Cara Mengajarkan Literasi Digital pada Anak Usia Dini

Ilustrasi literasi digital pada anak usia dini
Share

digitalMamaID – Anak usia dini generasi sekarang hidup di era digital yang serba canggih. Mereka adalah digital native, yaitu anak-anak yang sejak lahir telah terbiasa dengan gawai di lingkungan sekitarnya. Pengenalan literasi digital pada anak usia dini menjadi hal penting dilakukan oleh orangtua untuk membantu anak-anak siap menghadapi tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh dunia digital. 

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, literasi digital pada anak usia dini merupakan sebuah sikap, pengetahuan, dan keterampilan anak usia dini dalam menggunakan media digital yang ada di sekitarnya untuk mencari dan memanfaatkan informasi, belajar, bermain, atau mendapatkan hiburan secara sehat dengan pendampingan dari orang dewasa di sekitarnya. 

Chief Executive Officer (CEO) Guru Youtuber Dirgantara Wicaksono dalam Webinar Antihoaks “Pentingnya Literasi Digital Bagi Anak” mengatakan, terdapat beberapa kemampuan yang perlu dibangun bagi anak usia dini terkait dengan literasi digital, yaitu:

  1. Anak-anak mampu menggunakan perangkat elektronik untuk mendapatkan informasi serta menemukan pemecahan masalah 
  2. Anak-anak memahami informasi bahwa gambar, teks, cerita dan film di perangkat elektronik memiliki makna
  3. Anak-anak mampu menggunakan perangkat elektronik untuk merekam ide, perasaan, kegiatan atau lingkungan di sekitar mereka. 

Tak kenal maka tak aman

Menurut dia, dengan adanya kemampuan tersebut anak dapat mengoptimalkan penggunaan perangkat digital pada proses pembelajaran, antara lain:

  • Dapat digunakan sebagai media belajar; penggunaan laptop, kamera pada saat bermain peran
  • Sebagai sumber belajar dalam mendapatkan informasi dalam mendukung dan mengembangkan rasa ingin tahu anak; melihat video pembelajaran, mendengarkan lagu, bermain gim mengenal bentuk geometri
  • Sebagai alat komunikasi yang efektif dan efisien untuk menyampaikan informasi; melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan melakukan panggilan atau konferensi video.

Dia menilai, melarang atau menjauhkan anak dari gawai dikhawatirkan justru akan membuat rasa penasaran semakin tinggi. Sedangkan mengenalkan anak tentang kapan dan bagaimana menggunakan gawai justru akan membantu anak untuk menggunakan gawai secara aman. “Ketika digunakan dengan tepat, perangkat digital menjadi alat untuk membantu anak belajar sehingga mendukung perkembangan anak, tentu diperlukan peran orangtua untuk menciptakan ruang digital yg aman sama sehat,” katanya dalam Webinar yang dilaksanakan pada awal Juni 2023 itu. 

Bombom, sapaan akrab Wicaksono, menjelaskan bahwa anak juga butuh bermain menggunakan berbagai benda yang menarik perhatiannya. Gawai yang menawarkan berbagai fitur tentu sangat menarik bagi anak.

Waktu yang tepat

Kapan dan berapa lama orangtua bisa memberikan anak kesempatan untuk 

bermain dengan gawai? 

  • Pada usia 0-2 tahun sebaiknya anak tidak dikenalkan pada gawai karena sinar pada layar gawai dikhawatirkan membahayakan mata anak dan radiasinya memengaruhi otak anak.
  • Pada usia 2-4 tahun anak diperbolehkan menggunakan gawai untuk bermain gim sederhana dengan alokasi waktu maksimal 1 jam dalam sehari.
  • Pada usia 4-7 tahun anak diberikan kesempatan untuk beresplorasi dengan pendampingan dari orang tua atau orang dewasa. Sebaiknya anak diberikan peraturan dan batasan waktu dalam menggunakan gawai, yaitu maksimal 2 jam dalam sehari.

Relawan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah) Vivid Sambas menyampaikan, peran orangtua dalam literasi digital dianalogikan sebagai proses bertumbuh atau merawat benih. Orangtua perlu refleksi kembali seberapa jauh telah memahami anaknya sendiri.

Ilustrasi literasi digital pada anak usia dini
Ilustrasi

Bahasa cinta

Menurutnya, tahapan awal sebelum orangtua mengenalkan teknologi kepada anak-anak yaitu dengan memastikan pendekatan “lima bahasa cinta” kepada anak sudah terpenuhi. Dimana lima bahasa cinta tersebut dapat menjadi pondasi untuk membangun hubungan emosional dan interaksi sosial anak.

“Setiap anak, bahkan kita sebagai orangtua dari lima bahasa cinta ini mempunyai bahasa cinta yang primer, satu atau dua yg utama, bila itu tidak dipenuhi akan terasa tangki cintanya kosong dan menimbulkan banyak masalah termasuk pelarian di dunia digital,” ujar Vivid. 

Lima bahasa cinta orangtua untuk anak yaitu berupa:

  1. Kasih sayang fisik (physical touch): memberikan pelukan, ciuman atau menyentuh secara lembut kepada anak untuk membangun kepercayaan dan koneksi emosional. 
  2. Kata-kata pujian (words of affirmation): mengungkapkan kata-kata pujian dan penghargaan kepada anak dapat meningkatkan kepercayaan diri anak-anak.
  3. Waktu yang berkualitas (quality time): memberikan perhatian dan waktu yang berkualitas seperti bermain bersama, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan. 
  4. Tindakan pelayanan (act of service): melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari seperti membantu saat belajar dan berbagi tanggung jawab. 
  5. Hadiah dan pemberian (receiving gift): Memberikan hadiah atau kejutan kecil kepada anak sebagai ungkapan cinta atas usaha dan prestasi anak. 

Selain itu, sambung Vivid, hal penting lain yang dibutuhkan oleh anak  dalam dunia digital adalah rasa aman secara emosional. Bahwa anak merasa dicintai, dihargai, diperhatikan haknya, serta diperlukan secara adil.

Menurut Stephen Bahkam, CEO Family Online Safety Institute, menumbuhkan rasa aman pada anak bisa dilakukan dengan bersikap tenang, berpikiran terbuka, dan menjelaskan dengan bahasa sederhana. “Serta kita sebagai orang tua terus belajar dan membekali diri dengan literasi digital yang cukup,” tambahnya. 

Apa yang orangtua bisa lakukan?

Peran orangtua menjadi teman anak-anak dalam mengarungi dunia digital dapat kemudian dapat dilanjutkan dengan:

Memahami keunikan anak

Orangtua mendiskusikan do’s dan don’ts dalam dunia digital sesuai usia anak beserta alasannya dari sisi etika, keamanan, budaya, kecakapan digital. Termasuk aturan pemakaian screen time dan aktivitas bersama di luar gadget. Menghargai pendapat anak, menjadi pendengar yang baik dan eye contact. Peka terhadap anak dan emosinya, serta peka terhadap emosi diri. 

Menjadi role model di dunia digital

Mari cek media sosial kita sebagai orangtua. Bagaimana kira-kira pendapat anak tentang apa yang kita tampilkan di media sosial kita? Termasuk soal lingkar pertemanan dan etika media sosial  kita, tidak melakukan perundungan, tidak sebar hoaks. 

Pendampingan aktivitas digital

Orangtua melakukan pendampingan, pengawasan, pemantauan dan evaluasi terhadap aktivitas anak di dunia digital. Kemudian menyediakan waktu dalam mendiskusikan hasilnya.

Vivid juga berpesan saat menemani anak mengenal lebih dalam mengenai digital, orangtua harus memposisikan diri sebagai orangtua yang berkesadaran. Yaitu dengan menyediakan waktu untuk berpikir sebelum berinteraksi dengan anak. Mulai dengan sadar energi, sadar emosi, dan sadar tujuan. Terus belajar menjadi pribadi dan orangtua yang semakin peka terhadap keunikan anak, berlatih mengelola emosi di media digital, serta menjaga circle digital yang positif.

“Orangtua juga memiliki keterbatasan, untuk itu saat kita sadar energi kita sedang low, emosi kita sedang tidak baik, serta sadar tujuan untuk bermedia sosial, maka kita bisa mengendalikan emosi tersebut menjadi lebih baik dan menjadi lebih ber-kesadaran di dunia digital,” ujarnya. [*]

2 thoughts on “Cara Mengajarkan Literasi Digital pada Anak Usia Dini

  1. Pingback: Melatih Fokus Anak dengan Membacakan Nyaring - digitalMamaID

  2. Pingback: Pentingnya Literasi Digital untuk Lansia, Kelompok Rentan di Dunia Maya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *