Pasar Kolaboraya 2026: Merawat Perubahan Lewat Relasi dan Kepercayaan

Pasar Kolaboraya 2026
Share

digitalMamaID — Semangat perubahan sering kali diasumsikan lahir dari satu ide paling cemerlang atau satu sosok yang terlihat bekerja paling keras. Padahal, perubahan sosial jarang bisa tumbuh sendirian, melainkan di dalamnya ada peran banyak kepala yang tetap memilih untuk saling terhubung, berbagi sumber daya dan menjaga agar gerakan tetap hidup.

Berangkat dari semangat tersebut, Roemah Inspirit mengembangkan Kolaborasi Raya (Kolaboraya), sebuah pendekatan berbasis ekosistem yang membuka ruang belajar bagi para penggerak perubahan. Pendekatan ini kembali dihadirkan melalui Pasar Kolaboraya 2026 yang berlangsung pada 1 – 3 September 2026 di Jakarta.

Perjalanan Pasar Kolaboraya sendiri dimulai pada 2024 di Jakarta. Menggunakan konsep Ekosistem Hutan Hujan Tropis, penyelenggaraan pertama ini memperkenalkan cara kerja berbasis ekosistem kepada lebih dari 120 kreator perubahan sosial. Setahun kemudian, Pasar Kolaboraya 2025 hadir di Yogyakarta dengan konsep Jejaring Miselium Raya dan mempertemukan sekitar 700 peserta, termasuk 82 Ecosystem Builders dari 26 ekosistem gerakan sosial.

Pasar Kolaboraya 2026

Memasuki 2026, Pasar Kolaboraya melanjutkan perjalanan tersebut dengan mengajak 46 Ecosystem Builders menyelami pendekatan ekosistem secara lebih mendalam. Mereka diajak tidak hanya membangun jejaring, tetapi juga merawat relasi, menumbuhkan kepercayaan, dan merancang aksi kolektif yang dapat terus bergerak secara berkelanjutan.

Setiap orang punya peran

Mama pasti tidak asing bahwa kehidupan di rumah tidak bisa berjalan jika seluruh tanggung jawab bertumpu pada satu orang. Ada yang mengambil keputusan, menjaga suasana tetap tenang, mengatur kebutuhan, hingga memastikan setiap anggota keluarga merasa didengar. Begitu pula dalam sebuah ekosistem gerakan sosial.

Pasar Kolaboraya mengkurasi 8 peran penting dalam ekosistem untuk ikut serta, yaitu Community Spark Plug, Network Weaver, Adaptive Leader, Collaborator Conductor, Wellbeing Caregiver, Movement Connector, Resource Orchestrator, serta Narrative Weaver and Sensemaker. Communication Staff dari Roemah Inspirit, Gabriela Yesenia menjelaskan, “Ada yang namanya ecosystem builder, ada juga ecosystem feeder, itu yang melengkapi ekosistem lah, orang-orang yang ga ada di ekosistemnya tapi melengkapi mereka, contohnya di hubungan yang transaksional atau transformasional”.

Pembagian ini bukan untuk mengotak-ngotakkan seseorang, melainkan membantu peserta mengenali kekuatan dan potensinya. Dengan memahami peran masing-masing, setiap orang dapat melihat kontribusi yang bisa diberikan dalam sebuah gerakan.

Inisiatif kolaborasi dari peserta untuk perempuan

Sejumlah gagasan kolaborasi lahir dari keresahan yang dekat dengan kehidupan perempuan. Wilda, misalnya, menginisiasi gerakan “Ibu Kadang-kadang” setelah melihat banyak ibu merasa kesepian, tetapi juga dihantui rasa bersalah ketika ingin mengambil jeda. “Ibu kadang-kadang merasa capek itu nggak apa-apa, kadang-kadang istirahat nggak apa-apa, butuh olahraga nggak apa-apa, dan kadang-kadang nggak melakukan apa-apa juga nggak apa-apa,” ungkapnya. Gerakan ini rencananya akan menghadirkan kampanye naratif melalui media sosial, ruang berbagi dan belajar, hingga program sister date.

Pasar Kolaboraya 2026

Sementara itu, Iva membawa inisiatif untuk memperkuat ruang aman bagi perempuan akar rumput melalui Sekolah Perempuan. “Kami memaknai bahwa ruang itu ternyata nggak netral. Banyak sekali perempuan dengan berbagai macam masalah, tidak hanya kekerasan, yang masih minim mendapatkan ruang, baik ruang fisik maupun ruang digital,” tuturnya. Melalui inisiatif ini, Iva ingin mempermudah arus informasi dari perempuan akar rumput agar dapat diolah dan disuarakan sebagai informasi publik.

Inisiatif kolaborasi lainnya

Membawa isu dari kalangan anak muda, Syafira ingin membuka ruang belajar lintas generasi bagi anak muda. “Saya ingin memfasilitasi teman-teman yang masih muda dan masih bingung menentukan framework yang efektif untuk isu masing-masing agarbisa belajar dari orang-orang yang lebih senior, supaya mendapat banyak insight dan pengetahuan untuk berkembang,” jelasnya.

Adapun Syekhoh menghubungkan sustainable fashion dengan pemberdayaan petani. “Kita di sini mau petani-petani ini berdaya secara maksimal, mandiri secara ekonomi sehingga kita bener-bener nemenin mereka dari benih itu ada sampai akhirnya tercipta sustainability,” ujarnya.

Petani akan dikenalkan pada sains dan bahan kimia dengan cara sederhana agar mereka dapat terbekali dan memahami ilmu dasarnya yang pada akhirnya mereka dapat berpikir untuk memaksimalkan peluang.

Perhatian terhadap kesehatan mental dibawa oleh Rina melalui gagasan sistem perawatan kolektif bagi penggerak perubahan. “Aku adalah seorang wellbeing caregiver, waktu Covid dulu aku kena mental health, waktu itu di organisasi kaya belum punya sistem yang pas malah memperburuk toksik,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Rina menyadari bahwa seseorang yang sedang terpuruk sering kali tidak memiliki support system yang memadai. Sebagian merasa malu untuk bercerita, sementara layanan profesional masih terasa terlalu eksklusif. Oleh karena itu, ia ingin membangun sistem perawatan kolektif berbasis komunitas dan kekayaan leluhur melalui seni serta percakapan bermakna.

Dari ide menuju aksi bersama

Selama 3 hari, peserta mengikuti rangkaian yang dibangun melalui konsep connect, collaborate, dan change. Pada tahap connect, peserta melepaskan sejenak identitas kelembagaan dan mengenali perannya sebagai ecosystem builder. Tahap collaborate mengajak mereka memetakan para ecosystem feeder yang mereka punya dan merumuskan big bet sebagai gagasan aksi kolektif. Selanjutnya, pada tahap change, peserta menguji gagasan melalui klinik ekosistem, menyusun peta jalan strategis, dan menghimpun dukungan untuk mewujudkannya.

Rangkaian tersebut bermuara pada Pasar Ide, sebuah ruang bagi para ecosystem builders untuk memperkenalkan gagasan sekaligus menemukan dukungan yang dibutuhkan. Dari ruang inilah, ide yang awalnya tumbuh dari keresahan personal memiliki peluang untuk berkembang menjadi aksi kolektif. Hal ini penting agar kolaborasi tidak berhenti pada pertemuan dan pertukaran kartu nama, tetapi terus bergerak setelah acara selesai.

Perubahan bisa dimulai dari keresahan yang sangat dekat dengan keseharian. Namun, keresahan tersebut baru dapat tumbuh menjadi gerakan ketika ada orang-orang yang bersedia mendengarkan, saling percaya, dan berbagi daya. Seperti halnya kehidupan di rumah, perubahan tidak perlu ditanggung sendirian. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE