digitalMamaID — Rupiah melemah, harga naik. Bukan sekadar berita ekonomi, inilah yang kini dirasakan langsung oleh ibu rumah tangga, pedagang sayur, dan jutaan masyarakat Indonesia yang harus menghitung ulang pengeluaran mereka.
Harga bahan pangan, gas, transportasi, kebutuhan rumah tangga, semuanya merangkak naik. Sementara pendapatan justru tidak ikut bergerak, atau malah berkurang.
Di tengah tekanan itu, Presiden Prabowo Subianto justru mengatakan, situasi ini tidak akan berdampak pada masyarakat. Ie menyebut, masyarakat desa tidak menggunakan dolar. Pernyataan ini seperti mengabaikan apa yang sedang dihadapi masyarakat.
Masalahnya bukan soal siapa yang pegang dolar. Ketika rupiah menyentuh Rp17.600 per dolar AS, biaya impor naik. Dan Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk pupuk, BBM, pakan ternak, obat-obatan, hingga bahan pangan. Begitu biaya impor naik, biaya produksi naik, ongkos distribusi naik. Ujung-ujungnya, harga di pasar ikut naik. Masyarakat desa jelas tidak bisa terhindar dari situasi ini.
Tabungan terpakai untuk belanja harian
Nurul (32), dosen sekaligus ibu rumah tangga asal Bandung, merasakannya langsung. Dalam beberapa bulan terakhir, pengeluaran hariannya membengkak hingga ia terpaksa memakai tabungan untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
“Beratnya itu berat banget. Jadi sekarang tuh pos untuk living aja tuh harus ngambil sebagian dari saving,” ungkapnya kepada digitalMamaID, Selasa, 19 Mei 2026.
Dampak yang paling terasa, kata Nurul, adalah ongkos transportasi daring yang naik Rp2.000–3.000. Harga air minum kemasan galon juga ikut naik. “Tukang galon bilang sekarang naik seribu karena semuanya juga naik,” ujarnya.
Dengan uang yang sama, kini ia mendapat barang belanjaan yang lebih sedikit. Perubahan mulai ia rasakan sekitar sebulan lalu, tapi bulan ini dampaknya paling signifikan. “Cost untuk living sehari-hari itu biasanya aku bisa saving untuk nabung, tapi justru sekarang yang saving terpakai untuk biaya sehari-hari,” katanya.
Di Palangkaraya harga gas melon dan cabai melejit
Hal serupa dirasakan Risanti (36), ibu rumah tangga asal Bandung yang kini tinggal di Palangkaraya. Ia menceritakan, kenaikan harga datang bertubi-tubi. Harga beras sudah duluan naik, lalu disusul bahan dapur, sabun, perlengkapan mandi, hingga air galon. Kenaikannya memang kadang hanya Rp1.000, tapi ketika hampir semua barang naik serentak, totalnya sangat terasa.
Yang paling berat adalah gas elpiji. “Gas melon di sini sampai kisaran Rp35 ribu sampai Rp45 ribu. Makanya kami akhirnya menggunakan gas yang pink itu karena hitungannya jauh lebih hemat,” ujarnya.
Harga sayuran di Palangkaraya memang lebih tinggi dari Pulau Jawa. Sekarang semakin terasa, dengan uang yang sama kini dapat lebih sedikit sayuran. Harga cabai sudah menembus Rp95 ribu per kilogram.
Menurut Risanti, kenaikan ini mulai parah sejak mencuatnya isu kelangkaan minyak dan BBM akibat situasi global. “Kerasa banget karena akhirnya semua bahan-bahan juga ikut naik. Sampai plastik, galon, semuanya berpengaruh,” tuturnya.
Sebelum situasi itu mereda, kini ada beban baru akibat rupiah yang terus melemah. Risanti khawatir ini bukan puncaknya.
Ia juga menyoroti cara pemerintah merespons. “Sudah isu minyak kemarin, ditambah melemahnya rupiah, ini apa yang akan terjadi selanjutnya? Tapi melihat pemberitaan atau alternatif dari pemerintah, seperti menggampangkan dan malah terkesan menyembunyikan, atau menyampaikan yang baik-baik aja sama masyarakatnya,” tuturnya.
Pedagang sayur: Harga naik, pembeli sepi
Tekanan ini tidak hanya menghantam konsumen. Mang Idan (46), penjual sayur keliling yang berbelanja rutin ke Pasar Ciroyom, merasakan pukulan ganda. Harga kulakan naik, tapi pembeli justru berkurang.
“Cabe-cabean naik, cengek, cabai tanjung, bonteng, buncis, hampir semua naik,” katanya. Daging sapi kini Rp160 ribu per kilogram. Plastik kemasan sebelumnya Rp3.000 sekarang jadi Rp4.000.
Tapi yang lebih menyulitkan adalah sepinya pasar. “Sudah belanjanya mahal, yang beli juga nggak ada, ngurangan (berkurang),” katanya.
Pasar Ciroyom yang dulu ramai kini jauh lebih lengang. Mang Idan mengaku tidak terlalu paham soal nilai tukar atau kebijakan ekonomi. Tapi ia tahu, hidupnya makin berat dari tahun ke tahun.
“Merosot abi ge pendapatan, ayeuna mah parah (Pendapatan saya berkurang, sekarang sudah parah),” katanya.
Apa yang harus dilakukan?
Krisis moneter 1997–1998 jadi cermin pahit. Kurs rupiah yang semula Rp2.300 hingga Rp2.600 per dolar jeblok menjadi lebih dari Rp16 ribu dalam waktu singkat. Harga melonjak, perusahaan bangkrut, PHK massal terjadi, dan inflasi tak terkendali.
Beberapa indikator ekonomi saat ini menunjukkan situasinya tidak jauh berbeda dengan era itu. Di tengah rupiah melemah, apa yang bisa Mama lakukan?
Ada beberapa langkah kecil yang bisa jadi penyangga penting saat ini. Belanja di warung, pasar tradisional, atau toko kelontong milik tetangga. Uang yang dibelanjakan akan berputar di komunitas sendiri. Kurangi pembelian barang impor seperti skincare, pakaian, dan elektronik yang bisa ditunda atau cari alternatif lokalnya. Untuk transportasi, beralih ke angkutan umum bisa meringankan pengeluaran secara signifikan.
Penting untuk menyiapkan dana darurat, sekecil apapun dan mulailah sekarang. Dan jangan mudah percaya informasi ekonomi yang beredar di media sosial tanpa sumber yang jelas, selalu verifikasi sebelum percaya.
Di atas segalanya, saling jaga satu sama lain. Ketika kebijakan terasa jauh tak menyentuh masyarakat, tetanggalah yang paling dekat.[*]






