Peneliti BRIN Eksperimen Air Campur Pati untuk Padamkan Kebakaran Lahan Gambut

ilustrasi video edukasi karhutla
Share

digitalmamaID — Apakah Mama percaya tepung singkong bisa memadamkan api? Dari tayangan simulasi yang banyak berseliweran di media sosial, tepung bisa memadamkan api. Sayangnya, hanya untuk api skala kecil. Tapi untuk skala besar, belum tentu.

Ini juga yang menjadi perhatian netizen saat presiden beberapa waktu lalu memerintahkan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dengan tepung. Benarkah apinya bisa padam? Terlebih kebakaran sebagian terjadi di lahan gambut.

Lewat kanal YouTube BBC News Indonesia, ahli matermatika iklim dan dosen di Universitas Udayana Ida Bagus Mandhara Brasika (Nara) menjelaskan, penggunaan tepung singkong untuk memadamkan kebakaran hutan adalah tidak tepat. Langkah itu juga bisa menimbulkan masalah baru apalagi jika diaplikasikan di lahan gambut yang terbakar. Hal ini karena api berada di bawah permukaan lahan dan sulit ditembus.

Selain itu, tepung itu sangat halus, sehingga sulit melakukan infiltrasi ke dalam tanah. Sedangkan api yang justru berbahaya itu berada di dalam tanah dan lebih sulit dipadamkan.

Nara menjelaskan, penggunaan tepung untuk memadamkan kebakaran bisa memicu ledakan, karena tepung mudah bereaksi terhadap api. Di mana karbohidrat palagi terlepas dalam bentuk butiran halus reaksi secara alami dengan api.

Lagipula, katanya, bubuk tepung singkong atau ubi itu berbeda dengan bubuk yang ada di dalam alat pemadam kebakaran (fire extinguisher). Meski sama-sama berupa serbuk dan berwarna putih, justru akan bahaya kecuali nanti ada penjelasan ilmiah lebih jauh.

Ditambah, Nara sendiri juga belum pernah melihat pengaplikasian penggunaan tepung dalam pemadaman kebakaran hutan di seluruh dunia. Sehingga menurutnya, solusi terbaik dalam mengatasi kebakaran hutan adalah menggunakan air tapi bukan dengan asal siram.

Dikatakan, yang paling penting dalam memadamkan kebakaran lahan gambut adalah menutup kanal-kanal sehingga air bisa menggenang di lahan gambut agar api lekas padam. Kementerian Kehutanan saat ini sudah punya peta lahan gambut sehingga mereka seharusnya sudah tahu di mana saja lokasi gambut termasuk kanalnya.

Penelitian BRIN tentang starch

Inovasi berbeda datang dari peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tepung (pati) singkong, atau biasa disebut starch, bisa memadamkan kebakaran lahan gambut dengan lebih efektif.

Dr. Julinton Sianturi, peneliti di Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN menjelaskan, metode ini dinilai lebih efektif daripada air biasa, terutama untuk kebakaran di lahan gambut. Pada suhu tinggi, air biasa cenderung menguap sebelum memadamkan api dan menghasilkan oksigen yang memicu pembakaran lebih lanjut, sehingga membutuhkan air dalam jumlah berkali-kali lipat.

“Sebaliknya, formula pati singkong ini mampu mengatasi panas di permukaan sekaligus menghentikan bara api yang tersimpan di dalam pori-pori tanah gambut,” tuturnya ketika dihubungi melalui telepon seluler, pekan lalu.

BRIN sedang meneliti penggunaan starch sebagai campuran bahan pemadam api. Metode ini tidak menggunakan tepung secara langsung dalam skala besar, melainkan mencampurnya dengan amonium polifosfat (ammonium polyphosphate/APP), wetting agent, dan air hingga membentuk cairan terdispersi.

Saat terkena panas tinggi, amonium polifosfat terdekomposisi menjadi asam fosfat dan amonia. Asam fosfat kemudian bereaksi dengan pati singkong pada suhu tinggi untuk menghasilkan char (karbon hasil dekomposisi). Char ini berfungsi menahan panas, menghambat penyebaran api, serta memblokir akses oksigen baik di permukaan maupun di bawah tanah.

Formula cairan inilah yang akan diaplikasikan untuk memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan. Julianton mengatakan riset ini sedang dalam tahap investigasi formulasi.

BRIN juga bekerja sama dengan Polri untuk melakukan uji eksperimen skala besar menggunakan drone. Dikatakan estimasi kapasitas drone yang dibutuhkan berukuran besar sekira 2.000-5.000 liter untuk memadamkan kebakaran lahan seluas 1 hektare. “Karena belum diuji coba, kami belum bisa memastikan daya padam drone dengan cairan starch ini. Namun berdasarkan literatur, bisa dipalikasikan dengan cepat dalam hitungan menit,” ujarnya.

Sejauh ini, kebutuhan anggaran untuk memadamkan 3.965 titik kebakaran hutan di Kalimantan adalah skitar Rp56 miliar dengan 10 hingga 20 unit drone berkapasitas besar.

Saat ini, Polri baru menyediakan satu drone simulasi dengan kapasitas di bawah 2.000 liter. Kendala lainnya adalah sulit mendapatkan pasokan amonium polifosfat karena belum diproduksi di Indonesia, sehingga harus mengimpor dari Cina. Bahan tersebut diperkirakan tiba dalam 1 hingga 2 minggu untuk segera diuji coba.

“Kami sebenarnya sangat membutuhkan bantuan dari pihak terkait terutama dalam penyediaan APP yang di Indonesia itu belum ada. Sehingga harus impor dari luar. Bisa juga karena kami ada keterbatasan informasi. Mungkin dari pihak pemerintah atau pihak swasta yang memiliki informasi tentang ini bisa berkomunikasi dengan tim kami untuk penyediaan bahan dalam waktu cepat,” katanya. [*]

One thought on “Peneliti BRIN Eksperimen Air Campur Pati untuk Padamkan Kebakaran Lahan Gambut”

  1. Pingback: Karhutla Berulang, Tanggung Jawab Siapa? - digitalMamaID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE