Menguatkan Suara Perempuan Melalui Narasi dan Advokasi

Share

digitalMamaID — Di tengah derasnya arus konten digital, tidak semua suara memiliki ruang yang sama. Perempuan adat, ibu dan anak, hingga kelompok marginal seperti penyandang tuli, sering kali berada di pinggir percakapan publik. Padahal, merekalah yang hidup paling dekat dengan isu-isu lingkungan, budaya, dan ketahanan komunitas.

Menjawab kesenjangan itu, Ranu Welum Foundation dan Youth Camp Kalimantan menggelar Pelatihan Media dan Advokasi pada Selasa, 11 Februari 2026 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kegiatan ini merupakan strategi penting dalam pemberdayaan perempuan dan pemuda Kalimantan agar mampu memproduksi narasi sosial secara mandiri.

Emmanuela Shinta selaku aktivis hak masyarakat adat dan film maker asal Palangka Raya mengatakan, melalui pelatihan ini peserta dibekali dengan keterampilan teknis serta keberanian membangun narasi advokasi. “Kita perlu dorong lagi agar para pemuda ini bisa membuat cerita, video, dan konten digital yang benar-benar membawa perubahan. Konten itu harus punya social cause yang jelas dan mampu mewakili suara-suara yang selama ini belum terwakili,” ujar Emmanuela kepada digitalMamaID.

Menurutnya, setelah COVID-19, produksi konten digital meningkat pesat sehingga suara komunitas kian tenggelam di antara arus informasi yang masif. Ia menekankan pentingnya kepekaan dan kepercayaan diri peserta terhadap isu yang diperjuangkan, guna mengangkat suara yang terpinggirkan dan mendorong perubahan sosial berkelanjutan.

“Kalau dia percaya dan paham pada apa yang dia perjuangkan, akan mudah baginya untuk membagikan itu kepada orang lain,” ujarnya.

Meningkatkan skill dan kepekaan perspektif

Pelatihan media dirancang untuk meningkatkan kapasitas peserta, baik secara teknis maupun perspektif advokasi. Materi yang diberikan meliputi fotografi, videografi, penggunaan kamera profesional, hingga produksi konten digital. Peserta juga dibekali pemahaman tentang storytelling, bagaimana menyusun narasi advokasi yang berdampak dan memiliki tujuan sosial yang jelas.

“Pelatihan ini juga menekankan kepekaan dalam merepresentasikan suara marginal. Fokus diarahkan pada kelompok yang selama ini belum banyak mendapat ruang di media arus utama. Seperti perempuan, anak-anak, juga penyandang disabilitas,” kata dia.

Arzena, salah satu peserta pelatihan mengaku baru pertama kali menggunakan kamera profesional dalam pelatihan tersebut. “Sebelumnya saya hanya pakai kamera handphone. Di sini saya belajar langsung bagaimana mengatur angle, pencahayaan, dan durasi video supaya hasilnya lebih maksimal,” kata dia.

Sejumlah peserta mengikuti pelatihan media dan advokasi yang digelar oleh Ranu Welum Foundation di Rumah Tjilik Riwut Gallery, Palangka Raya, 11 Februari 2026. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pemuda dan perempuan dalam membuat konten digital sebagai media advokasi.

Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membuka pemahaman tentang bagaimana menyusun kampanye secara terstruktur. “Biasanya kalau menyuarakan isu itu spontan saja. Tapi di pelatihan ini dijelaskan step by step, mulai dari menentukan isu, menyusun pesan, sampai strategi publikasinya,” tambah Arzena yang merupakan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Dari ide ke aksi advokasi

Pelatihan yang dihadiri oleh 15 anak muda ini kemudian melahirkan berbagai gagasan advokasi yang berangkat dari pengalaman dan kegelisahan peserta.

Salah satu kelompok merancang kampanye “Jangan Buang Sampah ke Sungai” sebagai respons atas kebiasaan masyarakat yang memicu banjir dan memperparah kerusakan lingkungan. Kampanye tersebut juga menjadi bentuk kritik terhadap minimnya penyediaan fasilitas pengelolaan sampah oleh pemerintah.

Dalam sesi sharing ide tersebut, peserta dari teman tuli yang turut hadir juga mengusulkan agar sistem peringatan dan sosialisasi kebencanaan dirancang secara lebih inklusif. Dia menekankan pentingnya penyediaan sarana yang tidak hanya berbasis suara, tetapi juga visual, seperti teks, simbol, lampu peringatan, serta materi video dengan bahasa isyarat.

Perempuan sebagai penggerak

Sekitar 80 persen peserta merupakan perempuan. Langkah ini menjadi strategi sadar untuk memperkuat representasi perempuan adat yang selama ini aktif bekerja di komunitas, namun jarang tampil dalam narasi publik.

Direktur Ranu Welum Foundation Roro Ardya Garini berharap pelatihan ini dapat melahirkan lebih banyak aktivis muda yang berani bersuara dan konsisten mengangkat isu lingkungan, hak masyarakat adat serta isu sosial lain di sekitar yang butuh perhatian.

Menurutnya, pelatihan ini juga menjadi titik temu bagi para pengguna media sosial yang selama ini mungkin hanya terbiasa menyuarakan keresahan lewat kolom komentar. Dari sekadar “geruduk” di ruang digital, mereka diajak naik level untuk berpikir lebih luas, lebih strategis, dan lebih bertanggung jawab dalam menyampaikan gagasan.

Narasumber menyampaikan materi tentang strategi kampanye dan perubahan sosial saat pelatihan media dan advokasi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

“Dengan keterampilan media dan keberanian membangun narasi, suara perempuan dan komunitas adat diharapkan tak lagi tenggelam, melainkan menjadi bagian penting dari percakapan publik yang mendorong perubahan sosial berkelanjutan,” paparnya.

Melalui proyek akhir berupa video advokasi, para peserta didorong menghadirkan cerita dari sudut pandang mereka sendiri hingga perjuangan sosial di wilayah masing-masing. Selain pelatihan akan digelar screening film yang dirancang menjadi ruang temu dan ruang refleksi bersama. Jika di sesi pelatihan peserta dibekali pemahaman dan keterampilan dasar, maka melalui film mereka diajak memperdalam perspektif dan mempertajam sensitivitas terhadap isu.

Ranu Welum Foundation adalah organisasi berbasis di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang berfokus pada advokasi hak masyarakat adat, pelestarian budaya, serta perlindungan hutan melalui pendekatan media dan film komunitas. Media dipilih sebagai alat perjuangan sebagai sarana membangun kesadaran dan perubahan sosial. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE