Judul: Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut
Penulis: Dian Purnomo
Editor: Ruth Priscilia Angelina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
digitalMamaID— Kerusakan alam akibat aktivitas tambang sering kali dibicarakan lewat angka, luas lahan yang dibuka, hasil bumi yang diambil, atau nilai ekonomi yang dihasilkan. Padahal di balik itu ada kehidupan yang perlahan ikut runtuh.
Perempuan menjadi salah satu pihak yang paling merasakan dampaknya. Mulai dari sumber air yang tercemar, ruang hidup yang menyempit, hingga hilangnya sumber pangan yang selama ini mereka jaga. Ketika tanah digali dan laut terancam, beban itu tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga sosial dan emosional.
Perempuan, laut, dan perlawanan
Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut bukanlah sekadar kisah kehilangan atau penantian. Novel yang ditulis oleh Dian Purnomo bercerita tentang bagaimana perempuan berdiri di garis depan saat tanah, laut, dan kehidupan mereka direnggut. Dian Purnomo menghadirkan realitas ke dalam cerita fiksi, yaitu ketika ruang hidup masyarakat diambil atas nama pembangunan, perempuan menjadi pihak yang paling terdampak, tetapi juga paling gigih melawan.
Negara yang merusak tanahnya, tanpa sadar sedang menghancurkan dirinya sendiri, melukai rakyatnya, mengakhiri kehidupan negerinya
Kalimat penggalan pada prolog novel Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut itu menjadi pengantar bagi pembaca mengikuti perjuangan dua perempuan tangguh, Shalom dan Mirah, di Pulau Sangihe, sebuah kabupaten kepulauan di Sulawesi Utara.
Shalom Mawira kehilangan ayahnya yang tak kembali dari melaut. Bertahun-tahun setelah itu, dia terus menunggu. Dengan gigih, dia menjaga Sangihe, merawat lorong-lorongnya, supaya ayahnya menemukan jalan pulang.
Sayang, sebuah perusahaan asing mengendus kekayaan emas di perut bumi Sangihe. Dengan keras kepala orang-orang yang berlindung di balik kekuasaan itu berusaha mengeruk dan mencemari tanah subur yang menjadi ruang hidup rakyatnya.
Shalom menolak untuk diam. Bersama warga Sangihe lainnya, dia berjuang. Segalanya dia pertaruhkan. Waktu, uang, tenaga, kebebasan. Berbaring di aspal, dijebloskan ke penjara, hingga mengikuti upacara menambah nyawa.
Sebutlah ia perempuan gila. Namun, Shalom barangkali adalah kita, perempuan dan rakyat yang hanya ingin menyelamatkan tanahnya. Mampukah Shalom mempertahankan lorong menuju laut tempat dia menunggu ayahnya, atau tanah Sangihe akan musnah ditelan ketamakan?
Perempuan sebagai garda terdepan
Tokoh Shalom Mawira digambarkan sebagai perempuan asli Sangihe yang setia menunggu ayahnya pulang dari laut. Namun, penantian yang semula sederhana itu perlahan berubah menjadi titik awal perjuangan, ketika tanah tempat ia berpijak terancam oleh aktivitas tambang emas.
Cerita kemudian berkembang menjadi narasi perlawanan yang kuat dan menyentuh. Bersama Mirah, seorang aktivis perempuan dari sebuah lembaga, Shalom tidak lagi berdiri sendiri. Mereka bergerak bersama masyarakat setempat, membangun kekuatan kolektif untuk mempertahankan tanah, laut, dan ruang hidup mereka dari ancaman eksploitasi.
Novel ini menempatkan perempuan sebagai subjek aktif dalam perjuangan. Shalom, Mirah dan perempuan lainnya hadir sebagai penjaga ekologi sekaligus penggerak perlawanan. Mereka tidak digambarkan lemah, melainkan memiliki keberanian, strategi, dan keteguhan dalam menghadapi tekanan.
Perspektif ini memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, sekaligus menantang anggapan bahwa mereka hanya menjadi korban dalam konflik sumber daya.
Di pertemuan berikutnya yang diadakan di Bowone seminggu kemudian, sudah terkumpul 45 perempuan yang sepakat akan melakukan perlawanan. Empat puluh lima orang itu akan menggugat izin lingkungan perusahaan di pengadilan, sementara yang lainnnya mempersiapkan diri menjadi saksi. Keempat puluh lima perempuan itu berusia 19 sampai 72 tahun
Salah satu pesan paling kuat dalam novel ini adalah cara memandang alam. Laut, tanah, dan hutan tidak digambarkan sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi semata, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan identitas, sejarah, dan keberlangsungan masyarakat.
Ketika tambang hadir, yang hilang bukan hanya bentang alam, tetapi juga relasi manusia dengan lingkungannya. Melalui narasi yang peka, pembaca diajak memahami bahwa kerusakan lingkungan yang berimbas pada persoalan kemanusiaan.
Solidaritas untuk kritik kekuasaan
Melalui konflik yang dibangun, novel ini juga menyuarakan kritik terhadap sistem yang memungkinkan eksploitasi terjadi. Perusahaan tambang hadir sebagai simbol kekuatan kapital yang sering kali didukung oleh kebijakan, sementara masyarakat lokal berada di posisi yang rentan.
Di tengah tekanan yang besar itu, kekuatan utama yang ditunjukkan dalam novel ini adalah solidaritas. Perlawanan yang tidak dilakukan sendirian, melainkan melalui gerakan bersama antara warga, komunitas, dan berbagai pihak yang peduli. Kebersamaan ini menjadi sumber harapan bahwa perjuangan menjaga lingkungan tidak sia-sia, selama masih ada yang bersuara dan bergerak.
Membaca Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut terasa seperti membuka buku harian. Melalui tokoh Mirah, Dian Purnomo menuturkan detail demi detail kejadian dan perjuangan dengan begitu dekat dan personal. Mirah hadir membersamai Shalom dan warga lain dalam setiap proses perlawanan, menjadi saksi, sekaligus bagian dari gerakan yang saling menguatkan.
Perlawanan dalam cerita ini ditunjukkan dengan aksi nyata dan penuh risiko. Aksi-aksi seperti demonstrasi, petisi, hingga menghadapi aparat menunjukkan bukti bahwa mempertahankan ruang hidup membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Novel ini menampilkan bahwa perjuangan lingkungan sering kali panjang, melelahkan, menakutkan dan penuh tekanan, tetapi tetap dijalani karena menyangkut masa depan bersama.
Penantian sebagai bentuk harapan
Makna “menunggu” dari penantian Shalom dalam novel ini merupakan simbol keteguhan dan harapan di tengah ketidakpastian. Ia mencerminkan keyakinan bahwa perubahan tetap akan mungkin terjadi, meskipun jalan yang ditempuh tidak mudah. Dengan demikian, novel ini tidak hanya menghadirkan kritik, tetapi juga menyimpan harapan tentang masa depan yang lebih adil bagi manusia dan alam.
Kejujuran, ketulusan hati, pikiran yang bersih dan sederhana, tidak serakah dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, berani mempertahankan apa diyakini sebagai kebenaran, adalah nilai-nilai yang kupelajari.
Lewat novel Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut, kita diajak lebih dalam menelisik perjuangan perempuan penjaga alam yang mungkin saat ini benar-benar sedang berlangsung melawan korporasi licik di bentang pulau tertentu. Mengajak kita lebih peka terhadap bentang alam yang terluka dan sekumpulan manusia yang berusaha menjaganya. [*]






