Keterbatasan Orangtua Tuli Belajar Bahasa Isyarat

Orang tua anak penyandang Tuli menggunakan buku panduan bahasa isyarat untuk mempermudah komunikasi bersama anak Tulinya di Palangka Raya, Februari 2026.
Share

digitalMamaID — Bahasa isyarat memegang peran penting dalam membangun komunikasi antara orangtua dan anak penyandang tuli. Melalui bahasa inilah anak dapat menyampaikan kebutuhan, perasaan, dan pikirannya secara utuh. Tanpa penguasaan bahasa isyarat di lingkungan keluarga, proses komunikasi sehari-hari berpotensi terputus juga menghambat proses pembelajaran.

Berdasarkan penelusuran Deaf Children tahun 2019, sebanyak 90% penyandang tuli lahir dari orangtua dengan pendengaran normal. Namun, hanya sedikit dari orangtua tersebut yang belajar bahasa isyarat. Padahal, belajar bahasa isyarat baik pada anak penyandang Tuli atau anggota keluarga lainnya dapat meningkatkan kemampuan komunikasi yang efektif.

Riethma Yustiningtyas, Inisiator Klub Hining (artinya “dengar”) Huma Sarita Kalimantan Tengah, mengatakan berdasarkan penelitian tesisnya tahun 2025 terhadap pola komunikasi orang tua dengan anak penyandang disabilitas pendengaran di Palangka Raya, ditemukan banyak orang tua tidak mengetahui bahasa isyarat. “Dari tujuh anak yang diteliti, hampir semua orang tuanya tidak tahu bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan anak mereka,” ujar Riethma pada digitalMamaID di Palangka Raya, 05 Februari 2026.

Menurut dia, orang tua anak tuli sebagian besar belum familiar dengan bahasa isyarat sesuai panduan. “Ga matching antara sekolah dan rumah sehingga menghambat proses pembelajaran dan perkembangan kognitif anak,” katanya.

Minimnya penguasaan bahasa isyarat pada orang tua bukan tanpa sebab. Banyak orangtua anak tuli tumbuh tanpa akses pada pembelajaran sejak awal. Informasi yang terbatas, kelas yang sulit dijangkau, minimnya tenaga pendamping membuat proses belajar bahasa isyarat terasa rumit dan tidak prioritas.

Klub Hining sebagai titik temu

Di tengah keterbatasan akses belajar bahasa isyarat, kehadiran ruang komunitas menjadi penopang penting bagi orang tua dan anak tuli. Melalui Klub Hining Huma Sarita, Riethma merancang sejumlah program berkelanjutan untuk memperluas akses belajar bahasa isyarat keluarga anak tuli. Salah satunya melalui pembuatan buku saku bahasa isyarat dasar yang memuat 13 simbol tata krama untuk anak usia dini, seperti: meminta maaf, terima kasih, menunggu giliran (antre), sikap permisi, bertamu dan simbol adab lainnya.

“Buku saku ini merupakan hasil penelitian tesis saya yang mengkaji keterbatasan orangtua tuli dalam menguasai bahasa isyarat, harapannya bisa didistribusikan secara meluas orangtua anak tuli, komunitas teman tuli, sekolah khusus, serta komunitas umum dan Taman Baca Masyarakat (TBM). Kami masih mencari donatur, semoga bisa segera terealisasi,” tambahnya.

Pratik bahasa isyarat di Car Free Day (CFD) di Kota Palangka Raya bberapa waktu lalu.

Selain itu, Klub Hining Huma Sarita juga membuka ruang belajar bahasa isyarat bersama tutor Tuli setiap pekan di Car Free Day (CFD) Palangka Raya bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan Tengah.

Huma Sarita juga mengadakan sesi mendongeng dengan menggabungkan bahasa isyarat. Selain itu, klub ini juga berharap dapat menjangkau daerah terpencil dan memberikan akses literasi bahasa isyarat yang lebih luas melalui kolaborasi dengan organisasi lokal.

“Klub Hining ini bertujuan untuk menggugah semua lapisan masyarakat untuk belajar, menambah wawasan tentang bahasa isyarat. Dengan melibatkan ibu dalam proses pembelajaran bahasa isyarat, diharapkan mereka dapat menjadi pendukung utama dalam pengembangan keterampilan komunikasi anak-anak mereka,” ujar Riethma, yang baru saja menuntaskan Program Studi Magister Pendidikan Dasar di Universitas Muhammadiyah Palangka Raya.

Orangtua mendapat kemudahan

Ermawati (37) orang tua anak tuli mengaku sejak awal mengetahui kondisi pendengaran anaknya, ia hanya menggunakan bahasa isyarat ibu dalam berkomunikasi. “Saya tidak tahu bahasa isyarat yang sebenarnya, jadi hanya sebatas gerakan-gerakan saja,” ujarnya.

Keterbatasan akses menjadi tantangan utama. Menurut Ernawati, sulit menemukan tutor tuli yang bisa mendampingi secara langsung. Kelas bahasa isyarat pun jarang tersedia dan sebagian besar dilakukan secara daring, yang justru menyulitkannya. “Sesekali sekolah memang menyediakan pendampingan, namun tidak berlangsung rutin,” tambahnya.

Sosialisasi Buku Panduan Bahasa Isyarat Bisndo kepada orangtua dan anak penyandang Tuli sekaligus simulasi di Palangka Raya, Juni 2025.

Dalam keterbatasa tersebut, ibu dua anak itu merasakan kemudahan ketika menggunakan buku saku panduan bergambar dari Riethma dan Huma Sarita. Buku tersebut membantunya mengenal simbol-simbol dasar yang lebih terstruktur dan mudah dipahami. “Buku ini membantu komunikasi sehari-hari saya dengan anak saya menjadi lebih lancar. Anak saya juga mulai terbiasa menggunakan bahasa isyarat tersebut, seperti terima kasih, permisi dan menjaga kebersihan atau bersih-bersih,” katanya.

Ke depannya Ernawati berharap tersedia buku panduan lanjutan yang dapat memperkaya kosakata bahasa isyarat bagi orangtua dan anak tuli. Selain itu juga berharap adanya tutor tuli dalam mengaji agar anaknya dapat belajar agama dengan cara inklusif sesuai dengan kebutuhannya.

Bahasa isyarat di Indonesia

Menurut Pusat Belajar Bahasa Isyarat Indonesia terdapat dua jenis bahasa isyarat utama, yaitu Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Bisindo merupakan cara komunikasi alamiah di kalangan tuli. Bahasa isyarat ini muncul secara alami oleh kelompok tuli dan kemudian berkembang melalui pengamatan dan penelitian. Bisindo memiliki variasi gerakan di berbagai daerah sesuai dengan budaya Tuli daerah tersebut. Penyampaian Bisindo dilakukan dengan gerakan tangan, ekspresi dan juga bahasa tubuh.

Sedangkan SIBI adalah sistem formal buatan pemerintah yang diadopsi dari Bahasa Isyarat Amerika yang sering digunakan pada pembelajaran di Sekolah Luar Biasa (SLB). SIBI dianggap lebih sulit karena mengandung kosakata baku, serta memiliki awalan dan akhiran. Berbeda dengan Bisindo, SIBI disampaikan dengan satu tangan.

Semua orang dapat belajar Bisindo melalui Pusbisindo termasuk tuli, anak dengar, orangtua, guru SLB, terapis, psikolog, para profesional dan siapapun dari semua kalangan dan lapisan sosial di atas usia 18 tahun ke atas. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE