Perempuan Harus Menulis Agar Tak Hilang dari Sejarah

Ilustrasi perempuan menulis
Share

digitalMamaID – Perempuan sering hilang dalam sejarah. Perannya dikecilkan juga dilemahkan. Sampai hari ini pun upaya mendegradasi perempuan terjadi terus-menerus. Untuk itu, penting bagi perempuan menulis sejarah dirinya sendiri.

Apa yang ditulis perempuan hari ini akan menjadi arsip sejarah. Dokumentasi yang membangun narasi hidup perempuan.

Menurut Tarlen Handayani, selaku Program Manager Ruang Arsip dan Sejarah (RUAS) Perempuan , sejarah itu bukan soal besarnya peristiwa. Keseharian dan buah pikiran perempuan sehari-hari bisa menjadi catatan penting yang menyusun sejarah perempuan.

“Kenapa perempuan itu banyak dihilangkan dalam sejarah Indonesia? Dari periode lampau, sebenarnya banyak perempuan hebat di nusantara yang luar biasa pengaruhnya. Di era kebangkitan nasional, banyak tokoh-tokoh perempuan yang terlibat dalam gerakan kemerdekaan. Ada gerakan perlawanan buruh yang di pelopori oleh buruh-buruh perempuan di Semarang pada zaman kolonial karena kesenjangan upah. Sebelum tahun 1965, perempuan punya peran yg luar biasa besar, contohnya Gerwani yang selalu dikaitkan dengan komunis,” papar Tarlen, book binder & arsiparis yang juga pegiat literasi ini dalam Live Instagram bersama digitalMamaID Jumat, 5 Januari 2024.

Jika membedah lebih jauh menurut Tarlen, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) sendiri sebenarnya bukan gerakan komunis. Mereka hanya bekerjasama sebagai suatu organisasi. Gerwani sendiri sangat progresif bahkan gerakannya sampai ke akar rumput. Mereka berdiplomasi di tingkat internasional, mempromosikan kemerdekaan Indonesia, terlibat di forum-forum internasional, Konferensi Asia Afrika, Konferensi Anti Kolonialisme di negara-negara Afrika dan Asia. Gerwani juga membangun sekolah-sekolah rakyat dan memberantas buta huruf.

Pengecilan makna

Namun, tahun 1965 keadaan menjadi berbanding terbalik. Ketika Orde baru berkuasa, perempuan berdaya dianggap berbahaya. Terjadi strategi penghancuran perempuan di segala lini. Tokoh-tokoh Gerwani ditangkap dan dipenjara, mendapatkan kekerasan seksual, diancam keluarganya, dibunuh karakternya, dituduh membunuh jenderal di Lubang Buaya.

Hal ini pun terulang pada tahun 1998. “Penghancuran gerakan perempuan itu selalu dimulai dari bagian (perempuan) yang paling rentan, yaitu tubuhnya,” kata Tarlen.

Tokoh-tokoh perempuan progresif yang bertentangan dengan pemerintah dihilangkan dalam buku sejarah, dibunuh karakternya, dikecilkan maknanya. Orde Baru menghapus bagian-bagian catatan perempuan dan sebagai gantinya mendirikan Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) atau Dharma Wanita yang dikendalikan dan terafiliasi dengan kepentingan mereka.

Orde Baru juga memisahkan dan membatasi perempuan untuk mengurus rumah tangga saja. Di satu sisi itu strategi melemahkan perempuan tapi, sebenarnya jika disadari juga suatu potensi kekuatan. Misalnya saja, keputusan perempuaan dalam memilih sabun, alat-alat rumah tangga ramah lingkungan bisa jadi kesadaran dalam ranah domestik yang berdampak besar.

“Strategi gerakan perempuan sebelum 1965, jika kita lihat ada penerbitan Api Kartini, di dalamnya terdapat pola baju, resep masakan, cara mengurus anak. Selain itu juga ada artikel tentang pemikiran-pemikiran mereka, liputan keterlibatan mereka dalam konferensi-konferensi, terlibat aktivitas internasional. Itu tidak dipisah. Mereka pada saat itu sudah menyadari bahwa peran domestik itu bagian dari kekuatan perempuan. Domestik yang kuat dapat memberikan semangat dan energi untuk bisa mengaktualisasi dirinya di luar rumah,” tutur Tarlen.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by digitalMamaID (@digitalmamaid)

Sejaran paling dekat adalah diri sendiri

Menurutnya, tanpa disadari perempuan mencatat sejarah hidup dengan tubuhnya. Tubuh merekam perjelanan hidup perempuan. “Tubuh adalah alat perekam yang luar biasa. Semua trauma, hal-hal yang menyakitkan, bahkan yang tidak bisa dinalar tapi tubuh mampu mencatat. Perempuan punya kepekaan yang lebih. Secara default, secara fisiologis misalnya, terbiasa menahan rasa sakit haid setiap bulan,” ucapnya.

Menulis sejarah diri, sangat penting untuk perempuan. Emosi-emosi yang terpendam di dalam diri, dalam tubuhnya,  dapat terurai. “Seperti seorang ibu setelah melahirkan caesar pasti mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) karena badannya harus menahan kesakitan yang luar biasa. Menulis itu mengeluarkan residu-residu itu,” katanya.

Ia menambahkan, menulis bisa menjadi katarsis untuk mengeluarkan residu-residu. Itu sebabnya kebiasaan menulis bagi perempuan akan berdampak baik. Bisa membantu memperbaiki kondisi mentalnya. “Perempuan yang mentalnya stabil itu berpengaruh kepada sekelilingnya, keluarganya,” ungkap Tarlen.

Hal penting lainnya, kebiasaan mencatat ini sangat berharga karena akan menjadi sumber pertama sejarah perempuan itu sendiri. Suara perempuan tak perlu diwakilkan oleh orang lain. “Ilmu sejarah itu punya kekurangan yaitu sumber-sumber yang terverifikasi. Sehingga sejarah banyak didikte oleh pengaruh disiplin ilmu barat yang saat itu mengontrol,” ungkapnya.

Bangun kebiasaan menulis

Tarlen mendorong setiap perempuan untuk bisa membangun kebiasaan menulis. “Mulai  lima sampai sepuluh menit perhari bisa berupa poin-poin. Semacam rekap harian, itu bisa dituliskan di buku harian atau kirim ke email sendiri. Setelah tiga atau lima tahun kita bisa baca lagi, kita bisa lihat perjalanan kita. Google saja setiap setahun membuat rekap aktivitas kita. Masa kita sendiri tidak membuat laporan terhadap kita sendiri,” lanjutnya.

Perempuan perlu melatih mengutarakan pandangannya terhadap suatu peristiwa dengan menulis. Belajar untuk mengungkapkan sesuatu lewat tulisan karena dengan menulis bisa mencerminkan bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita merespon. Menulis merupakan latihan yang baik untuk mengeluarkan pikiran-pikiran secara sistematis.

Tarlen mencontohkan, bagaimana upaya ibu zaman sekarang menjauhkan anak dari layar dan mengajak bermain di luar rumah menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dituliskan. Jika tulisan itu dibaca beberapa dekade kemudian, pembaca bisa mendapat bayangan situasi masa kini dan membandingkannya dengan masa itu.

“Jadi jika kita tidak mau dihilangkan dalam sejarah kita harus menulis sejarah kita. Menulis hal-hal yg remeh jika dibaca 10 sampai 20 tahun berikutnya akan menjadi sesuatu yang berharga bagi generasi berikutnya. Kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, generasi berikutnya tidak perlu alami,” tutur Tarlen.

Jangan lupa tuliskan pula pemikiran-pemikiran Mama dalam catatan itu. Tulisan itu akan membuat perempuan merasa berdaya, punya pendapat, punya pemikiran sendiri. Mari mulai menyisihkan waktu untuk membangun kebiasaan baik ini.

Mama juga bisa membagikan tulisan itu kepada digitalMamaID untuk ditayangkan di rubrik Cerita Mama, lho!

Selamat menulis sejarahmu sendiri Mama! [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *