Kasus Bunuh Diri Gen Z: Catatan untuk Orangtua

Share

Peringatan: Artikel ini mungkin dapat memicu kondisi emosi dan mental pembaca. Kami menyarankan untuk tidak meneruskan membacanya jika mengalami kecemasan dan mempertimbangkan untuk meminta bantuan profesional.

digitalMamaID – Jumat, 28 Juni 2024 dini hari lalu, kasus bunuh diri seorang pemuda di jembatan layang Cimindi, Cimahi, Jawa Barat menggegerkan masyarakat. Lewat sebuah file digital, guru muda ini mengurai isi hati dan pikirannya hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Tak butuh waktu lama, netizen ramai mencari akun media sosialnya. Cukup mengejutkan karena feed korban dipenuhi foto-foto keluarga yang tampak harmonis. Namun, di balik itu, korban juga memasukkan link tulisan pribadinya berbentuk Google Document di profilnya. Lewat tulisan itu menunjukkan betapa kalut pikirannya, merasa kesepian, dan betapa dunia ini tidak ramah untuk dia.

Gen Z rentan depresi

Dari rentang usianya, korban masih sangat muda, masuk dalam golongan Gen Z. Menurut survei yang dilakukan SPRC, Gen Z mengalami banyak permasalahan mental yang cukup signifikan. Di usia 18-25 tahun ada 13% remaja yang memiliki suicidal thoughts.

Suicidal thoughts ini di luar dari yang mengalami depresi dan permasalahan mental lainnya. Ketika mereka masuk usia dewasa di 26-49 tahun, permasalahan mentalnya menurun.


Berkaca dari kasus di atas, korban yang dalam tulisannya yang merefleksikan kalut pikirannya akan dunia dan betapa kesepian dirinya, terhubung pada faktor pemicu tindakan bunuh diri dilakukan. Adapun menurut WHO, selain bunuh diri dan kondisi kesehatan mental terbukti berkaitan, atau saat krisis, pemicu lain tindakan bunuh diri mencakup rasa kehilangan, kesepian, diskriminasi, putusnya hubungan, masalah keuangan, pelecehan dan konflik darurat kemanusiaan lain.

Psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp. KJ dalam Webinar “Ketika Anakku Menjadi Remaja” mengatakan, sebagian besar remaja Gen Z berpendapat permasalahan mental mereka berasal dari lingkungan. Sehingga lingkungan, pertemanan, keluarga dan pekerjaan sangat mempengaruhi produktivitas hidup dan kesehatan jiwa Gen Z. Elvine mengimbau untuk para orang tua dan guru untuk lebih banyak mengapresiasi Gen Z agar kesehatan mental emosi mereka stabil.

Catatan untuk orangtua dan guru

Survei yang dilakukan oleh WHO tahun 2023 kepada anak-anak di Indonesia usia kelas 7-12 menyebutkan, mereka kesulitan berdiskusi dan mempunyai teman baik. “Perlu diperhatikan untuk guru atau orangtua yang anak atau muridnya terlihat berbeda, seperti tampak murung, menangis, komplain, atau ingin diajak ke psikolog. Anak-anak dengan kecenderungan ini harus segera difasilitasi kebutuhannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutur Elvine yang merupakan Founder Mental Hub Indonesia sekaligus Kaprodi Profesi Fakultas Kedokteran Unpar ini.

Elvine menyampaikan, dua penyebab umum Gen Z atau remaja dengan masalah mental emosional, yaitu pola asuh yang sangat permisif atau sangat otoriter atau bahkan cenderung abai dan pengalaman dari teman-teman sebayanya yang negatif seperti menjadi korban bullying dan lain-lain.

Hal tersebut menyebabkan anak-anak akan mudah sekali menarik diri dan ketika berlebihan muncullah perasaan kesepian, perasaan tidak berharga dan akhirnya menjadi orang yang sangat mudah marah dan menjadi orang yang berpikiran hidup ini tidak ada gunanya.

Adapun hal-hal yang penting untuk diketahui orangtua dari anak remajanya:

  1. Bacaan anak.
  2. Tontonan anak.
  3. Tipe teman-temannya.
  4. Bagaimana adiksinya dengan gadget.
  5. Relasi intimate.

Elvine mengingatkan, bunuh diri bukan solusi atas hidup yang kadang berat. Perubahan waktu kadang membuat kita merasa sendiri. Hidup rasanya kejam dan kadang kita menyalahkan diri sendiri atas banyak hal. “Ingatlah bahwa kita tidak sendiri,” ujarnya.

Layanan pencegahan bunuh diri

Bila kita atau melihat teman atau saudara yang sedang mengalami depresi dan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup, temani mereka untuk mencari bantuan. Terdapat layanan-layanan umum untuk pencegahan upaya bunuh diri yang mudah diakses.

  1. Nomor darurat 119 ekstensi 8 untuk layanan konseling Sejiwa.
  2. Puskesmas terdekat.
  3. Call center Halo Kemenkes dengan menghubungi ke nomor 1500 567 atau Whatsapp dengan nomor +62 812 6050 0567 atau melalui SMS di nomor +62 812 8156 2620.
  4. LISA Suicide Prevention Helpline dengan menghubungi nomor +62 811 3855 472. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID