Merawat Ingatan Seniman Karnedi dalam Mencintai Indonesia

Share

digitalMamaID — Ada banyak cara untuk merawat ingatan. Arsip dan dokumentasi salah satunya. Dan seniman Karnedi melakukannya, tidak di ruang tertutup, tetapi membuka lebar pintu rumahnya untuk dikunjungi siapa saja dengan hidangan ala kadarnya.

Karnedi Nataatmaja mengaku sebagai seniman otodidak. Artinya, ia tidak menempuh bangku pendidikan formal untuk menajamkan bakat seninya. Ia melakukannya dengan mengalir, seiring zaman, mengikuti arus perubahan, berselaras dengan hiruk pikuk masyarakat di sekelilingnya.

Mengenal seniman Karnedi

Lahir di Cibatu, Garut, tahun 1924, Karnedi mulai melukis secara serius tahun 1949. Pada akhir 1949, ia bekerja di sebuah percetakan juga untuk memperdalam teknik cetak lithografi. Pertengahan 1950 ia bekerja lepas sebagai ilustrator dan desainer grafis.

Sampul hari pertama Pos dan Giro tahun 1951-1961 adalah hasil desainnya. Ia juga memimpin Akademi Seni Rupa Jiva Mukti pada tahun 1951-1956. Juga menjadi ilustrator buku sekolah dan buku edukasi terbitan GANACO dan TARATE

Sempat aktif di badan perjuangan PESINDO pada tahun 1945 di bidang logistik dan palang merah. Ia aktif membuat poster-poster perjuangan pembakar semangat di masa itu. Saat peristiwa Bandung Lautan Api, ia berada di dapur umum dan membantu mengevakuasi dan memobilisasi warga. Melihat pengalaman itu, ia menuangkannya ke dalam karya. Karyanya, meski seringkali terpengaruh perubahan, selalu jujur dengan potret sosial. Seakan menunjukkan, seniman juga berjuang bagi negara dengan kemampuannya.

Open house Hari Kemerdekaan RI

Sejak 1980, Karnedi mulai melukis secara intensif untuk mencurahkan pikiran dan perasaanya. Namun tak seperti rekan-rekan seniman seangkatannya, nama Karnedi seakan jauh dari sorotan. Hampir sulit ditemukan jejak linimasa karyanya yang tercatat rapi dalam lembaga. Meski hasil karyanya memenuhi rumah sekaligus studionya.

Namun, Karnedi dan karyanya hidup dalam ingatan orang di sekitarnya. Keluarga, kolega, juga tetangga di rumah lamanya di Cicendo dan warga sekitar Jatihandap, tempat tinggal terakhirnya sebelum berpulang pada 2003. Ingatan itu dirawat Karnedi melalui open house yang konsisten ia gelar setiap Agustus.

“Katanya, dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan RI. Hampir setiap tahun pameran melalui open house di rumah. Yang diundang bukan eksklusif seniman saja, tapi semua orang, termasuk tetangga dan warga sekitar,” ujar salah seorang cucu Karnedi yang juga seniman, Terranova Waksman.

Masyarakat bisa turut menikmatinya lewat Pameran Rekonstruksi Arsip Karnedi Nataatmaja di Tjap Sahabat, Cibadak, Bandung. Pameran ini dibuka tepat pada 17 Agustus lalu dan akan berlangsung sampai 30 Agustus 2026.

Karnedi Nataatmaja adalah perupa, ilustrator, fotografer, dan desainer serba bisa dari lingkungan seni rupa Bandung. Melalui gambar, furnitur, hingga lukisan, ia aktif merekam kehidupan warga, ruang domestik, serta perubahan sosial-politik dengan cara yang sederhana namun tetap relevan hingga kini sebagai catatan visual untuk membaca ulang kondisi masa kini. Pameran bertajuk “Hidangan ala Kadarnya” ini diselenggarakan bertepatan dengan momen 17 Agustus untuk menghidupkan kembali tradisi Karnedi pada dekade 1990-an.

“Saya memanggil beliau, Aki. Seingat saya, saat datang ke pameran itu saya senang karena banyak teman main. Pameran ini diberi judul Hidangan ala Kadarnya, karena saat menyiapkan pameran ini, kami menemukan undangan formal yang dikirimkan Aki kepada koleganya. Dituliskan, Aki mengundang mereka untuk datang dan melihat karyanya dengan hidangan ala kadarnya” ujar Terra.

Saat pembukaan pameran, Terra mengatakan banyak tetangga lama kakeknya itu datang berkunjung, melepas kangen, dan membangkitkan kenangan lama. Ide Karnedi saat berkarya seringkali mengikuti tren saat itu, termasuk situasi sosial dan politik. Tak hanya mencermati isu di negara sendiri, tapi juga update situasi internasional. Bahkan, di masa tuanya Karnedi juga masih mengusung beberapa isu-isu yang relevan untuk sampai saat ini soal politiknya, termasuk era krismon 1998.

“Aki itu banyak bereksplorasi. Yang saya perhatikan karya beliau berubah-ubah. Tahun 1950an, awal-awal dia belajar kebudayaan termasuk seni rupa modern Bandung. Tahun 1970-1980an lebih banyak menggambarkan situasi sosial. Dan 90an akhir banyak mengkritik soal politik. Beliau memang update karena hobinya nonton berita di TV. Ketika kecil saya kadang kesal karena jadi enggak bisa nonton kartun. Tapi dampak lainnya, saya jadi ikutan nonton berita juga,” kata Terra.

Tentang perempuan

Penulis dan sastrawan yang juga kerabat Karnedi, Ratna Ayu Budhiarti menulis dalam kata pengantar pameran ini jika hal yang paling ia ingat adalah cara Karnedi memandang perempuan. “Beliau sangat menghargai dan mengagumi perempuan. Sosok   perempuan hadir dalam banyak lukisannya, mulai dari ibunya, Ocin Karnesih, hingga istri yang dicintai hingga akhir hayat, Hetty Joewati Oedit,” katanya.

Ada pula lukisan becak bersama pengayuhnya dan seorang perempuan duduk di kursi penumpang berdampingan dengan sayuran, sementara di bagian bawah badan becak tertulis: “Ohh nasib”. Sebagai penikmat lukisan yang amatir, Ratna menangkapnya sebagai suara orang-orang kecil yang sedang menjalani hidup. Becak terus bergerak, roda terus berputar, dan manusia pun harus terus mengayuh roda nasib untuk sampai ke tujuan.

Dia menilai, Karnedi adalah pelukis yang memiliki perhatian sosial kuat. Namanya mungkin tidak seterkenal beberapa kawan seangkatannya, tetapi agaknya itu tidak jadi soal. Beliau terus melukis dan secara rutin menyelenggarakan pameran, terutama bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Indonesia setiap tahun. Bahkan pameran-pameran tersebut dibiayai dari koceknya sendiri.

“Pernah saya bertanya mengapa ia tetap melakukan semua itu. Jawabannya menohok. “Saya tidak peduli ada lukisan yang dibeli atau tidak. Ini adalah cara saya mencintai Indonesia”. Kalimat itu mungkin menjadi salah satu cara terbaik untuk memahami Karnedi. Baginya, melukis bukan semata-mata pekerjaan atau usaha mendapatkan pengakuan. Melukis adalah cara berpikir, cara berbicara, bahkan cara mencintai,” ujar Ratna.

Mei suling pengelola galeri seni dan pemilik Tjap Sahabat menjelaskan alasannya menggelar pameran untuk diingat generasi muda saat ini. Bahwa di samping beberapa nama-nama seniman yang besar ada nama Pak Karnedi yang sangat aktif berkarya.

“Sebetulnya, saya sudah terpikir sejak akhir tahun lalu ingin membuat sebuah pameran arsip, tapi memang belum ada pengalaman. Bertepatan dengan 2 bulan lalu, Terra datang mengajukan niat untuk memamerkan arsip karya ilustrasi kakeknya. Karena waktunya sempit, jadi tidak bisa disebut pameran arsip, kami kemudian sepakat menyebutnya sebagai pameran rekonstruksi arsip,” tutur Mei.

Menurutnya, figur Pak Karnedi ini menarik sekali karena beliau pada masanya menjalankan dua fungsi. Sebagai ilustrator, dan juga sebagai seniman. Karena itu, karyanya banyak sekali dan belum pernah dinikmati generasi sekarang.

Ingatan komunikatif

Dalam essai kuratorialnya, antropolog Wibisono Tegar Guna Putra yang juga sebagai kurator pada pameran ini mengemukakan rasa penasarannya pada rekam jejak Karnedi. Mengapa bahan pustaka tentang Karnedi Nataatmaja begitu sulit ditemukan? Bukan karena ia tidak pernah berkarya, tapi karena Karnedi bukan seniman lulusan sekolah seni. Sehingga, ingatan akan karyanya lebih banyak diwujudkan dalam memori kolektif yang hidup lewat percakapan sehari-hari, cerita yang dituturkan ulang dari mulut ke mulut, dan bertahan selama masih ada orang yang secara langsung mengalaminya.

“Karnedi tampaknya hidup terutama di dalam ingatan komunikatif. Sehingga ‘dekat’ menjadi kata yang menjadi konsep pameran ini. Karnedi diingat sejauh ada keluarga yang menyimpan lukisannya di ruang tamu, sejauh ada tetangga yang masih ingat datang ke rumahnya setiap Agustus, sejauh ada cucu yang masih bisa menceritakan bagaimana ia menjelaskan segala sesuatu,” katanya.

Tetapi di sinilah persoalannya. Ingatan komunikatif bergantung pada daya tahan ikatan sosial yang menopangnya. Sudah lebih dari seratus tahun sejak ia lahir, sehingga dalam konteks ini, pameran rekonstruksi arsip terasa seperti sebuah upaya yang berpacu dengan waktu.

Karena itu, “hidangan ala kadarnya” tidak perlu dibaca sebagai representasi tunggal dari kerendahan hati. Ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai jejak seorang seniman yang membangun hubungan dengan penonton melalui kedekatan, bukan melalui jarak institusional. Ia tidak harus berada di ruang besar untuk membuat orang datang.

Karnedi tidak menangkap “Indonesia” terutama dalam bentuk yang besar. Ia menangkap orang-orang yang kebetulan sedang hidup di dalamnya. Karena itu, karya-karyanya tidak hanya dapat dibaca sebagai dokumen tentang suatu masa.

Pameran rekonstruksi arsip ini, bukan semata-mata usaha untuk menyelamatkan seorang seniman dari lupa. Pada akhirnya, yang sedang dipindahkan bukan hanya lukisan, foto, katalog, atau undangan dari ruang keluarga ke ruang pamer. Yang sedang dipindahkan adalah sebuah cara mengingat.

Ingatan Karnedi, sosok seniman dan ilustrator yang dekat dengan fenomena sosial. Saat berkarya ilustrasi, banyak dimuat di buku cerita atau buku yang dekat dengan masyarakat, seperti cara membuat kecap, bertanam pepaya, dan sebagainya.

Setelah 23 tahun lamanya, para cucu membuka kembali arsip dan melihat ulang karyanya. Berangkat dari ungkapan khas pada undangannya yang hangat dan tanpa pretensi, pameran ini tidak hanya memajang karya seni, tetapi juga merekonstruksi suasana rumah, kebersamaan, dan relasi sosial yang menghidupi perjalanannya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE