Jelang Pemilu, Waspadai Narasi Kebencian di Media Sosial

Peserta training of trainer “Media Sosial Sebagai Ruang Dialog”
Share

digitalMamaID – Memasuki tahun politik, warganet perlu mewaspadai narasi kebencian yang beredar di media sosial. Pengguna media sosial harus mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi narasi-narasi yang memecah belah.

Sentimen ujaran kebencian yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) menjadi kekhawatiran terbesar di media sosial, terutama menjelang Pemilu 2024. “Berpotensi besar dalam memecah belah kohesi sosial,” kata Kamilia Hamidah selaku pendiri Madrasah Damai ketika dihubungi digitalMamaID, Selasa, 27 Juni 2023.

Ia mengatakan, media sosial seharusnya menjadi ruang publik yang nyaman untuk bertukar sudut pandang. Situasi ideal seperti itulah yang semestinya ditumbuhkan. Warganet bisa bertukar perspektif dan gagasan. Tanpa takut dirundung atau dihakimi oleh warganet lain.

Sayangnya, media sosial kerap dimanfaatkan untuk melancarkan politik identitas. Taktik kotor itu mudah menyulut warganet. Agama dan politik identitas diproyeksikan tetap memainkan peran penting dalam Pemilu 2024.

Menyikapi situasi ini, Madrasah Damai, Srikandi Lintas Iman, dan Pusat Studi Agama Pluralisme dan Demokrasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengadakan pelatihan trainer “Sosial Media Sebagai Ruang Dialog” yang digelar di Hotel HOM Premiere Yogyakarta, 14-17 Juni 2023.

Kamilia menjelaskan, pelatihan trainer ini merupakan kelanjutan dari pelatihan sebelumnya. “Pelatihan sebelumnya adalah pada peningkatan kapasitas peserta pada kemampuan mengidentifikasi narasi yang menyebabkan ujaran kebencian,” katanya.

Selain itu, peserta juga diberi keterampilan untuk membangun narasi alternatif yang tidak mengundang kebencian. Pelatihan itu kemudian dilanjtkan dengan training of trainer. Pesertanya akan kembali ke komunitasnya masing-masing dan melatih kader-kadernya.

Selain menghadirkan tiga fasilitator, pelatihan tersebut juga mengundang digital storyteller Agus Mulyadi sebagai pembicara.

Dengan pelatihan seperti ini, diharapkan warganet tidak terpancing dengan panasnya persaingan antarpartai dan politisi. Narasi kebencian juga tidak dibiarkan meluas. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *