digitalMamaID – Pernahkah Mama ingin memperkenalkan film favorit masa remaja kepada anak? Di tengah banjir pilihan hiburan digital, tidak semua cerita yang membekas bagi orangtua otomatis mampu memikat generasi sekarang. Hal itulah yang mungkin akan dihadapi para penggemar The Lord of the Rings (LOTR) yang akan menghadiran The Hunt for Gollum.
Setelah lebih dari dua dekade, Warner Bros kembali menghidupkan semesta LOTR lewat film terbaru The Hunt for Gollum yang dijadwalkan tayang pada akhir 2027. Bagi banyak orangtua, kabar ini menjadi momen bernostalgia. Namun, bagi anak-anak yang tumbuh dengan YouTube, Roblox, Minecraft, atau anime, apakah dunia ciptaan J.R.R. Tolkien masih terasa menarik?
Antusiasme terhadap LOTR memang belum surut. Awal Juni 2026, trilogi garapan Peter Jackson kembali tayang di Netflix dan langsung masuk daftar 10 besar tayangan streaming di sejumlah negara. Bahkan film ketiganya, The Return of the King, mendapatkan skor hampir sempurna 94% dari para kritikus di Rotten Tomatoes. Film ini dengan mudah menjadi salah satu film fantasi dengan rating tertinggi sepanjang masa.

Kembalinya trilogi itu ke layanan streaming pun dinilai bukan tanpa alasan. Dalam ajang CinemaCon 2026 di Las Vegas, Warner Bros sebagai pemilik hak cipta menyuguhkan first look prekuel fllm Lord of The Ring yang diagendakan akan tayang pada akhir tahun 2027.
The Hunt of Gollum
Disutradai oleh Andy Serkis, film yang berjudul The Hunt of Gollum itu menceritakan petualangan Gandalf dan Strider (sebelum diketahui adalah Aragorn, pewaris tahta Gondor) untuk mencari misteri keberadaan cincin bertuah milik Sauron. Cincin yang dinamai The Ring of Power itu dibuat Sauron untuk mengendalikan seluruh dunia dengan kejahatan.
Diketahui setelah peperangan besar, Sauron kehilangan cincinnya setelah jarinya ditebas oleh Isildur, anak dari Raja Elendil dari bangsa manusia. Dengan Nasril, pedang milik ayahnya, Isildur berhasil mengalahkan Sauron dan mengambil cincin keramatnya.
Sayangnya, Isildur dikalahkan oleh nafsu jahat manusianya. Seharusnya, ia membuang cincin tersebut ke dalam Mount Doom di Mordor. Alih-alih melepaskan kutukan cincin itu, kekuatan jahat justru menyelimuti Isildur.
Ia menginginkan kekuatan cincin untuk keinginannya. Dunia kembali penuh konflik hingga akhirnya Isildur terpisah dengan cincinnya dalam sebuah penyerangan.
Di film Return of The King dikisahkan cincin itu hilang di kedalaman sungai. Lalu, ditemukan oleh dua hobbit yang bersahabat, Smeagol dan Deagol.
Pada momen itulah, para pencari cincin kehilangan jejak. Smeagol yang membunuh Deagol setelah berebut cincin, lalu menghilang menggunakan kekuatan cincin tersebut.
Untuk memikat penggemar Lord of the Rings
Dilansir dari laman The Guardian, situs penggemar karya J.R.R. Tolkien, TheOneRing.net mengunggah perkiraan plot cerita The Hunt of Gollum. Dikatakan, obsesi Gollum setelah cincin itu dicuri Bilbo Baggins, ia terdorong untuk meninggalkan guanya demi mencari cincin yang disebutnya “my precious“.
Gandalf The Grey berusaha mencarinya karena cincin itu dapat mengubah keseimbangan kekuatan dunia demi keuntungan Penguasa Kegelapan, Sauron. Film ini disebut akan berlatar pada masa bayang-bayang di antara peristiwa hilangnya Bilbo saat pesta ulang tahunnya dan pembentukan The Fellowship of The Ring.
Hanya saja, hingga saat ini Warner Bros belum mengonfirmasi sinopsis apapun terkait The Hunt of Gollum. Akan tetapi, Sir Ian McKellen sempat bercerita kepada The Times jika di film ini Aragorn akan memimpin langsung upaya pencarian Gollum.
“Naskahnya dirancang untuk memikat para penggemar Lord of the Rings. Sementara Gandalf mengarahkan jalannya operasi dari balik layar,” katanya.
McKellen kembali memerankan Gandalf. Jamie Dorman kemudian dipinang untuk memerankan tokoh Aragorn di masa muda karena Vigo Mortensen saat ini sudah berusia 67 tahun yang tidak bisa kembali muda.
Kehadiran Ian McKellen, lalu Elijah Wood sebagai Frodo Baggins, dan Lee Pace sebagai raja Elvenking, Thranduil, seakan membawa kembali memori lama terutama bagi kalangan milenial. Keduanya merupakan sebagian dari tokoh sentral trilogi Lord of The Rings.
Nostalgia generasi milenial
Namun, apakah nostalgia saja cukup untuk membuat generasi baru ikut jatuh cinta pada LOTR?
Salah seorang penggemarnya, Windy Eka Pramudya (43) cukup antusias begitu mengetahui akan ada film yang satu universe dengan LOTR. Menurutnya, meski sudah dijelaskan dalam scene di Return of The King, perjalanan Gollum bersama cincin kutukan pasti penuh kisah dan petualangan.
Kisah perjalanan Bilbo Baggins itu juga sudah difilmkan dalam trilogi The Hobbit. “Saya mengikuti kedua trilogi tersebut, The Lord of The Rings dan The Hobbit. Berbeda dengan LOTR yang memang diambil dari tiga novel berbeda, film The Hobbit berasal dari satu novel yang dibuat tiga film. Bagi saya, ada baiknya film The Hunt of Gollum yang tidak based on novel asli Tolkien, dibuat seoptimal mungkin tanpa perlu jadi trilogi lagi. Rasanya akan lebih menarik,” kata perempuan asal Bandung tersebut.

Sebagai milenial yang tumbuh bersama kemegahan trilogi LOTR, langkah untuk membuat The Hunt of Gollum bisa menjadi gimmick tepat. Bagaimana pengalaman saat menyaksikan The Fellowship of The Ring (2001) yang terdiri dari berbagai kaum di dunia, membawa pada petualangan seru, kaya akan makna, serta nilai persahabatan.
Di film kedua, The Two Towers (2002), penonton disuruhkan sinematik luar biasa oleh Peter Jackson yang belum terjamah di masa itu. Dia seakan menetapkan standar baru dalam teknologi sinematik, efek visual CGI, tata rias, dan penggunaan teknologi motion-capture untuk karakter Gollum.
Ditutup dengan Return of The King (2003), penonton seakan diberi salam perpisahan yang apik dan manis. Dengan happy ending, karya LOTR layak berhenti sampai di situ.
Atur ekspektasi
Namun kerinduan penggemar akan universe yang diciptakan Tolkien masih besar. Beberapa karya di luar kisah LOTR dan The Hobbit diproduksi, tentu atas seizin Warner Bross. Seperti serial The Rings of Power atau animasi The War of Rohirrim yang menceritakan perang besar yang melibatkan bangsa Rohan yang perkasa dengan timeline sebelum LOTR.
Kendati begitu, Windy mengingatkan agar ekspektasi terhadap The Hunt of Gollum tidak melangit. “Jangan sampai berharap akan sesukses LOTR. Juga The Hobbit yang beberapa kali menuai kritikan,” ujar pecinta dan pengulas sinema tersebut.
Kritik yang disampaikan publik cukup berdasar. Karya Tolkien yang kaya dan megah harus dirampingkan dalam masing-masing satu judul film yang meski berdurasi hingga 3 jam. Sebaliknya, satu buku The Hobbit harus dipanjang-panjangkan hingga jadi tiga film, An Unexpected Journey (2012), The Desolation of Smaug (2013), dan The Battle of The Five Armies (2015).
Tantangan menaklukkan generasi yang lebih muda
Salah satu tantangan lainnya adalah sulitnya penetrasi film ini kepada generasi Z dan ke bawahnya. Mereka, kata Windy, bisa jadi tidak seantusias kalangan orangtuanya akan film ini.
Tidak ada daya magis yang bisa menghisap antusias mereka karena zamannya sudah berbeda. Selain itu, film Hollywood dikatakan tengah struggling di pasar Indonesia, terutama selepas Pandemi Covid19.
“Dari yang saya amati, sejak pandemi tersebut film Hollywood belum dapat bangkit. Film terakhir yang pasar Indonesia masih bersemangat adalah seri Avengers: End Game. Sampai saat ini belum ada yang sampai box office hebat di bioskop tanah air,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap percaya The Hunt of Gollum patut diantisipasi. Selain pasarnya masih ada, meski segmented, film ini juga diharapkan bisa menyentuh mindset generasi muda tentang kisah fiksi otentik penuh imajinasi karya seorang penulis dan pemikir dengan segudang riset dan penggunaan diksi yang luar biasa.
Tolkien, penulis kelahiran 1892 yang berpulang pada 1973 tersebut memberi kontribusi besar pada studi bahasa dan literatur. Dalam karyanya, baik novel The Hobbit dan LOTR ia menciptakan bahasa kaum peri yang dinamakan Elvish. Terdiri dari bahasa Sindarin (sehari-hari), dan Quenya (bahasa kuno).

Untuk menjaga orisinalitas karya agar tetap berada dalam universe yang sama, sutradara Andy dan Peter Jackson yang menjadi produser eksekutif di film The Hunt of Gollum melibatkan cucu langsung Tolkien. Mereka juga menggandeng penulis Phoebe Gittins dan Arty Papageorgiou yang juga terlibat dalam trilogi LOTR.
Selain Jamie Dornan, di film The Hunt of Gollum juga menghadirkan tokoh baru yang diperankan beberapa bintang seperti Kate Winslet, Anya Taylor-Joy, dan Leo Woodall.
Saat ini film masih dalam proses produksi di mana pengambilan gambar utama dilakukan di New Zealand. Menariknya, Andy Serkis yang membesut film ini, akan merangkap peran dan kembali menjadi tokoh Gollum seperti sebelumnya. [*]






