digitalMamaID – Di kalangan pelari, istilah “Pajak Strava” sudah lama menjadi bahan candaan. Julukan itu muncul karena aplikasi Strava kerap memangkas beberapa meter jarak lari yang terekam. Hasilnya jadi terasa lebih pendek dari jam olahraga. Kini, istilah itu tak lagi sekadar lelucon. Sejak pemerintah menunjuk Strava sebagai pemungut Pajak Pertambahan Nilai Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPN PMSE), layanan Strava Premium benar-benar dikenai pajak bagi transaksi di Indonesia.
Bagi banyak pelari, Strava bukan sekadar aplikasi pencatat jarak. Terhubung dengan smartwatch, aplikasi ini membantu merekam detak jantung, pace, elevasi, hingga perkembangan kebugaran dari waktu ke waktu.
Hanya saja, Strava agak pelit data bagi penggunanya. Ingin tahu data detil lainnya, maka pengguna diarahkan untuk menggunakan layanan premium.
Lucunya, pengguna Strava sudah maklum, aplikasi itu seringkali kedapatan memangkas jarak lari jadi lebih pendek beberapa meter. Perilaku ini sering disebut “Pajak Strava” oleh pelari. Dan kini, Strava premium mulai dikenai pajak oleh pemerintah Indonesia.
Apa kata runner?
Bagi Ferdy Ferida (30), menggunakan Strava premium membantunya mencapai goal berlari. “Di luar fitur share yang jadi bisa bermacam-macam bentuknya, termasuk fitur map flyover, fitur premium itu membantu saya melihat progress yang lebih detil dari hasil workout yang dijalani,” ujar pegawai swasta di sebuah studio desain di Bandung ini kepada digitalMamaID, beberapa hari lalu.
Utamanya, kata Ferdy yang mengaku pelari rekreasional itu, fitur race prediction, fitness, juga heart rate zone sering membantunya menakar kebugaran tubuhnya. Secara tidak langsung, paduan smartwatch dan aplikasi itu menjadi pengumpul data kebugaran dan performa olah raganya yang menuturkan informasi lebih lengkap.
Sudah setahun lebih ia menjadi pengguna Strava premium. Kabar tentang layanan premium itu akan dikenai pajak, membuatnya sedikit terusik.
“Sebal, sih. Pasti akan nambah ke monthly subscription (langganan bulanan), karena saya tidak pakai yang tahunan. Selama ini tiap perpanjang di sekitar lima puluh ribuan,” tutur Ferdy.
Dengan ketentuan pajak 11% yang masuk dalam kelompok PPN PMSE, harga yang harus dibayar Ferdy di bulan selanjutnya berkisar Rp 55.500. Biasanya, notifikasi tagihan selanjutnya akan muncul di akhir tanggal pemakaian.
Bagi Ferdy, penetapan pajak ini terasa kurang tepat. Dia merasa, pemerintah seperti melihat-lihat celah untuk mengenakan pajak terutama pada hal-hal yang sedang hype (banyak peminat) dan ramai digunakan.

Meski dikenai pajak, Ferdy mengatakan, masih akan menggunakan layanan premium Strava. Lain cerita jika semakin lama, ia merasa tagihannya menjadi jauh lebih mahal.
“Sepertinya bakal dilepas (berhenti berlangganan), deh. Mungkin akan mengandalkan data dari aplikasi pada smartwatch saja. Di sana juga bisa menampilkan data walau secara interface tidak semenarik Strava,” tuturnya.
Pemberlakuan PPN PMSE ini sudah dimulai sejak Mei 2026. Mulanya, masyarakat resah karena mengartikan seluruh pengguna Strava akan dikenai pajak. Ternyata, hanya pengguna premium atau berbayar saja. Pengguna Strava gratis, masih bebas menggunakan aplikasi tersebut meski dengan fitur seadanya.
Penjelasan pemerintah
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, Inge Diana Rismawanti, menegaskan bahwa pengenaan pajak terhadap Strava Premium bukan karena aktivitas olahraga masyarakat.
“Melainkan karena adanya transaksi pembelian layanan digital berbayar yang dilakukan konsumen di Indonesia. Prinsipnya, setiap konsumsi barang dan jasa di Indonesia dikenakan PPN, termasuk layanan digital yang berasal dari luar negeri,” kata Inge kepada Kompas.com.
Menurut Inge, penunjukan Strava merupakan bagian dari perluasan pemungutan PPN Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) terhadap perusahaan digital asing yang menjual layanan kepada masyarakat Indonesia. Hingga akhir Mei 2026, DJP telah menunjuk 271 pelaku usaha PMSE sebagai pemungut PPN, dengan total penerimaan dari skema tersebut mencapai Rp40,55 triliun. Secara keseluruhan, penerimaan pajak dari ekonomi digital telah mencapai Rp52,85 triliun.
Inge menambahkan, bertambahnya platform digital yang ditunjuk sebagai pemungut PPN menunjukkan pemerintah terus menyesuaikan kebijakan perpajakan dengan perkembangan teknologi. “Masuknya penyedia layanan AI dan berbagai layanan digital lainnya ke dalam daftar pemungut PPN PMSE mencerminkan semakin beragamnya layanan digital yang dimanfaatkan masyarakat. DJP akan terus mengikuti perkembangan teknologi dan model bisnis digital untuk memastikan pelaksanaan kewajiban perpajakan berjalan secara efektif, adil, dan memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha,” ujarnya.
Sementara itu, Strava memastikan kebijakan tersebut tidak akan membuat biaya berlangganan Premium menjadi lebih mahal. Dalam pernyataannya pada 8 Juli 2026, perusahaan menyatakan akan menanggung sendiri tambahan biaya akibat penerapan PPN.
“Kami berencana menyesuaikan diri dengan kebijakan baru ini dengan menyerap secara langsung biaya tambahan akibat penerapan PPN tersebut. Tidak akan ada kenaikan harga berlangganan Strava, dan layanan gratis kami juga akan tetap tidak berubah,” tulis Strava.
Perusahaan menyebut langkah itu diambil untuk tetap mendukung misinya mendorong masyarakat Indonesia menjalani gaya hidup yang lebih aktif dan sehat
Apa keunggulan Strava sebagai penyedia data olahraga?
Strava Premium menawarkan fitur unik yang berfokus pada aspek sosial, kompetisi, dan pengalaman pengguna. Antara lain adanya ekosistem segmen global & leaderboard terfilter.
Keunggulan utama Strava Premium memang berada pada basis data kompetisinya yang masif. Filter Leaderboard bisa menyaring sebuah rute/segmen berdasarkan kelompok umur, kategori berat badan, gender, kurun waktu (hari ini, minggu ini, tahun ini), hingga memfilternya khusus untuk sesama anggota klub tertentu.
Aplikasi lain, belum ada yang memiliki filter sosial sedalam ini. Lainnya, ada fitur Athlete Intelligence (Analisis Berbasis AI) yang bisa membaca data latihan Anda lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari yang mudah dipahami.
AI ini memberikan konteks evaluatif seperti, “Pace kamu di tanjakan hari ini lebih stabil dibanding minggu lalu, tetapi detak jantungmu terlalu tinggi di fase akhir.”
Adanya fitur Personal Heatmaps yang memungkinkan pengguna melihat visualisasi peta global interaktif yang merekam seluruh jalur yang pernah dilewati di dunia. Pengguna bisa memfilternya berdasarkan tahun atau jenis olahraga untuk melihat wilayah mana saja yang paling sering dijelajahi dengan visual yang sangat estetik.
Namun diatas aplikasi canggih dan jam tangan pintar, adalah paling baik segera memulai olahraga itu sendiri. Mulai aktif olah raga sekarang, melengkapinya dengan Strava kemudian.
Menurut Mama, apalagi yang akan dikenai pajak oleh pemerintah, ya? [*]






