digitalMamaID – Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesehatan tampaknya semakin meningkat. Hal ini terlihat dari hasil Survei Profil Internet Indonesia 2026 diselenggarakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Survei menunjukkan konten kesehatan dan gaya hidup menjadi jenis berita yang paling banyak diakses pengguna internet Indonesia.
Berdasarkan survei APJII yang dilakukan pada periode 1 Februari hingga 15 Maret 2026, akses terhadap konten kategori kesehatan dan gaya hidup mencapai 20,3 persen, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 9,1 persen. Survei ini melibatkan 8.700 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi di Indonesia menggunakan metode wawancara tatap muka dan multistage random sampling.
Data ini menunjukkan internet kini digunakan sebagai sumber utama masyarakat dalam mencari informasi kesehatan, pola hidup sehat, hingga edukasi keseharian, selain sebagai sarana hiburan.
Fenomena ini juga memperlihatkan perubahan perilaku digital masyarakat yang semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan fisik maupun mental. Mulai dari informasi pola makan, olahraga, kesehatan keluarga, hingga gaya hidup sehat kini banyak dicari melalui media digital dan media sosial.
Perempuan lebih aktif mengakses informasi kesehatan
Berdasarkan gender, perempuan menjadi kelompok yang paling aktif mengakses konten kesehatan dan gaya hidup. Persentasenya mencapai 24,2 persen, lebih tinggi dibanding laki-laki yang berada di angka 16,3 persen.
Hal ini menunjukkan, perempuan masih menjadi kelompok yang dominan dalam mencari informasi terkait kesehatan keluarga, pola asuh, makanan sehat, hingga gaya hidup sehari-hari. Sementara laki-laki lebih banyak mengakses berita olahraga dengan angka 19,5 persen.
Selain kesehatan, masyarakat Indonesia juga cukup banyak mengakses berita ekonomi, keuangan, dan bisnis sebesar 14,6 persen. Disusul olahraga 12,8 persen, infotainment dan gosip 12,7 persen, serta budaya, pariwisata, dan seni sebesar 12,4 persen.
Video pendek dan media sosial masih mendominasi
Meski minat terhadap informasi kesehatan meningkat, konsumsi hiburan digital masih mendominasi aktivitas internet masyarakat Indonesia. Konten video pendek online seperti TikTok, Reels, dan YouTube Shorts menjadi hiburan yang paling sering diakses dengan angka 29,5 persen.
Interaksi dan scrolling media sosial berada di posisi berikutnya sebesar 26,6 persen, disusul musik online 18,4 persen dan video panjang atau layanan streaming film sebesar 15,3 persen.
Data ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menyukai konten cepat, visual, dan mudah dikonsumsi. Karena itu, informasi kesehatan kini juga banyak dikemas dalam bentuk video singkat di media sosial agar lebih mudah diterima publik.
TikTok, platform yang paling sering diakses
TikTok menjadi media sosial yang paling sering diakses masyarakat Indonesia dengan angka 31,8 persen pada 2026. Posisi berikutnya ditempati Facebook sebesar 29,4 persen dan Instagram 27,7 persen.
Dominasi TikTok terlihat hampir di seluruh kelompok generasi, terutama Gen Z yang mencapai 32,3 persen. Sementara Facebook masih cukup kuat di kelompok usia yang lebih tua seperti baby boomers dan pre boomer.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola konsumsi informasi masyarakat, termasuk informasi kesehatan.
Literasi digital kesehatan untuk menghindari hoaks
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap isu kesehatan, tantangan literasi digital juga semakin besar. Banyaknya informasi kesehatan yang beredar di media sosial membuat masyarakat perlu lebih cermat memilih sumber informasi yang terpercaya.
Tidak sedikit informasi kesehatan yang viral ternyata belum terverifikasi secara medis. Karena itu, kemampuan memilah informasi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah percaya pada hoaks kesehatan atau diagnosis mandiri dari internet.
Penelitian dalam jurnal Internet Interventions berjudul “Digital health literacy as a super determinant of health: More than simply the sum of its parts” oleh Robin van Kessel menyebut, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi, hingga menggunakan informasi kesehatan secara tepat di ruang digital.
Kemampuan ini penting karena media sosial juga dapat mempercepat penyebaran informasi kesehatan yang salah atau menyesatkan. Hoaks kesehatan di media sosial umumnya berupa klaim obat instan, tips diet ekstrem, hingga diagnosis mandiri berdasarkan gejala tertentu.
Agar tidak mudah terpapar hoaks kesehatan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat:
Memastikan sumber informasi berasal dari lembaga terpercaya
Informasi kesehatan sebaiknya berasal dari institusi resmi, tenaga medis, rumah sakit, organisasi kesehatan, atau jurnal ilmiah yang kredibel. Hindari langsung percaya pada akun anonim atau konten tanpa sumber jelas.
Tidak langsung percaya pada konten viral
Konten kesehatan yang ramai dibagikan di media sosial belum tentu benar. Informasi viral sering kali dikemas dengan judul sensasional untuk menarik perhatian tanpa didukung data medis yang valid.
Membandingkan informasi dari beberapa sumber
Masyarakat disarankan melakukan cross check dengan membaca informasi dari media atau sumber kesehatan lain agar tidak hanya bergantung pada satu konten.
Memeriksa apakah ada referensi medis atau ahli
Informasi kesehatan yang baik biasanya mencantumkan sumber penelitian, dokter, ahli, atau institusi kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menghindari self-diagnosis dari media sosial
Gejala kesehatan tidak selalu sama pada setiap orang. Karena itu, diagnosis mandiri hanya berdasarkan video TikTok atau unggahan media sosial dapat menimbulkan kesalahan penanganan.
Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk kondisi serius
Informasi internet dapat menjadi referensi awal, tetapi keputusan medis tetap perlu dikonsultasikan dengan tenaga profesional, terutama terkait pengobatan atau kondisi kesehatan tertentu.
Penelitian tersebut menegaskan, literasi kesehatan digital kini menjadi kemampuan penting di era media sosial, terutama ketika masyarakat semakin sering mencari informasi kesehatan melalui internet.
Tingginya minat masyarakat terhadap konten kesehatan menunjukkan internet kini tidak lagi sekadar ruang hiburan, tetapi juga menjadi ruang belajar dan pengambilan keputusan terkait kesehatan sehari-hari. Oleh karena itu, kemampuan memilah informasi kesehatan yang valid menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital dan konten viral di media sosial.[*]






