digitalMamaID — Banyak ibu merasa memahami bahasa Inggris secara pasif, mampu membaca, mendengar, bahkan menonton film tanpa subtitle. Namun, merasa kurang percaya diri saat harus berbicara bahasa Inggris secara langsung. Padahal, peran ibu sangat strategis untuk membantu anak belajar bahasa Inggris. Inilah saatnya Mama belajar bahasa Inggris!
Berangkat dari keresahan itu, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) menghadirkan kelas bahasa Inggris bertajuk Growing Better Habits One Step At a Time: Start Small, Speaking Confidently, Building Daily English Habits for Real Life. Berkolaborasi dengan digitalMamaID dan Bandungbergerak, kelas bahasa Inggris ini dirancang khusus untuk para ibu. Para peserta boleh mengajak serta anak-anaknya. Anak-anak diajak beraktivitas secara terpisah agar ibu bisa belajar dengan tenang.
Ide awal
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UNPAR Kristining Seva mengatakan, ide kelas ini awalnya terinspirasi dari program pengabdian masyarakat dari dosen jurusan Matematika, Fakultas Sains UNPAR. Mereka mengajar matematika atau numerasi sederhana untuk ibu-ibu agar dapat mendampingi anak belajar. Konsep serupa kemudian diadaptasi ke dalam pembelajaran bahasa Inggris, dengan pendekatan yang sesuai dengan aktivitas sehari-hari.
“Kemarin tuh kita mikirnya begini, aku ngerti kalau baca, aku ngerti kalau dengar, aku ngerti kalau nonton film, tanpa subtitle pun aku ngerti tapi, kalau ngomong tuh aku kok nggak PD ya. Nah, itu yang selalu terjadi pada siapapun terutama mama-mama,” ungkap Seva, sapaan akrabnya dalam Live Instagram bersama digitalMamaID Jumat, 17 April 2026.
Di sisi lain, keinginan untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada anak sering kali terhambat oleh rasa kurang percaya diri. Sementara itu, waktu belajar bahasa Inggris di sekolah relatif terbatas, terutama di tingkat sekolah dasar yang hanya memiliki beberapa jam pelajaran dalam seminggu. Akibatnya, paparan bahasa Inggris yang paling besar justru berasal dari lingkungan rumah.
Menggunakan metode atomic habits
Berdasarkan kondisi tersebut, muncul gagasan untuk menggabungkan pendekatan kebiasaan kecil dengan pemanfaatan keseharian di rumah. Terlebih, komunitas ibu yang menjadi sasaran program dinilai cukup adaptif terhadap teknologi digital, sehingga pembelajaran dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang mudah diterapkan.
Mengusung metode atomic habits, peserta diajak memulai dari hal kecil dan realistis. Alih-alih langsung mempelajari tata bahasa yang kompleks, kelas ini fokus pada frasa sederhana yang bisa langsung dipraktikkan di rumah, seperti “be careful, it’s hot” atau “finish your food.” Dengan pengulangan dan penggunaan sehari-hari, kebiasaan berbahasa Inggris diharapkan terbentuk secara alami.
“Bahasa Inggris sering dianggap sesuatu yang besar dan menakutkan. Di kelas ini, kita akan coba potong kecil-kecil dan mulai dari apa yang paling gampang untuk diterapkan di rumah. Jadi jangan takut,” ujar Seva.
Kelas ini juga menekankan bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar. Bahkan, banyak peserta yang berusia di atas 30 hingga 50 tahun tetap menunjukkan semangat tinggi. Tantangan utama bukan pada kemampuan, melainkan rasa percaya diri.
“Kalaupun salah, worst case-nya adalah diketawain paling satu sampai dua menit aja. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti belajar,” ungkapnya.
Metode pembelajaran dirancang interaktif tanpa tekanan. Peserta akan mengikuti delapan sesi setiap hari Sabtu, dengan kombinasi diskusi, latihan berbicara, serta praktik langsung di rumah. Tidak ada sistem ujian formal, namun peserta didorong untuk konsisten melalui latihan ringan dan interaksi di grup, bahkan sesederhana menyapa dengan “good morning.”
Selain pembelajaran offline, kelas ini juga membuka kemungkinan pembelajaran online untuk menjangkau lebih banyak peserta. Materi pendukung seperti rekomendasi tontonan dan podcast berbahasa Inggris juga akan dibagikan agar peserta dapat terus belajar secara mandiri di rumah.
Ke depan, program ini direncanakan menjadi bagian dari pengabdian berkelanjutan dengan target pengembangan hingga tiga tahun. Jika mendapat respons positif, kelas serupa akan diperluas baik dari segi jumlah peserta maupun metode pembelajaran, termasuk pemanfaatan teknologi seperti AI untuk membuat materi belajar yang lebih interaktif.
Dengan pendekatan yang santai, relevan, dan berbasis kebiasaan, kelas ini diharapkan menjadi ruang aman bagi para ibu untuk belajar tanpa rasa takut, karena dalam proses belajar, kesalahan bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan.

Antusiasme peserta
Sebanyak 22 peserta mendaftar dalam program ini. Antusiasme tersebut dinilai sebagai sinyal positif, mengingat selama ini peran ibu kerap lebih difokuskan pada pendidikan anak, sementara kebutuhan belajar dan mengembangkan diri sendiri seringkali terabaikan.
Syifa (31), ibu rumah tangga, mengungkapkan, keputusannya belajar bahasa Inggris berangkat dari mimpi besar yang ingin ia wujudkan suatu hari nanti, yaitu berkeliling dunia. Ia meyakini, kemampuan bahasa menjadi salah satu bekal penting, jika kelak dirinya atau anaknya bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri.
“Saya yakin suatu hari nanti bisa keliling dunia. Dan mungkin nanti anak saya juga akan ke luar negeri, entah untuk kuliah atau hal lainnya. Jadi ini langkah kecil pertama untuk mimpi besar itu, karena salah satu modalnya pasti bahasa,” ujarnya pada digitalMamaID.
Selain meningkatkan kemampuan pribadi, ia juga memiliki harapan besar terhadap dampak yang bisa dirasakan oleh anak-anaknya. Ia ingin menciptakan lingkungan yang positif, di mana bahasa Inggris menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari di rumah.
“Harapannya anak-anak bisa terpapar hal-hal positif lebih dini, salah satunya bahasa Inggris. Saya ingin membudayakan bahwa bahasa Inggris itu tidak sulit, seperti bernapas saja,” ujarnya.
Ia menegaskan, upaya ini bukan untuk mengesampingkan bahasa Indonesia, melainkan sebagai langkah untuk membuka peluang yang lebih luas melalui penguasaan bahasa lain. “Ini untuk diri saya juga, tapi nantinya ingin saya bagikan ke anak-anak,” katanya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Meitha (33), ibu rumah tangga, yang memutuskan bergabung demi membangun kebiasaan baru di rumah bersama anak-anaknya.
Meitha mengaku, motivasinya mengikuti kelas ini berangkat dari keinginan sederhana, yaitu membantu anak lebih terbiasa dan percaya diri saat mulai menghadapi pelajaran bahasa Inggris di sekolah.
Pada pertemuan pertama, Meitha merasakan suasana belajar yang berbeda dari bayangannya. Ia tidak hanya belajar materi, tetapi juga diajak memahami pentingnya membangun kebiasaan kecil yang konsisten.
“Hari pertama terasa ditemani untuk tumbuh bersama. Kita diingatkan untuk membangun kebiasaan yang baik, juga cara untuk konsisten terhadapnya, dan bukan hanya menjadi wacana,” katanya.
Menurutnya, metode pembelajaran yang ringan dan menyenangkan membuat materi lebih mudah dipahami, bahkan bagi peserta yang sebelumnya merasa kurang percaya diri.
“Terasa ringan, menyenangkan, dan mudah dimengerti. Harapannya saya dan anak saya bisa nyaman dan percaya diri berbahasa Inggris,” tambah Meitha.
Keinginan untuk lebih percaya diri dalam percakapan sehari-hari juga menjadi alasan utama Petra (37), ibu rumah tangga, yang mengaku ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya, sekaligus mendampingi proses belajar anak-anak di rumah.
“Aku ikut les bahasa Inggris karena pengen lebih PD buat ngobrol sehari-hari, terutama sama anak-anak di rumah. Sekarang mereka juga lagi belajar, jadi aku pengen bisa sekalian nemenin dan jadi contoh juga,” ujarnya.
Pengalaman di hari pertama kelas meninggalkan kesan positif. Suasana belajar yang santai dinilai membuat peserta lebih berani mencoba, tanpa takut salah.
“Jujur senang banget. Suasananya santai, nggak tegang, jadi bikin aku lebih berani buat coba ngomong pakai bahasa Inggris walaupun masih belepotan,” katanya.
Menurutnya, pendekatan yang tidak kaku justru menjadi kunci untuk membangun kepercayaan diri. Ia merasa lebih termotivasi untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan berbicara. “Jadi makin semangat buat belajar lagi,” tambahnya.
Ia berharap bisa lebih lancar dan terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya memahami, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan percaya diri. “Semoga bisa konsisten belajar terus dan benar-benar terbiasa pakai bahasa Inggris,” ujarnya. [*]






