digitalMamaID – Fenomena “war parfum” di kalangan anak-anak ramai diperbincangkan di media sosial. Video anak-anak praremaja rela mengantre panjang demi membeli parfum viral beredar luas di TikTok dan Instagram. Mereka bahkan sudah mengenal merek dan varian parfum secara spesifik, padahal produk tersebut sejatinya dipasarkan untuk orang dewasa.
Tren ini disebut ikut dipicu oleh influencer gamer, streamer, dan konten kreator yang mengulas parfum di media sosial. Akibatnya, produk parfum cepat populer di kalangan anak-anak. Kondisi ini memunculkan keresahan orangtua terkait budaya konsumtif serta strategi pemasaran produk dewasa yang dinilai semakin dekat dengan dunia anak.
Namun, sebagian orangtua juga melihat fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Ada anak-anak yang mulai tertarik pada parfum karena ingin merawat diri, mengenal identitas, sekaligus diterima dalam lingkungan pertemanan mereka.
Orangtua jangan bereaksi berlebihan
Rahma Maryama (35), ibu dua anak asal Bandung, mengaku terkejut ketika anak laki-lakinya yang baru berusia 10 tahun tiba-tiba meminta dibelikan parfum dengan merek tertentu. Pengalaman ini ia unggah di Threads pada awal Mei dan ternyata mendapat banyak respons serupa dari orangtua lain.

Meski sempat kaget, Rahma memilih tidak bereaksi berlebihan. Ia justru mencoba melihat ketertarikan anaknya terhadap parfum sebagai peluang belajar.
“Mumpung dia lagi suka parfum, sekalian aja minta dia untuk riset. Dari mana asal parfum, kenapa ada notes yang berbeda-beda, sampai gimana etika pakai parfum,” tuturnya lewat unggahan Threads pada Mei lalu.
Menurut Rahma, ketertarikan anak pra remaja terhadap parfum tidak selalu harus dipandang negatif. Ia mengingat dirinya dulu juga pernah mengalami fase FOMO dan ingin mengoleksi kertas surat yang sedang tren di kalangan teman-temannya.
“Sekarang tuh dia suka bilang, ‘Ma, Aa udah pakai deodorant, udah pakai parfum. Nanti tinggal minta diajarin ke Papa pakai pomade’,” ceritanya kepada digitalMamaID, 29 Mei 2026. Rahma senang karena keinginan untuk berpenampilan bersih dan rapi muncul dari diri sang anak sendiri. Fenomena ini juga ia lihat sebagai bagian dari fase praremaja ketika anak mulai ingin diterima dalam lingkungan sosialnya.
Namun, menurut Rahma, anak tetap harus memiliki nilai diri yang kuat dan tidak bergantung pada merek tertentu. “Aku kasih tahu anakku kalau brand mahal itu tidak serta-merta menaikkan nilai diri,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan harga parfum yang melonjak akibat tingginya permintaan. “Sebelnya harga parfumnya digoreng jadi lebih mahal,” katanya.
Anak jadi mengulik dunia parfum
Pengalaman serupa dialami Eka (41), ibu dari remaja berusia 14 tahun. Ia mengatakan, ketertarikan anaknya terhadap parfum berawal dari media sosial dan lingkungan pertemanan di sekolah saat berusia 13 tahun.
Eka mengaku sebenarnya senang anaknya mulai memperhatikan kebersihan diri dan penampilan. Namun, ia juga melihat sisi lain dari tren tersebut, terutama kebiasaan impulsive buying. “Aku senang sih pas dia suka parfum, cuma jadi suka beli terus padahal di rumah masih ada,” katanya.
Menurut Eka, budaya koleksi dan pertukaran parfum juga mulai muncul di kalangan remaja. “Mereka suka tuker-tukeran parfum sama teman-temannya. Jadi kalau dia mau parfum baru dan nggak dibolehin beli, ya tukeran,” tambahnya.
Meski begitu, Eka melihat ada sisi positif dari ketertarikan anaknya terhadap parfum. Sang anak mulai mengenali berbagai notes aroma dan karakter wangi yang berbeda. Selain itu, sang anak juga jadi rutin menabung untuk membeli parfum yang diinginkan
“Tapi sebelum beli sesuatu tetap harus ACC (persetujuan) ayah bundanya,” katanya.
Produk dewasa kini dijual ke anak-anak
Keresahan berbeda dirasakan Putri Aisyiyah (42), ia menilai penggunaan influencer gamer, streamer dan konten kreator yang dekat dengan dunia anak membuat produk parfum dewasa mudah terpapar kepada anak-anak melalui media sosial. Ia menilai tren ini dimanfaatkan penjual untuk meningkatkan penjualan tanpa mempertimbangkan etika pemasaran kepada anak.
“Kapitalis tuh semakin jahat, ya. Mereka nggak cuma jual produk anak kepada anak-anak, bahkan produk dewasa pun dijual ke anak-anak. Kalau perlu boikot aja jika parfum tersebut masih terus-terusan seperti ini,” ungkap Putri pada Selasa 26 Mei 2026.
Putri mulai menyadari ketertarikan anak laki-lakinya terhadap parfum saat libur Lebaran 2026. Saat itu, sang anak secara spesifik meminta parfum Mykonos Vanilla Clouds. Ia mengaku terkejut karena tidak pernah mengenalkan merek parfum tertentu kepada anaknya, meski dirinya sendiri menyukai parfum.
“Waktu saya ulang tahun, dia beliin Vanilla Clouds buat saya. Tapi tiap hari diminta sama dia kalau mau berangkat sekolah,” ujarnya.
Setelah itu, anaknya mulai meminta parfum untuk dirinya sendiri dan secara spesifik menginginkan varian tertentu seperti Mykonos Satin Blanc atau Velixir Icarus. “Sebelumnya dia kadang minta parfum anak yang dijual di Indomaret seperti Master Kids atau Doremi, dan itu masih saya iyakan. Tapi ketika sudah spesifik harus Mykonos ini itu, bagi saya itu berlebihan,” katanya.
Putri mengaku anaknya bahkan beberapa kali mengajak pergi ke mall yang cukup jauh hanya karena mengetahui parfum incarannya tersedia di sana. Meski demikian, ia memilih tidak langsung melarang anaknya.
Menurutnya, larangan justru bisa membuat anak semakin penasaran. Ia mencoba mengajak anak belajar menahan keinginan dan memahami bahwa tidak semua hal harus langsung dimiliki.
Hingga kini, Putri belum membelikan parfum yang diinginkan anaknya. Ia membuat kesepakatan bahwa parfum tersebut baru akan diberikan jika anaknya mendapat nilai ujian yang baik tanpa ada nilai di bawah sembilan.
Dokter ingatkan penggunaan parfum pada anak perlu dibatasi
Dokter Spesialis Anak dr. Miza Dito Afrizal melalui akun Instagram @mizaafrizal mengatakan, ketertarikan anak terhadap parfum sebenarnya merupakan hal yang wajar, terutama ketika mereka mulai memasuki usia prapubertas.
Namun, ia mengingatkan, penggunaan parfum tetap perlu dibatasi. Menurutnya, parfum bisa memicu kekambuhan asma pada sebagian anak atau orang di sekitarnya yang sensitif terhadap aroma tertentu.
Selain itu, ia menyoroti isu endocrine disruption atau gangguan hormon. Beberapa senyawa dalam parfum seperti paraben dan phthalates diduga berpotensi mengganggu sistem hormon tubuh jika terpapar berlebihan, terutama pada anak yang sedang memasuki masa pubertas.
“Yang jadi masalah, phthalates sering kali tidak dicantumkan secara jelas pada label parfum,” ujarnya.
Meski begitu, dr. Miza menilai anak tidak perlu langsung dilarang menggunakan parfum. Yang terpenting adalah pendampingan dan edukasi dari orangtua.
Ia menyarankan, orangtua memilih produk dari produsen terpercaya serta mengajarkan anak menggunakan parfum dengan bijak. Memakai parfum cukup satu hingga dua semprotan dan tidak digunakan setiap hari secara berlebihan. Ia juga menyarankan, parfum disemprotkan ke pakaian atau kain, bukan langsung ke kulit.
Fenomena war parfum menunjukkan bagaimana batas dunia anak dan orang dewasa kini semakin kabur di era media sosial. Produk yang sebelumnya identik dengan orang dewasa kini mudah masuk ke ruang konsumsi anak melalui algoritma, influencer, dan budaya FOMO digital. Dalam situasi ini, peran orangtua menjadi penting. Bukan hanya membatasi, tetapi juga mendampingi anak memahami keinginan dan budaya konsumsi yang mereka hadapi sehari-hari. (Alin Imani, Penny Yuniasri) [*]






