Challenge Malaikat Maut TikTok, Bagaimana Tanggung Jawab Platform?

Seseorang menunjukkan layar handphone yang bertuliskan #challenge sebagai ilustrasi challenge malaikat maut TikTok

digitalMamaIDChallenge malaikat maut di TikTok berupa aksi menghadang truk yang sedang berjalan lagi-lagi makan korban. Bisakah meminta platform untuk bertanggung jawab?

Challenge malaikat maut TikTok sudah muncul sejak 2021. Sejak itu pula, aksi berbahaya ini telah memakan korban. Video berisi anak-anak dan remaja berlompatan di jalan menghadang truk yang sedang melaju. Mereka dianggap berhasil melakukan tantangan ini jika bisa selamat dari terjangan truk yang melaju itu.

Pada Juli 2021, seorang remaja di Bekasi tewas setelah menghadang truk bersama teman-temannya. Polresta Bogor Kota menyebut sudah ada 14 kasus serupa dalam kurun waktu 2020-2022. Kejadian tersebut merenggut tujuh korban tewas dan tujuh lainnya mengalami luka. Kejadian terakhir terjadi di Gunung Putri, Bogor. Jatuhnya korban tewas pada #challengemalaikatmaut ini sempat menjadi pemberitaan media asing.

Tanggung jawab platform

Berkali-kali kejadian serupa terjadi, bisakah Tiktok atau platform digital lainnya seperti YouTube, Facebook, dan Instagram ikut bertanggung jawab menghentikan fenomena ini?

Direktur Eksekutif Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi) Hariqo Wibawa Satria mengatakan, media sosial menjadi wadah berkreasi bagi content creator. Platform mendorong mereka untuk membuat konten orisinal, menjadi diri sendiri, dan apa adanya. Ini sangat berbeda dengan konten televisi yang sudah disiapkan semuanya.

Konten-konten media sosial sebagian besar dibuat oleh individu. Pembuatannya sangat sederhana, bahkan banyak yang tanpa konsep dan persiapan matang. Nyaris tidak ada beban saat membuat konten. Termasuk saat membuat konten berbahaya.

Setiap platform memiliki panduan komunitas yang harus dipatuhi semua pengguna. Salah satunya, tidak membuat konten yang mengandung unsur kekerasan. Pelanggar panduan komunitas ini akan mendapat sanksi berupa peringatan, penurunan atau penghapusan konten, dan larangan menggunakan platform.

Sayangnya, seringkali hukuman tersebut tidak berjalan optimal. “Sudah terlanjur viral,” ujar Hariqo.

Setiap platform, kata Hariqo, melakukan pengamatan pada konten yang diunggah pengguna. Pengamatan dilakukan menggunakan teknologi, juga secara manual. Tapi tetap saja kalah cepat dengan banyaknya konten yang diunggah pengguna setiap hari.

Untuk mengatasi hal itu, platform menyediakan fitur report untuk melaporkan konten bermasalah. Pengguna platform bisa melaporkan konten tersebut untuk kemudian ditinjau oleh platform.

Lagi-lagi, sistem ini punya kelemahan. “Kalau yang melaporkannya hanya satu tidak akan direspons. Kalau (yang report) banyak, baru direspons,” kata Hariqo.

Sistem seperti ini yang membuat konten berbahaya seperti challenge “Malaikat Maut” TikTok masih saja berseliweran. “Tidak ada sanksi yg tegas dari platform,” kata Hario.

Konten berbahaya dalam level yang lebih ringan saja, kata Hariqo, banyak yang tidak paham dan tidak mendapat sanksi. Misalnya membuat konten sambil menyetir mobil tidak pernah ada peringatan dari platform. Para pembuat konten juga tidak menyadari risiko-risiko yang bisa terjadi dari konten semacam itu.

@aal.hafeez nge prenk malaikat maut :v sangat di cintai Tuhan ygy #CapCut #GenerasiHappyTikTokChallenge #UNIQLOHolidayShoppingFestival #fyppppppppppppppppppppppp #fyp #fypp #AQUADULU #masukberanda #xyzbca #you #hiling #hilingkitahiling ♬ suara asli – ig:@riifkyy___13 – ig:@rifky_kms

Konten berbahaya dan rendahnya literasi digital

Hariqo mengatakan, banyak sekali konten berbahaya yang beredar di media sosial. Mulai dari yang dibuat oleh amatir hingga profesional. Konten yang dibuat profesional bisanya disiapkan secara matang. Pembuatannya memakan waktu yang lama. Biasanya di konten tersebut diberi peringatan soal adegan berbahaya dan hanya dilakukan oleh profesional. Tidak boleh meniru adegan tersebut tanpa latihan dan bantuan profesional.

Tidak semua content creator melakukan persiapan yang matang. Banyak yang sekadar ikut-ikutan. Tidak menyadari bahaya dan risiko dari konten yang dibuatnya.

Menurut Hariqo, persiapan dalam pembuatan konten itu penting. Konten sederhana seperti prank juga memerlukan persiapan untuk mengantisipasi reaksi orang lain. Konten prank yang membuat orang lain panik bisa berujung celaka jika tanpa persiapan.

Banyaknya konten berbahaya dan kasus-kasus yang terus berulang ini bukan hanya soal pada content creator. Hariqo melihatnya sebagai masalah pada sistem. “Platform tidak tegas, edukasi juga lemah,” ujarnya.

Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat berbagai usia. Sayangnya, edukasi tentang bagaimana memanfaatkan platform media sosial belum banyak dikuasai orang. Banyak yang tidak tahu tetang apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan di media sosial.

Kepada polisi, remaja ini mengaku mengikuti challenge “Malaikat Maut” TikTok agar terkenal. Ketenaran memang salah satu yang ditawarkan oleh media sosial. Beberapa orang berhasil menjadi terkenal dan kaya dari media sosial, sebut saja Alif “Cepmek” yang jadi bintang iklan setelah kontennya viral di TikTok. Sayangnya, sebagian anak-anak memilih bertaruh nyawa demi berharap bisa mendapatkan ketenaran di dunia maya.

Selama ini generasi Z dianggap sebagai digital native dianggap lebih melek digital. Namun, asumsi ini tidak selalu benar. “Dugaan generasi muda cerdas berinternet kan ternyata tidak juga,” ujar Hariqo.

Ia mengatakan, platform bertanggung jawab mengatur membuat aturan main yang harus dipatuhi pengguna. Platform harus tegas menegakkan aturan yang sudah dibuatnya.

Di lain sisi, pemerintah bisa ambil bagian untuk mengingatkan platform. Bagaimana agar platform bisa membuat sistem yang lebih baik sehingga bisa meminimalisir produksi konten berbahaya. [*]

One thought on “Challenge Malaikat Maut TikTok, Bagaimana Tanggung Jawab Platform?

  1. Pingback: Ngemis Online di TikTok, Mengapa Mereka Rela Melakukannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *