Menanamkan Cinta pada Diri Sendiri Sejak Dini Itu Penting, Mama!

Sebagai orangtua terkadang kita lupa untuk menanamkan cinta pada diri sendiri. Padahal, mencintai diri sendiri adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan.

Mencintai diri sendiri merupakan wujud syukur kepada Sang Pencipta. Menanamkan rasa cinta pada diri sendiri sejak dini kepada anak memang tidak mudah. Sebelum kita sebagai orangtua mengajarkan hal tersebut kita juga harus terlebih dulu bisa mencintai diri kita sendiri. Karena orang yang bisa mencintai dirinya sendiri pasti akan memberikan hal positif kepada orang lain, terutama buah hati kita.

Mencintai diri sendiri pun pernah dikampanyekan oleh UNICEF bersama BTS, grup band asal Korea. Beberapa artis tanah air juga gencar mengkampanyekan hal tersebut. Seperti, Marshanda, Tara Basro, Ariel Tatum, Rini Wulandari, Angela Gilsha dan Tatjana Saphira.

Lalu, bagaimana mengajarkan rasa mencintai diri sendiri sejak dini kepada anak? Berikut penjelasannya.

Dikutip dari webisite resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Pendidikan Tinggi ada beberapa strategi sederhana untuk menanamkan rasa cinta pada diri sendiri kepada anak:

1. Berikan empati

Anak akan merasa frustrasi apabila ia tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa dilakukan temannya. Di saat ia berkata, “Saya tidak bisa berhitung secepat Ardi,” maka tunjukkan rasa empati dan kemudian tekankan salah satu kekuatan yang ia punya. Misalnya, dengan memberi tahu bahwa Ardi memang pintar berhitung, tetapi kamu pandai melukis.

Apa yang orangtua katakan dapat membantunya belajar bahwa semua orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Ia akan menyadari bahwa tidak perlu menjadi sempurna untuk merasa baik tentang dirinya.

2. Berikan cinta tanpa syarat

Katakana pada anak, “Bunda mencintaimu, tak peduli siapa dirimu dan apa yang kamu lakukan.” Maka anak akan merasa diuntungkan ketika anda bisa menerima dia apa adanya tanpa melihat kekuatan, kesulitan, perangai, ataupun kemampuan yang ia miliki. Jadi istimewakan anak dengan cinta, beri dia banyak pelukan, ciuman, dan belaian lembut pada pundaknya. Jangan lupa untuk selalu memberitahu betapa kita mencintainya.

3. Dengarkan dengan baik

Jika anak sedang berusaha memberi tahu sesuatu, berhentilah sejenak dan dengarkan apa yang ia katakan, meski kita tidak mengerti semua perkataannya. Ia perlu menyadari bahwa pemikiran dan perasaannya dihargai. Bantu ia merasa nyaman dengan emosi yang ia rasakan dengan membicarakannya.

Dengan menerima emosi yang ia rasakan, memahami perasaannya dan menunjukkan bahwa apa yang ia katakan ternyata dihargai. Nantinya ia akan merasa percaya diri untuk mengungkapkan perasaannya sendiri.

4. Tanamkan keberanian mengambil risiko

Motivasi anak untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru, seperti mencoba makanan yang berbeda, menemukan teman baru, atau mengendarai sepeda. Tentunya ada kemungkinan anak akan mengalami kegagalan, tetapi kesempatan untuk berhasil menjadi kecil jika tidak ada resiko yang harus diambil.

Misalnya, cobalah untuk tidak menengahi ketika anak mulai frustrasi saat mencari mainan barunya. Hal itu akan menumbuhkan ketergantungan dan mengurangi kepercayaan dirinya. Bangun penghargaan dirinya dengan menyeimbangkan kebutuhan orang tua untuk menjaganya dengan kebutuhan untuk mengatasi tugas baru.

5. Biarkan kesalahan terjadi

Di saat anak sudah mendapat keberanian untuk mengambil risiko, kemungkinan baginya untuk melakukan kesalahan semakin terbuka lebar. Kesalahan yang ia lakukan merupakan pelajaran berharga untuk membangun kepercayaan dirinya.

Misalnya, bila anak meletakkan piring terlalu ke pinggir meja lalu terjatuh dan pecah, coba beri ia dorongan untuk berpikir tentang apa yang seharusnya ia lakukan di lain waktu agar tidak terjadi lagi. Dengan begitu, penghargaan terhadap dirinya tidak akan menurun dan ia akan memahami bahwa tidak apa sesekali berbuat kesalahan.

6. Ajarkan batasan-batasan

Tetapkan peraturan-peraturan yang masuk akal bagi anak. Misalnya, beri peraturan untuk makan di ruang makan. Jadi jangan biarkan anak makan di ruangan lain.

Mengetahui peraturan yang berlaku di keluarga membuat anak merasa terlindungi, tetapi diperlukan pengulangan yang konstan hingga ia dapat mulai menjalaninya sesuai ekspektasi. Bersikaplah jelas dan konsisten.

7. Jangan membandingkan

Komentar seperti, “Kenapa kamu tidak bisa bersikap sopan seperti Budi?” hanya akan membuat anak merasa buruk tentang dirinya sendiri. Meskipun memberikan perbandingan yang positif, seperti “kamu adalah pemain terbaik” tetap akan berpotensi merusak karena seorang anak dapat mengalami kesulitan untuk menjalani hidupnya dengan citra semacam ini.

Anak akan lebih menghargai dirinya sendiri jika kita sebagai orang tua menghargai dirinya karena keunikan individual yang ia miiki. Jadi jangan membandingkan ia dengan yang lain.

8. Rayakan pencapaian nilai positif

Sebagai orang tua perlu menyebutkan prestasi anak dengan spesifik. Seperti, “Terima kasih telah menunggu antrian dengan sabar, ya”, daripada hanya mengatakan, “Itu bagus”. Hal seperti itu akan meningkatkan pencapaian dan penghargaan diri yang ia rasakan, serta membuat ia mengetahui dengan tepat apa yang telah ia lakukan.

9. Berikan dukungan

Dukungan berarti menyadari kemajuan yang dicapai dan bukan hanya menghargai sebuah prestasi. Ada perbedaan antara pujian dan dukungan. Pujian itu mengapresiasi tugas yang dilakukan, sedangkan dukungan menghargai orang yang melakukannya. Kata-kata seperti “kamu berhasil melakukannya” adalah pujian, sedangkan “aku bangga padamu” adalah dukungan.

Perlu diingat, terlalu banyak pujian dapat melemahkan penghargaan diri karena menciptakan tekanan untuk tampil baik menurut pandangan orang lain. Jadi bagikan pujian dengan bijaksana dan berikan dukungan dengan murah hati. Melakukan keduanya akan membantu anak tumbuh dengan perasaan positif terhadap dirinya.

Hadiah terbaik yang dapat diberikan pada anak adalah mencintai diri sendiri. Jika sebagai orangtua memiliki tujuan hidup, dapat menjalani hidup sebagai individu dan didorong melalui bagaimana cara kita hidup, bicara, mencintai, dan mengekspresikan diri, maka anak-anak pun akan mengikutinya. Mereka akan hidup dengan standar cinta yang kita miliki untuk diri sendiri dan disiplin yang ditanamkan di rumah.

Mencintai diri sendiri adalah hal yang perlu diajarkan sejak dini, agar disaat dewasa nanti anak akan memberikan hal-hal yang positif kepada orang lain.

Seperti yang dijelaskan Psikolog Selaras Pesona Indonesia, Sahening Dian pada Kanal Youtube Bincang Sehati. Mencintai diri sendiri bisa diartikan dengan suatu proses ketika seseorang membawa dirinya di lingkungan sosial atau pun di mana saja berada itu sebenarnya tidak akan lepas dari konsep dirinya sendiri, cara pandang dirinya sendiri sangat mempengaruhi kesan yang orang lain lihat tentang dirinya.

“Mencakup bagaimana dia menerima dirinya secara keseluruhan beserta dengan seluruh kekerungannya,” katanya.

Ia menuturkan bentuk mencintai diri sendiri itu ketika seseorang cukup bisa memahami siapa dirinya, kekurangannya apa, kelebihannya apa.

“Kemudian dari situ dia bisa meresakan penerimaan tentang dirinya secara utuh, sehingga itu menjadi matang,” ujarnya.

Masih dikatakannya, seseorang yang mencintai dirinya sendiri pun bisa dilihat ketika seseorang tersebut cukup tenang apabila mengalami kegagalan, tidak menyalahkan dirinya dengan sepenuhnya.

“Dia memandang jika kegagalan itu sebuah proses yang belum selesai dan bisa diperbaiki kembali,” tuturnya.

Kemudian, lanjut Dian, ketika berhadapan dengan orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan tentunya seseorang itu akan lebih bisa menerima dengan lapang dada.

“Dia akan lebih positif dibandingkan orang yang tidak mencintai dirinya sendiri,” ucapnya.

Dian membandingkan, jika seseorang tidak bisa mencintai dirinya sendiri, ia tidak akan pernah mengenali dirinya hanya fokus dengan kelebihan-kelebihan orang lain sehingga seseorang itu tidak mensyukuri apa yang ada di dalam dirinya.

“Jadi jika dia berinteraksi dengan orang lain menjadi tidak enak. Artinya, banyak menyalahkan dirinya sendiri, kemudian melupakan potensi-potensi yang dia miliki. Padahal, potensi itu bisa dikembangkan dengan seoptimal mungkin. Dampaknya, bisa menghambat kesuksesannya,” katanya.

Ia menambahkan, seseorang yang tidak mencintai dirinya sendiri tidak akan memberikan kebaikan, memiliki konsep yang tidak baik dalam dirinya, atau pun tidak bisa memberikan cintanya kepada orang lain.

“Jika berinteraksi pun akan memiliki cara pandang yang sama tentang dirinya sendiri. Akan sulit menerima kekurangan orang lain baik pasangan maupun teman,” ujarnya.

Dampak Tidak Mencintai Diri Sendiri

Seperti yang dikutip dari Hellosehat, dampak yang muncul akibat tidak mencintai diri sendiri adalah sebagai berikut:

1.Makan secara berlebihan

Salah satu bahaya yang bisa ditimbulkan dari kebencian terhadap diri sendiri adalah makan berlebihan.

2. Tidak percaya diri dan insecure

Selain makan berlebihan, benci terhadap diri sendiri juga menyebabkan perasaan insecure dan tidak percaya diri terus muncul. Pasalnya, perasaan benci ini dapat muncul akibat terlalu sering mengkritik diri sendiri.

Akibatnya, ketika Anda terlalu sering mendengarkan kritikan tersebut, perasaan tidak aman dan ketidakpercayaan diri pun akan terus timbul.

Misalnya, ketika Anda menerima pujian, Anda merasa tidak berhak mendapatkan pujian tersebut karena kurang percaya diri.

Padahal, usaha dan kerja keras Anda selama inilah yang membuat orang lain memberikan pujian tersebut.

3. Merusak hubungan dengan yang mencintai Anda

Salah satu dampak yang cukup berbahaya saat Anda benci terhadap diri sendiri adalah rusaknya hubungan dengan orang yang menyayangi Anda.

Pada saat Anda membenci diri sendiri, secara tidak langsung perasaan bahwa Anda tidak berhak menerima kasih sayang dari orang lain pun muncul.

Kebencian tersebut akan terus tumbuh, sehingga Anda kesulitan menerima cinta dari orang lain.

Dampak ini mungkin disebabkan oleh salah satu faktor yang menyebabkan Anda membenci diri sendiri, misalnya trauma masa kecil.

Contoh, anak yang mengalami kekerasan emosional dari orangtua atau keluarganya biasanya merasa tidak berharga.

Hal ini mungkin disebabkan oleh ucapan yang terlontar dari mulut orangtuanya sendiri, seperti merasa menyesal karena telah melahirkan anak seperti ini.

Akibatnya, kata-kata tersebut terus terngiang dalam pikirannya dan berkembang menjadi kebencian terhadap dirinya sendiri. Pada akhirnya, orang yang membenci diri sendiri mungkin terjebak dalam lingkaran setan.

Tidak dapat menerima kasih sayang dari orang lain, sehingga cenderung memilih teman atau pasangan yang sering tidak menghargainya.

Mulai sekarang, cobalah untuk mengurangi perasaan benci terhadap diri sendiri karena hanya akan memperburuk kualitas hidup Mama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.