Teman Tegar “Maira” – Whisper From Papua: Memahami Krisis Iklim dari Sudut Pandang Anak

film Teman Tegar “Maira” - Whisper From Papua
Share

digitalMamaID — Kita jaga pohon, pohon jaga kita. Premis sederhana ini menjadi dasar cerita film Teman Tegar “Maira” – Whisper From Papua. Meski bercerita tentang hutan Papua, film ini sejatinya bukan tentang Papua saja. Tapi tentang bagaimana kita semestinya terkoneksi dengan alam.

Film ini merupakan sekuel dari film Tegar yang disutradarai oleh Anggi Frisca. Jika sebelumnya berpusat pada seorang anak 11 tahun penyandang disabilitas bernama Tegar (M. Aldifi Tegarajasa),  sekuelnya menghadirkan lakon baru yaitu, Maira (Elizabeth Sisauta). Gadis berusia 12 tahun yang tinggal di Papua.

Sinopsis Teman Tegar “Maira” – Whisper From Papua

Tegar mengenalnya saat ikut Teh Isy pulang kampung ke Papua. Maira tinggal di sebuah kampung adat di pedalaman Papua. Mereka bertemu di pasar saat Maira menjajakan ras buatan tangan.

Pada pertemanan singkat itu, Maira mengajak Tegar dan Teh Isy berkunjung ke kampungnya. Setelah melewati laut dan hutan, sampailah mereka di kampung adat yang lestari.

Sebagai “anak kota”, Tegar banyak belajar hal baru. Ia merasakan minm air langsung dari akar tanaman. Saat kakinya terluka, Maira mengambilkan daun berkhasiat. Semua bangunan di kampung itu juga terbuat dari kayu, tidak ada beton sedikitpun. Pendeknya, hutan menjadi penyangga hutan masyarakat setempat.

Masyarakat adat itu percaya, tugas utama mereka adalah menjaga hutan, menjaga pohon. Hanya dengan cara itu kehidupan mereka terjaga.

Pertemuan dua anak dari latar belakang berbeda ini menjadi awal perjalanan yang mengubah cara pandang mereka tentang alam, keberanian, dan masa depan. Di sanalah petualangan dimulai. Mereka berupaya untuk menghadang upaya manusia serakah menghancurkan hutan.

Memahami krisis iklim

Anggi, sang sutradara mengatakan, film ini berupaya untuk mengajak anak memahami krisis iklim yang dampaknya sudah semakin nyata. “Film ini bukan tentang menyelamatkan hutan semata, tapi tentang cara kita memandang hidup. Kami ingin menyederhanakan isu besar seperti krisis iklim menjadi cerita anak-anak yang jujur, hangat dan membumi,” katanya pada saat gala premiere di Bandung, Kamis, 23 Januari 2026.

Film ini juga tidak bicara soal Papua saja. Anggi mengatakan, film ini ditujukan untuk Indonesia yang sedang banyak dilanda bencana. Menjaga hutan bukan tugas masyarakat adat saja. “Kita semua harus menjaga hutan. Di tengah bencana, uang tidak bisa menyelamatkan kita. Pohonlah yang bisa menyelamatkan kita,” katanya.

Film pertama yang diproduksi Aksa Bumi Langit berjudul Tegar berbicara tentang inklusi dan hak anak penyandang disabilitas, maka Maira memperluas semangat tersebut ke isu global yakni climate crisis dan ketahanan masyarakat adat. Film ini tidak memposisikan anak-anak sebagai korban, melainkan sebagai subjek yang punya suara, keberanian dan kemampuan untuk bertindak.

Produser film, dr. Chandra Sembiring, seorang dokter kemanusiaan yang telah bertugas dari satu bencana ke bencana lain, termasuk misi internasional di Afghanistan, menyebut film sebagai alat kampanye yang paling efektif dan berdaya ingat panjang.

“Di lapangan kemanusiaan, kita selalu bicara soal kampanye dan sosialisasi, tapi film punya keunggulan: ia masuk ke ingatan orang,” kata Chandra.


“Lewat satu film, kita bisa menjangkau jutaan orang dan menggerakkan empati dengan cara yang lebih manusiawi.”

Berangkat dari pengalaman panjangnya di wilayah konflik, bencana, hutan dan gunung-gunung, Chandra melihat bahwa masyarakat adat justru memiliki konsep resiliensi yang kuat, sesuatu yang sering terabaikan dalam narasi pembangunan modern.

“Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan,” ucap Chandra.

Produksi bersama

“Maira” – Whisper from Papua tidak hanya mengambil lokasi di Papua, tetapi juga diciptakan bersama Papua. Sebanyak 70 persen kru adalah anak muda Papua, dan mayoritas pemeran merupakan masyarakat lokal yang menjalani pelatihan intensif selama empat bulan.

Film ini mengambil gambar langsung di kawasan pedalaman Papua, tempat hutan hujan tropis masih berdiri megah, dengan kehadiran burung cendrawasih, rangkong dan lanskap alam yang nyaris tak tersentuh. Seluruh proses produksi dilakukan dengan pendekatan kolaboratif bersama masyarakat adat, kepala suku, dan seniman lokal.

“Kami tidak ingin Papua hanya jadi latar. Kami ingin ini menjadi karya bersama, dari Papua untuk hutan Indonesia,” tegas Anggi.

Seribu orang teah menonton film ini di hari gala premiere. “Maira” – Whisper from Papua bisa ditonton di bioskop mulai 5 Februari 2026. Setelah menonton, Mama bisa membagikan ulasannya di Screen Score! [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE