Isi Kepala (3) Perempuan

Ilustrasi/Peshkov/Getty Images
Share

Banyak kekhawatiran dan keresahan aku sebagai perempuan yang sudah menginjak usia 30. Mungkin tidak hanya aku, sepertinya hal ini dirasakan juga oleh sebagian perempuan diluar sana yang dilematisnya jadi meningkat setelah, akan, baru atau telah menginjak usia kepala tiga ini.

Agak klise memang, tapi realitanya jelas terasa. Idealnya setelah perempuan dewasa berusia 30 mereka seharusnya sudah matang secara emosional, finansial, dan yah… minimal kesan dewasaini membuat mereka terlihat dewasa dalam berpikir dan bersikap.

Adakah yang setuju denganku bahwa di usia ini perempuan harus lebih tenang, santai tapi diamdiam mapan? Banyak pengharapan dan haus pembenaran atas apa yang dia rasakan? Seolah, dia bukan satusatunya perempuan di dunia yang punya perasaan yang krusial? Kabar baiknya, fitrah perempuan selalu identik dengan lemah lembut dan perasa. Semua serba diperhitungkan, salah satunya perhitungan tentang seberapa cocok perasaan mereka dengan kenyataan yang mereka hadapi? Seberapa penting pengalaman hidup dengan pencapaian mereka hari ini? Seberapa ambisiusnya mereka berprasangka tentang masa depan yang padahal belum tentu akan terjadi?

Lantas, kenapa harus perempuan yang lebih dominan dalam memikirkan remeh-temeh di dunia ini?

Jawablah sendiri selagi kalian perempuan dewasa yang katanya paham konsep hidup, tapi sering lupa teori saat ujian praktek! Bukan kalian kok, tapi aku!

Sesekali aku kewalahan karena merasa over stimulasi dan intruksi. Dengan dunia digital yang semakin pesat, banyak sekali informasi yang semakin sulit terfilterisasi. Mulai dari prestasi, esensi diri, sampai berita kriminalitas tersedia tanpa batas. Terkadang hal yang tidak ingin kita pelajari sudah tersaji preposisi tepat di depan mata dan telinga kita. Namun ajaibnya kita selalu punya hak untuk memilih informasi apa yang kita butuhkan. Penting bagi perempuan khususnya, untuk dapat menentukan media mana yang layak mereka baca agar si overthinking tidak begitu melekat dengan identitasnya.

Percaya atau tidak karakter overthinking ini seringnya memberi dampak serius bagi perempuan yang mengalaminya. Sebab yang “tercemarbukan hanya lingkungan/ orang sekitarnya tapi bisa menjadi toxic untuk dirinya sendiri. Banyak prasangka dan praduga yang belum jelas terjadi tapi sudah diceritakan berulang kali, baik di sosial media mereka ataupun di telinga orang-orang yang mereka percaya. Namun sudah dipastikan sifat berlebihan ini bukanlah fitrah perempuan sebenarnya namun ini merupakan ego mereka. Menurutku, tidak sedikit yang terkena hoax karena oversharing atau terdampak insecure karena overscrolling. Tentu hal ini harus menjadi perhatian lebih, agar perempuan bisa bebas bersosial media tanpa salah menepatkan baper. Iya nggak?

Seperti yang terjadi denganku dulu, melihat pencapaian teman membuatku selalu merasa kurang. Mendengar kabar teman terkadang membuatku merasa lambat.

Terlebih saat bertemu dengan teman, semua yang aku punya seperti tidak pernah aku nikmati. Setelah berusia 30an aku sadar banyak hal yang seharusnya aku upgrade, minimalnya dari mindfull menjadi mindful. Aku kembali belajar, menata goals yang tidak pernah jadi obsesiku sebenarnya. Aku mulai bertahap menerima proses hidupku yang mungkin berbeda dengan temanku. Perlahan aku menyadari bahwa setiap pencapaian seseorang akan selalu bersama dengan ujiannya. Pun setiap fase hidup yang aku syukuri dan sabari sampai detik ini akan jua sampai pada penghambaanku kepada Tuhan.

Tidak akan ada satupun didunia ini yang terjadi tanpa sepengetahuan-Nya bukan? Lantas kenapa masih harus khawatir? Padahal kita hanya perlu berjalan dan menikmati pemandangan hidup yang mungkin orang lain justru iri dengki karena ingin ada di posisi kita? (WKWK) Ruang pikiran harus semakin terbuka agar prasangka seorang hamba sampai pada peraduan yang terbaik.

Sejatinya takdir terbaik adalah hari ini.

Akhirnya aku semakin yakin, kalau kedewasaan seseorang tidak melulu soal angka. Ada beberapa teman yang sudah menyelami asam basa kehidupan namun sayangnya mereka tidak cukup belajar dengan pengalamannya tersebut. Namun banyak juga teman yang sedikit pengalamannya namun dia lekas belajar dari fase hidupnya. Sepertinya aku mulai paham, ke mana harus memposisi diri.

Manusia itu belajarnya seumur hidup, terutama perempuan. Mereka harus belajar untuk dirinya, anaknya, suami, orangtua, mertua, adik, teman, tetangga, bahkan semua yang berhubungan dengan masyarakat agar mereka tetap bisa hidup. Tentu hampir semua perempuan sudah mengerti, kalau mulut sesama perempuan akan selamanya hidup sebelum dia konfimasi kartu tanda pengenalnya pada orang tersebut. Pantas saja (katanya) penghuni neraka didominasi oleh kaum perempuan sebab lisan mereka lebih tajam dari pada pedang.

Jadi mulai sekarang aku putuskan untuk belajar menjaga lisan lebih serius, aku harapgak hanya aku tapi kamu juga, karena sudah terlanjur membaca isi pikiran(ku) perempuan kepala tiga. Thanks!

Mama Citra

#citranulislagi

Jumat, tanggal 14 Juni 2024.

00: 36 WIB


Cerita Mama berisi cerita yang ditulis oleh pembaca digitalMamaID seputar pengalamannya saat bersentuhan dengan dunia digital, baik saat menjalankan perannya sebagai individu, istri, ibu, pekerja, maupun peran-peran lain di masyarakat. Kirimkan cerita Mama melalui email redaksi@digitalmama.id atau digitalmama.id@gmail.com dengan subyek [Cerita Mama].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID