Emang Wajib “Speak Up” di Medsos?

Speak Up di Medsos
Share

Belakangan, medsos ramai sekali dengan adu argumen para pendukung capres. Enggak di kolom komentar, story yang hanya bisa tampil 24 jam, ataupun video content yang macam-macam kreativitasnya. 

Saya sebagai pengguna aktif, sangat terhibur (juga kadang ke-trigger) melihat adu kuat tiap kubu ini. Namun, saya tertegun ketika dapat komentar dari kawan: “Kamu pilih siapa kok gak pernah keliatan posting tentang salah satu paslon? Apa emang enggak ngikutin politik?” 

Saya kaget sekejap. Ini kedua kalinya saya dianggap ignorant akan current topic hanya karena enggak pernah posting tentang hal itu. 

Kali pertama terjadi beberapa bulan lalu, saat semua atensi dunia tertuju pada aksi genosida di Gaza. Kawan dekat saya bilang “Ku pikir kamu dukung Israel loh, Fir.” 

Iya, saya jarang sekali posting tentang aksi pembantaian ini, tapi bukan berarti saya tidak tahu, bukan? 

Saya tidak menutup mata tentang ini. Saya turut memboikot produk-produk yg terafiliasi dengan kaum biadab itu. Tapi, apa seharusnya saya juga koar-koar di media sosial tentang ini?

Dari awal membuat Instagram/TikTok/Twitter, tujuan saya cuma untuk mendapat entertainment. Makanya saya pun kerap kali sharing sesuatu yg bisa “menghibur”. Entah itu meme, video lucu, atau shitpost yg bikin nyengir. 

Selebihnya saya pakai buat posting kegiatan pribadi yang kebetulan ingin saya posting (tentunya tidak semua kegiatan saya post, saya enggak ada energi untuk itu). Satu lagi yang saya upload adalah makanan, karena saya suka. That’s it!

Sekarang, ketika pengguna medsos sudah mulai sangat sangat aktif, rasanya kita seperti punya kewajiban untuk ikut kasih komentar/dukungan/cacian pada sesuatu yang tengah hangat dibicarakan. Aplikasi-aplikasi ini jadi punya andil besar dalam menciptakan istilah “speak up” jadi toxic.

Kayaknya kita dituntut buat selalu share our views, even if it’s supposed to be confidential (seperti pilihan politik). Kalau enggak, kita dianggap acuh, bodoh atau memang apatis. 

Kalaupun iya, memangnya kenapa? Kan itu pilihan masing-masing ya. Kita tidak punya kewajiban juga buat posting tentang specific topic. Kecuali jadi influencer yang dibayar jutaan buat bikin konten. 

Saya juga enggak yakin, kalau sebenarnya mereka yang kasih opini mereka di media sosial benar-benar paham topik itu. Bisa jadi, cuma FOMO enggak, sih? Which is engak apa-apa juga, itu hak mereka kan. Nah, untuk tidak ikutan posting juga merupakan hak juga, bukan?

Just because we don’t talk about it doesn’t mean we don’t know about it. 

Di sisi lain, saya jadi mikir, apa benar ya kalau sebenarnya saya harus ikutan budaya “speak up” di medsos ini supaya saya enggak dijudge macam-macam?

Ah, lagian, mau apapun postingan kita akan ada aja kan yang menginterpretasikan macam-macam. Jadi, yaudah, saya senyum aja kalau ada yang mikir saya ignorant (mungkin memang iya hehe). 

Saya akan tetap posting meme dan makanan yang mungkin tidak sekeren postingan kritis seperti yang banyak orang lakukan. 

 

Firda Iskandar

Bogor, Januari 2024. 


Cerita Mama berisi cerita yang ditulis oleh pembaca digitalMamaID seputar pengalamannya saat bersentuhan dengan dunia digital. Baik saat menjalankan perannya sebagai individu, istri, ibu, pekerja, maupun peran-peran lain di masyarakat. Kirimkan cerita Mama melalui email redaksi@digitalmama.id atau digitalmama.id@gmail.com dengan subyek [Cerita Mama].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *