarna hitam, gelap, dan lengket
- Muntah darah
- Warna kekuningan pada bagian putih mata tiga minggu atau lebih setelah lahir
- Kejang, rewel, muntah berlebihan, atau tidur terlalu banyak.
Pada akhirnya, penting bagi orangtua untuk tetap berpijak pada bukti ilmiah yang kuat dalam mengambil keputusan kesehatan anak. Informasi yang beredar di linimasa atau fringe science sering kali terdengar meyakinkan, tetapi tidak didukung oleh riset yang valid dan dapat diuji.
Dalam konteks pencegahan VKDB, konsensus medis global telah jelas menunjukkan pemberian vitamin K pada bayi baru lahir adalah langkah aman dan efektif untuk mencegah risiko perdarahan serius. Oleh karena itu, alih-alih terpengaruh klaim yang belum terbukti, orang tua perlu mengandalkan sumber terpercaya dan rekomendasi tenaga kesehatan demi keselamatan dan masa depan anak. [*]






