Teknologi Bukan Musuh, Membangun Digital Wellbeing Remaja

buku saku digital wellbeing remaja
Share

digitalMamaID – Digital wellbeing remaja perlu mendapat perhatian serius di era ketika internet dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di balik manfaat teknologi, remaja juga menghadapi berbagai risiko, mulai dari FOMO, perbandingan sosial, hingga gangguan kesehatan mental.

Pernahkah Mama merasa khawatir ketika melihat anak dan remaja menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar? Hal itu kini semakin banyak dirasakan oleh orangtua. Di era ketika remaja tumbuh sebagai digital native, dunia digital bukan lagi sekadar tempat untuk mencari hiburan. Ruang digital juga menjadi lingkungan tempat mereka bertumbuh.

Besarnya keterlibatan anak dan remaja di ruang digital juga tercermin dari data yang disampaikan Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital, Yudi Syahrial. “Sebanyak 229 juta masyarakat Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Sekitar 42 persen penggunanya berusia di bawah 18 tahun,” ujarnya di Tangerang Selatan, Selasa 30 Juni 2026

Angka tersebut menunjukkan, ruang digital kini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak dan remaja. Oleh karena itu, ruang digital idealnya menjadi lingkungan yang aman dan mendukung proses tumbuh kembang mereka. Namun, seperti halnya dunia nyata, ruang digital juga menyimpan berbagai tantangan yang perlu diwaspadai.

Hal tersebut melatarbelakangi Komdigi bersama Google dan Youtube Indonesia berkolaborasi membuat buku saku yang bertajuk “Digital Wellbeing pada Remaja: Panduan bagi Orangtua dan Guru BK”. Buku ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap semakin besarnya pengaruh dunia digital dalam kehidupan remaja saat ini.

Konsep digital wellbeing

Pada dasarnya, teknologi bukanlah musuh. Penting untuk mengembangkan kemampuan anak dan remaja untuk hidup sehat dan bijak bersama teknologi. Kemampuan inilah yang dikenal sebagai digital wellbeing.

“Digital wellbeing adalah sebuah skill atau keterampilan yang ingin digali bersama dalam menggunakan teknologi dengan seimbang tanpa mengorbankan kesehatan mental, fisik, dan hubungan sosial,” tutur Strategic Partner Manager YouTube Indonesia, Dessy Sukendar.

Melalui keterampilan ini, anak dan remaja diharapkan tidak hanya mampu menggunakan teknologi dengan bijak, tetapi juga dapat membangun identitas diri yang sehat. Anak juga dapat mengelola emosi secara adaptif, menjalin relasi yang bermakna, serta menjaga keseimbangan hidup di tengah arus informasi yang terus mengalir tanpa henti.

Dessy menambahkan, keterampilan ini menjadi semakin penting dimiliki oleh remaja. “Sangat penting bagi remaja untuk memiliki keterampilan ini karena mereka merupakan digital native, selain itu mereka juga masih memiliki keterbatasan dalam melakukan kontrol dan masih perlunya pendampingan.”

Dinamika psikologis remaja di ruang digital

Menurut dokter spesialis kejiwaan dr. Kusuma Minayati, Sp.KJ., Subsp.AR(K), internet memang menawarkan banyak peluang bagi anak dan remaja, namun di sisi lain mereka juga berhadapan dengan berbagai risiko. “Ruang digital memberikan banyak manfaat bagi anak dan remaja, tapi juga memberikan risiko seperti paparan konten yang tidak sesuai usia, tafsir perilaku yang salah, hingga distorsi nilai,” jelasnya.

Risiko tersebut, lanjut Kusuma, tidak dapat dilepaskan dari tahap perkembangan psikologis anak dan remaja. Pada usia ini, kemampuan untuk mengelola emosi, mengendalikan impuls, dan mempertimbangkan konsekuensi dari sebuah keputusan masih terus berkembang. “Bagi anak dan remaja yang belum berkembang secara optimal pada aspek regulasi emosi dan pengambilan keputusannya, risiko di dunia digital ini semakin menimbulkan kerentanan,”
ujarnya.

Bagi banyak remaja, platform digital telah menjadi ruang utama untuk mengekspresikan diri, membangun pertemanan, hingga mencari jati diri. Namun, media sosial juga bisa membawa berbagai tekanan sosial. Remaja rentan mengalami social comparison, yaitu membandingkan hidupnya dengan kehidupan yang tampak sempurna di media sosial.

Mereka juga dapat mengalami Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa cemas ketika merasa tertinggal informasi atau tren yang sedang berlangsung. Selain itu, tidak sedikit remaja yang mulai mengaitkan nilai dirinya dengan jumlah likes, followers, atau views yang mereka peroleh. Paparan terhadap standar penampilan yang tidak realistis di media sosial juga dapat memengaruhi citra tubuh dan kepercayaan diri mereka.

Membangun digital wellbeing dimulai dari rumah

Keluarga merupakan garda terdepan dalam membangun digital wellbeing remaja. Peran orangtua bukan hanya melindungi dari risiko di dunia digital, tetapi juga membekali anak dengan kebiasaan menggunakan teknologi secara sehat dan seimbang.

Hal ini dapat dimulai dengan komunikasi yang terbuka. Ajak remaja mengobrol santai tentang aktivitas digital mereka tanpa terkesan mengawasi. Di saat yang sama, orangtua juga perlu memahami platform yang digunakan anak agar dapat memberikan pendampingan yang relevan.

Selanjutnya, buat aturan penggunaan gawai berdasarkan kesepakatan bersama, seperti batas waktu layar atau tidak menggunakan gawai saat makan bersama. Orangtua juga perlu mendorong keseimbangan antara aktivitas digital dan dunia nyata melalui olahraga, hobi, maupun waktu berkualitas bersama keluarga.

Tak kalah penting, ajarkan remaja mengelola emosi saat berinteraksi di media sosial, biasakan pola tidur yang sehat, dan jadilah teladan dalam menggunakan gawai. Ketika orangtua mampu menunjukkan kebiasaan digital yang baik, remaja pun akan lebih mudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Digital wellbeing bukan tentang menjauhkan remaja dari teknologi, tetapi membekali mereka agar mampu menggunakannya dengan bijak. Di tengah dunia digital yang terus berkembang, keterampilan ini menjadi bekal penting agar remaja mampu memanfaatkan teknologi secara sehat, menjaga keseimbangan hidup, serta tetap tumbuh menjadi pribadi yang tangguh di dunia nyata maupun digital.

Sebagai upaya mewujudkan harapan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital melalui gerakan #BahagiaNyataBijakDigital mengajak berbagai komunitas untuk berbagi praktik baik dalam mendampingi anak dan remaja membangun keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata. Bagi komunitas yang ingin berpartisipasi, social media challenge ini masih dibuka hingga 31 Juli 2026. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE