Media Sosial dan Kesehatan Mental, dari FOMO sampai Penyakit Komparasi

Ilustrasi media sosial dan kesehatan mental
Share

digitalMamaID – Dampak teknologi yang berkembang pesat tidak selalu bersifat konstruktif tetapi kadang ada potensi dekstruktifnya seperti anxiety, mental health bahkan bunuh diri. Waspadai penggunaan media sosial dan kesehatan mental.

US Public Health Service menyebutkan, remaja yang menggunakan media sosial lebih dari 3 jam perhari mengalami risiko dua kali lipat mengalami gangguan mental. Ternyata menerima banyak asupan informasi dalam waktu bersamaan justru berdampak kurang baik terutama untuk Gen Z dan Gen Alpha. Menurut Dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes, gangguan mental ini terjadi akibat ketergantungan terhadap teknologi yang meningkat.

“Teknologi kan semula secara filsafatnya ditujukan untuk memberikan kemudahan, memfasilitasi supaya hidup kita jauh lebih nyaman tapi, mungkin sekarang informasi yang kita terima bukan lagi cepat melainkan banjir dan paralel. Sehingga di dalam satu kurun waktu kita bisa menerima banyak sekali broadcast informasi,” paparnya dalam Zoom Nextalks #2 Session Ramadhan bersama Next Generation Indonesia (Nxg) yang berlangsung pada Senin, 25 Maret 2024.

Lebih lanjut ia memaparkan, lama-lama akibat menerima exposure dari begitu banyak sumber informasi ini akan muncul potensi gangguan mental health yang akhirnya breakdown dan bisa crack. Bagaimana kaitan media sosial dan kesehatan mental ini? Tauhid menjelaskan, ketika menerima begitu banyak informasi dan task atau penugasan-penugasan pada diri sendiri untuk bisa meng-handle itu, kita tidak cukup punya ruang untuk melakukan satu proses.

“Katakanlah kontemplatif, kemudian mengendapkan apa yang diterima dan kita dituntut untuk memberikan respons cepat sehingga kita exhausted (kelelahan). Exhausted ini mengakibatkan keputusan-keputusan atau tindakan-tindakan kita itu bersifat dangkal, superfisial. Dalam pengertian kita menjadi terlatih untuk tidak terlampau berpikir analitik karena yang dibutuhkan adalah hal-hal yang bersifat praktis, responsif,” lanjutnya.

Kecemasan di dunia digital

Hidup di dunia nyata saja sudah kompetitif, apalagi harus berkompetisi di dunia digital. Tanpa sadar kita suka membandingkan-bandingkan dengan laman update dari Instagram seseorang atau melihat Instastory seseorang. Hal itu tentu menimbulkan rasa depresif jika ternyata bertolak belakang dengan hidup kita.

“Tiba-tiba melihat teman-teman kita di circle, mutual friend kita, postingnya itu sedang ngopi di salah satu kota yang eksotis di Eropa. Nah itu kan pasti akan membuat ekspektasi kita terhadap kapasitas diri kita untuk memenuhi mimpi itu menjadi semakin berkurang. Apalagi kemudian kalau kita lihat dari segi kapasitas kompetensi enggak terlalu berbeda jauh sama kita, tapi achievement-nya kok jauh lebih hebat dari kita. Padahal kan enggak bisa dibandingkan head to head, apple to apple seperti itu,” tambahnya.

Ia mengamati, sekarang banyak orang yang tidak mau memunculkan centang biru di WhatsApp. Sehingga kita tidak tahu sebenarnya itu receive atau sudah di read. Jika memunculkan centang biru tapi, tidak langsung dijawab itu juga membuat anxiety kecil. Kecemasan-kecemasan yang sebetulnya bersifat awalnya ringan parsial, tetapi ketika akumulatif ini akan menjadi anxietas yang punya intensitas besar. Dan pada dasarnya, bisa menjadi konstruksi untuk terjadinya depresi, ICD 10 f32 yaitu Major Depression karena sebab-sebab relasi sosial.

FOMO dan penyakit komparasi

Kecemasan (anxiety), insecure ini akhirnya dari sana menjadi muncul konsep-konsep seperti FOMO (Fear of Missing Out). “Gen Alpha atau Gen Z di Bandung jika belum posting di coffee shop happening itu kayaknya penderitaan lahir batin banget. Karena mereka konstruksi mentalnya itu masih dalam pembangunan, artinya baru mencari value lah. Kalau seumur kita kan sudah lebih mature, wise melihat sesuatu yang hype enggak terlalu menjadi beban,” lanjutnya.

Persoalannya, kebanyakan orang terpengaruh opini publik. Opini yang bersifat hegemoni, bersifat dominan mempengaruhi ruang pikir. Sehingga merasa harus fit dengan dunia itu. Inilah yang menjadi berat, dari kecemasan, kekhawatiran, kegelisahan. Sebenarnya kekhawatiran dan kegelisahan itu wajar dan bukan patologis. Hal ini menunjukkan kita aware terhadap adanya situasi yang uncontrollable. Tetapi kalau sudah jadi kecemasan itu artinya kita sudah mulai meragukan diri kita bisa mengontrol.

“Media digital juga hanya punya satu point of view yaitu melihat apa yang diharapkan kita untuk dilihat, mengurung kita sehingga persepsi kita yang terbangun itu enggak akan lepas dari sana. Sekarang ada namanya Key Opinion Leader (KOL), menjadi influencer ataupun endorser sehingga pasti dia akan menyajikan informasi yang menurut sudut pandang beliau-beliau,” katanya.

Terkadang konten positif pun bisa berubah menjadi desktruktif ketika seseorang menemukan fakta bahwa dia tidak punya kemampuan untuk mengakses, mewujudkannya, lalu mucul obsesi. Inilah penyakit komparasi.

“Berawal dari melihat konten-konten positif, lama-lama dia merasa harus seperti itu. Akhirnya obsesif, kalau sudah obsesif akan kehilangan orientasi. Mencari segala cara harus seperti itu, kalau tidak akhirnya mental breakdown,” ungkapnya.

Tiga circle Steven Covey

Jika kehidupan kita sesungguhnya ingin berjalan benar, Steven Covey punya tiga circle, yaitu circle of concern, circle of influence, dan circle of control.

“Media digital ini sebenarnya our extended sensory system. Mata kita, telinga kita tuh yang tadinya kita dengar itu cuma sebatas gibah ibu-ibu RT, sekarang gibah internasional tentang Kate Middleton. Mata kita enggak bisa ngelihat tapi karena ada live YouTube ada live IG kita jadi tahu,” paparnya.

Media digital ini adalah bagian perpanjangan indera kita. Sistem kita menjadi bertambah kapasitasnya dan juga bertambah bebannya. Sekarang kita bisa melihat banyak peristiwa dunia seperti bencana alam, konflik, penembakan Moskow bahkan genosida Palestina. Rasanya ikut teraduk-aduk simpati yang berujung empati. Tingkat ketahanan mental ikut tergerus kesedihan yang terlampau mendalam karena tidak bisa membatasi bahwa yang terjadi ini di luar personal. Hal ini bisa berujung ke frustasi bahkan blaming pada diri sendiri.

“Kalau kembali ke lingkarannya Steven Covey, jadi kita bisa konsen, boleh dan berhak tahu bahkan mungkin wajib tahu. Tetapi kita harus menempatkan bahwa ini levelnya adalah konsen kita, memberikan atensi tetapi, kita juga bisa mengukur dan menakar diri,” jelasnya.

Menurutnya, kita sebagai bagian penikmat yang mungkin di circle of concern, peduli pada apa yang terjadi di dunia tidak harus merasa terbebani, jika tidak bisa merubah. Jika kita masuk ke circle of influence, posisi kita diidentifikasikan di sana setidak-tidaknya jika kita posting, ada orang yang kemudian bisa terpengaruh atau bisa memberikan makna tertentu pada kehidupan orang lain. Tapi jika kita sudah menjadikan sosial media ini adalah bagian dari inti atau sentral aktivitas kehidupan kita, artinya circle of control kita harus diperluas. Segala sesuatu yang terjadi di sosial media itu akan memberikan dampak langsung pada kita sebagai manusia yang nyata.

Kaitan media sosial dan kesehatan mental semakin erat. Kepiawaian untuk menghindarkan diri dari risiko-risikonya semakin diperlukan ya, Mama? [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *