Mengajarkan HAM pada Anak ala Suciwati Munir

Mengajarkan HAM pada anak ala Suciwati Munir
Share

digitalMamaIDEnggak perlu nunggu jadi social justice warrior atau SJW untuk peduli Hak Asasi Manusia (HAM). HAM begitu erat dengan kehidupan sehari-hari. Semua orang, termasuk Mama, juga perlu peduli pada HAM. Bahkan, kita pun perlu mengajarkan HAM pada anak-anak. Wah susah enggak tuh?

Enggak dong! Mengajarkan HAM kepada anak bisa sangat sederhana, lho! Kok bisa? Begini, menurut Undang-Undang Hak Asasi Manusia, HAM seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Dari definisi itu bisa diiartikan HAM adalah hak dasar manusia yang diberikan oleh Tuhan, sehingga tidak bisa dicabut oleh manusia lain. Nah, semestinya enggak ada yang enggak relate sama HAM ini.

Apa saja yang termasuk HAM?

UU HAM membagi delapan kategori HAM, yaitu:

  1. Hak untuk hidup
  2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan
  3. Hak mengembangkan diri
  4. Hak memperoleh keadilan
  5. Hak atas kebebasan pribadi
  6. Hak atas rasa aman
  7. Hak atas kesejahteraan
  8. Hak turut serta dalam pemerintahan

Pelanggaran atas delapan hak tersebut bisa dikategorikan sebagai pelanggaran HAM.

Mengajarkan HAM kepada anak

“HAM itu sedekat kita bernapas, sedekat kita punya kebebasan berpikir,” kata pejuang HAM Suciwati Munir ditemui usai Roadshow Menolak Lupa Kasus Pelanggaran Berat HAM di Unpad Training Center (UTC) Hotel, Bandung, Rabu, 7 Februari 2024.

Sebagai ibu, kita perlu mengajarkan HAM pada anak. “Sederhana saja, ketika kita menanamkan adab, etika, (HAM) itu bagian ruang hidup kita. (Dengan cara) Menghargai orang ketika berbicara,” katanya.

Suciwati selalu memberi ruang kepada anak untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Orangtua dan orang dewasa lainnya perlu mendengarkan pendapat anak juga. “Seringkali di keluarga atau di bangsa kita, anak tidak punya suara hak suara. Ketika mereka ingin berpendapat, ‘Ah lu anak kecil!’ Tapi saya biasa mengajarkan pada mereka untuk mau mendengarkan apa sih pendapatmu,” tuturnya.

Menurut Suciwati, mendengarkan pendapat anak perlu dilakukan sebagai cara untuk menghargai anak sejak awal. Dengan begitu, anak mempunyai ruang untu berbicara jujur. Anak akan merasa kejujurannya dihargai.

Kemudian yang penting juga ialah membiarkan anak memberikan penilaian atas apa yang ia lihat. Dari sana anak bisa menarik pelajaran yang berharga.

Kita semua harus peduli HAM

Suciwati tak gentar memperjuangkan HAM meski tidak mudah baginya. Ia harus terus-menerus mengingat kepergian Munir, suaminya. Munir yang aktivis HAM itu diracun di udara saat berada di pesawat terbang. Sampai saat ini  dalang pembunuhan itu belum terungkap.

Suciwati mengatakan, membicarakan kepergian orang terkasih seperti terus membuka luka. “Tapi bagaimana agar tidak ada orang lain yangn mengalami seperti saya, itu lebih penting,” katanya.

Ia mengatakan, sebagai seorang ibu melihat anak terpenuhi hak kesehatan dan pendidikannya tentu sangat membahagiakan. “Itu bisa terjadi ketika HAM memang dijunjung tinggi. Ketika HAM dalam ancaman, tidak akan bisa,” katanya.

Pegiat Aksi Kamisan Bandung Ressy R. Utari mengatakan, banyak orang abai pada HAM karena mengaggap pelanggaran HAM itu sesuatu yang terjadi di masa lalu dan hanya terjadi pada orang lain sebab merasa hidupnya baik-baik saja. Ia menyebut itu  sebagai kesadaran palsu. Tidak mengalami, bukan berarti pelanggaran HAM tidak ada. “Itulah kesadaran palsu. (Pelanggaran HAM) Ini bisa terjadi pada siapa saja ketika kita tidak belajar, tidak cari tahu,” katanya.

Kalau Mama peduli, mengajarkan HAM pada anak tak akan sulit! [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *