digitalMamaID — Ketika dunia kehilangan harapan, siapa yang akan menyelamatkannya? Pelangi di Mars menjawab pertanyaan itu lewat kisah seorang anak perempuan yang tumbuh di tengah keterbatasan, namun tidak kehilangan mimpi. Film ini bukan hanya tentang perjalanan ke Mars, tetapi tentang bagaimana imajinasi, keberanian, dan harapan bisa menjadi kekuatan terbesar manusia.
Film Pelangi di Mars besutan sutradara Upie Guava tayang perdana di bioskop pada 18 Maret 2026.
Sinopsis Pelangi di Mars
Bercerita tentang tokoh Pelangi yang diperankan oleh Keinaya Messi Gusti, seorang anak perempuan cerdas dan pantang menyerah demi mencapai mimpinya menemukan sebuah mineral langka yang disebut zeolite omega.
Dalam perjalanannya mencari zeolit omega di Mars, pelangi tidak sendirian. Dia ditemani oleh robot setia peninggalan ibunya, Batik. Kemudian dia juga bertemu dengan robot-robot penghuni Mars seperti Petya, Yoman, dan robot favorit sebagian besar anak-anak yaitu Kimchi.
Kisahnya sendiri dibuka di tahun 2100, ketika bumi sudah tidak baik-baik saja. Bumi dalam kondisi yang mengenaskan. Planet ini kehilangan sumber air bersih karena telah dimonopoli sepenuhnya oleh Nerotek, sebuah perusahaan raksasa yang menguasai seluruh sumber air bersih di Bumi.
Harapan satu-satunya adalah dengan menemukan zeolite omega, mineral langka yang diyakini mampu mengubah air kotor menjadi air bersih. Para ilmuwan mulai melihat Mars sebagai harapan terakhir, termasuk Pratiwi (Lutesha), ibunda Pelangi yang ikut dalam misi menyelamatkan bumi dengan mencari zeolit omega.
Namun sayangnya, keberadaan zeolit ini membuat Nerotek ketar-ketir, hingga perusahaan tersebut meninggalkan Pratiwi di Mars seorang diri. Tapi ternyata, Pratiwi tidak benar-benar sendirian. Ia memiliki Pelangi di dalam rahimnya.
Pelangi tumbuh menjadi gadis yang lucu dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Bersama Pelangi dan Batik, Pratiwi melanjutkan misinya untuk menemukan zeolit. Medan yang tidak mudah dan kejaran pasukan Nerotek, kerap mewarnai hari-hari mereka hingga akhirnya sebuah badai debu melenyapkan ibu Pratiwi. Mampukah pelangi melanjutkan misinya?
Pelangi di Mars lahir dari kegelisahan
Sutradara Pelangi di Mars mengatakan, ide cerita ini lahir dari kegelisahannya melihat anak-anak Indonesia yang mulai kehilangan mimpi besar. Mimpi
“Kami dulu tumbuh di zaman yang cukup beruntung, kita belum kenal internet, kita tumbuh dengan komik-komik dan film-film seperti Star Wars, Tintin, Back to the Future, Jurassic Park. Literasi yang membuat kita pingin buru-buru jadi dewasa karena ingin menaklukkan dunia,” kata Upie usai peluncuran Gala Premier ‘Pelangi di Mars’ beberapa waktu lalu di kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.
Menurutnya, anak-anak yang terpapar cerita-cerita superhero membuat mereka berani untuk berkhayal, memiliki mimpi besar, dan kelak bisa menjadi sosok pahlawan. Ingin menjadi wartawan seperti Tintin agar bisa keliling dunia memecahkan masalah, menjadi ilmuwan dan arkeolog seperti Jurassic Park dan Indiana Jones, menjadi astronot, ilmuwan yang membuat mesin waktu.
Menurut Upie, tontonan masa lalu membuat anak-anak berani untuk bermimpi dan berimajinasi sehingga tidak heran Indonesia juga memiliki ilmuwan-ilmuwan hebat seperti BJ Habibie yang mampu membuat pesawat, RJ Salatun pelopor studi UFO di Indonesia dan pendiri LAPAN, hingga Pratiwi Sudarmo, seorang astronaut pertama dan satu-satunya yang berasal dari Indonesia.

Itu yang membuat generasi-generasi yang tumbuh di tahun 60-an hidup dengan semangat besar. “Kita itu pernah punya literasi antariksa yang sangat kaya di zaman itu sehingga lahirlah generasi-generasi pemimpi. Saya juga percaya bangsa yang besar itu adalah bangsa yang terbentuk dari mimpinya anak-anak,” kata Upie.
Produser Dendi Reynando mengungkapkan kegelisahannya tentang kurangnya film anak-anak di Indonesia. Menurutnya, industri film anak-anak di Indonesia masih kurang berkembang dibandingkan dengan negara-negara lain.
“Dari tahun 2020 saya punya kegelisahan bahwa film anak dan keluarga sangat kurang di Indonesia. Saya punya tiga anak, setiap mengajak ke bioskop untuk nonton film Indonesia, hampir tidak ada,” kata Dendi Reynando.
Begitu juga ketika mengajak anak-anak ke toko mainan yang juga didominasi oleh mainan dari luar negeri seperti marvel dan anime Jepang. Dendi ingin, ada juga tokoh-tokoh superhero Indonesia yang ikut berjejer di antara rak-rak mainan tersebut. Hingga tercetuslah keinginannya untuk membuat film anak-anak yang dapat dinikmati oleh keluarga Indonesia.
Dendi mengaku beruntung dipertemukan dengan Upie dan talenta-talenta hebat yang terlibat di film Pelangi di Mars. Ia berharap, film ini dapat meningkatkan industri film anak-anak di Indonesia.
“Mudah-mudahan film ini bisa jadi seperti niat kita di awal, jadi tontonan keluarga Indonesia. Karena tentu anak berhak untuk mendapat ruang aman bagi mereka di cinema untuk film mereka gitu. Jadi itu yang kita mau coba sampaikan lewat film ini,” ungkapnya.
Pelangi di Mars bisa jadi pilihan mengisi libur Lebaran tahun ini. Setelah menonton Pelangi di Mars, Mama bisa menulis ulasannya di Screen Score! [*]






