Film “Silenced Workers”: Potret Overwork Pekerja Film

Penayangan perdana Film Silecenced Workers
Share

digitalMamaID – Para pekerja film sering harus bekerja melampaui batas atau overwork. Film Silenced Workers merekam kesaksian mereka.

Nasib pekerja film adalah sebuah ironi. Mereka bekerja untuk menghadirkan hiburan yang membuat penikmatnya bahagia. Sayangnya, selama proses produksi itu para pekerjanya justru mengalami situasi yang jauh dari kata bahagia.

Film Silenced Workers menampilkan kesaksian para pekerja film. Bagaimana mereka harus bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang. Mereka bisa bekerja selama 18-20 jam per hari. Kondisi itu membuat pekerja kerap menjadi korban kecelakaan kerja, tabrakan lalu lintas, hingga meninggal akibat kelelahan kerja.

“Banyak yang mengalami, tapi enggak berani ngomong karena takut enggak diajak syuting lagi,” kata Ani Susanti, sutradara film dokumenter Silenced Workers usai pemutaran perdana di Goethe-Institut, Jakarta, Sabtu, 3 Juni 2023.

Ani mengatakan, kondisi ini sering terjadi karena persoalan anggaran produksi. “Misalnya tiga hari harus kelar. Dengan jumlah scene yang banyak, kalau mau lebih dari itu, enggak ada dananya,” katanya.

Senasib dengan buruh garmen

Film dokumenter berdurasi 18 menit ini diproduksi oleh Konde.co dan Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI). Potret pekerja film tidak berbeda dengan pekerja perempuan di pabrik garmen. Mereka harus berdiri selama delapan jam dalam kondisi hamil karena pekerjaannya atau berstatus kontrak terus menerus dengan hak-hak kerja seperti upah layak terabaikan. Kisah ini juga ditampilkan di Film Silenced Workers. Meski bidang pekerjaannya terlihat jauh berbeda, nasib pekerjanya tak ada bedanya.

Gendis Sri Dewanti Runtung Wahyuni, seorang pekerja film lulusan Perancis ini terkejut saat terlibat produksi FTV pada 2012-2016. “Tidak memanusiakan manusia. Overtime, overwork sudah pasti. Saya pernah harus ada di lokasi jam 6 pagi, baru selesai jam 2 pagi. Karena lokasi jauh jadi harus pulang sendiri. Tidur satu jam karena jam 6 sudah harus siap di lokasi lagi,” tuturnya.

Ritme kerja seperti itu dianggap normal. Ini sangat berbeda dengan budaya kerja di Perancis, tempatnya sekolah. Di sana, pekerja film bekerja sehari delapan jam. Jika lebih dari itu, maka pekerja berhak mendapat upah lembur. Jika tidak bisa memberikan upah lembur, maka bisa mencari pekerja lain yang bisa menggantikannya di luar jam kerja. Sistem kerja seperti itu kompak dijalankan oleh semua pekerja film. Mulai dari aktor aktris hingga kru.

Di Indonesia, budaya kerja seperti itu sulit dilakukan. Selain soal dana, sistem kerjanya juga tidak mendukung. Seringkali pekerja film mendapatkan pekerjaan karena rekomendasi pekerja lainnya. Hal itu memaksa mereka menelan semua ketidaknormalan saat bekerja. Jika angkat bicara, mereka takut tidak lagi mendapat tawaran kerja. “Akhirnya itu dianggap normal. Ya memang begini, (kalau protes) cengeng banget sih. Anak baru minta kontrak saja dikatain songong. Mentang-mentang lulusan Prancis, dianggapnya ribet,” tuturnya.

Dikurangi jadi 14 jam

Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) mendorong untuk mengurangi jam kerja pekerja film menjadi 14 jam sehari. Kampanye mendukung aksi ini disebut dengan #sepakatdi14. “Ini belum ideal, idealnya delapan jam sehari,” kata perwakilan SINDIKASI, Bimo Arya Fundrika.

Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jam kerja yang panjang berdampak pada kesehatan jantung, hingga depresi.

Upaya mengkampanyekan 14 jam kerja ini diinisiasi pula oleh Indonesia Cinematographer Society (ICS). Vice President II Indonesian Cinematographers Bantara Goempar mengatakan, kondisi kerja yang tidak manusiawi sering diromantisasi sebagai bagian dari berkarya. Padahal pekerja film bukan semata aktor, aktris, sutradara, dan produser. Pekerja film terdiri dari banyak lapis, sampai ke pembantu umum dan sopir. Tanpa mereka semua, produksi tidak akan berjalan.

“Kami ingin membuat pagar. Yang namanya pagar jam kerja selama ini tidak pernah ada. Seorang asisten kameraman pernah ada yang jatuh saat dini hari karena kelelahan. Ini kita sedang bekerja atau berkarya?,” tuturnya.

Pada prakteknya, gagasan bekerja 14 jam ini mendapat penolakan yang luar biasa. “Tapi setidaknya membuat sadar. Anggap saja ini cubitan kecil,” ujar Bantara. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *