Mengapa Orang Makin Jarang Posting di Feed?

Feed media sosial
Share

digitalMamaID – Di masa awal kehadiran media sosial, banyak pengguna sangat aktif berbagi momen di feed. Mengunggah foto liburan, momen keluarga, hingga aktivitas sehari-hari menjadi kebiasaan yang umum dilakukan. Namun kini, banyak pengguna mulai jarang mengunggah konten di feed yang sifatnya permanen dan terus terpajang.

Sebagai gantinya, mereka lebih aktif menggunakan fitur story atau membagikan konten yang sifatnya sementara. Mungkin termasuk Mama juga, ya? Jika dilihat lebih dalam, perubahan ini adalah bagian dari pergeseran besar dalam cara kita memaknai media sosial.

Fenomena ini juga didukung oleh berbagai laporan global. Studi terbaru dari Ofcom dalam Adults’ Media Use and Attitudes Report 2026 menunjukkan, aktivitas pengguna dalam membuat konten seperti unggahan, komentar, atau berbagi mengalami penurunan, dari 61% pada 2024 menjadi sekitar 49%. Artinya, semakin banyak orang yang tetap menggunakan media sosial, tetapi lebih memilih menjadi penonton dibandingkan aktif mengunggah.

Feed menjadi “etalase diri”

Menurut Achmed Faiz, Koordinator Riset dari Center for Digital Society (CfDS) UGM menilai, pada awalnya feed media sosial merupakan ruang yang bebas untuk berbagi tanpa banyak kurasi karena jangkauannya terbatas pada keluarga dan teman. Namun kini, unggahan media sosial bersaing dengan konten-konten yang lebih profesional.  Tanpa disadari, hal itu meningkatkan ekspektasi dan standar estetika terhadap unggahan pribadi.

“Saat ini feed telah bertransformasi menjadi portofolio yang kaku,” ujar Achmed kepada digitalMamaID, Rabu, 15 April 2026. Kondisi ini menciptakan beban kognitif bagi pengguna karena setiap unggahan perlu dipertimbangkan secara matang.

Ia juga menyoroti munculnya fenomena seperti zero posting dan penggunaan akun kedua (second account), serta perubahan dinamika front stage dan back stage dalam interaksi digital, yang merujuk pada konsep dari Erving Goffman. Goffman adalah seorang Sosiolog Kanada-Amerika yang mempopulerkan teori dramaturgi di mana manusia adalah aktor yang memerankan peran tertentu di depan audiens. Di dalam teori ini ada dua interaksi yaitu front stage yaitu tempat masyarakat bersosialisasi dengan persona tertentu, dan back stage yaitu tempat karakter asli seseorang.

Story jadi pilihan lebih nyaman

Di sisi lain, pengguna juga semakin menyadari bahwa algoritma feed kini lebih kompetitif. “Ketika sebuah unggahan tidak mendapatkan engagement yang tinggi atau tidak memenuhi nilai estetika yang sesuai, hal tersebut memungkinkan pengguna merasa terganggu secara sosial,” lanjut Achmed.

Dalam konteks ini, fitur story menjadi alternatif yang lebih aman karena memungkinkan interaksi yang lebih personal dan tidak permanen. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap media sosial, dari ruang berbagi santai menjadi ruang yang lebih terkurasi dan penuh pertimbangan.

Hal ini juga dirasakan oleh Syifa (24), seorang pekerja swasta di Jakarta. Ia mengaku lebih nyaman mengunggah konten melalui story, bahkan mengelompokkannya ke dalam sorotan sesuai kategori tertentu. Sementara itu, unggahan di feed cenderung lebih sedikit.

“Kalau story kan cuma 24 jam, jadi lebih enak. Kalau di feed itu kayak ‘nempel’, orang bisa lihat terus,” ujarnya, Kamis, 16 April 2026. Ia juga melihat beberapa temannya sengaja membuat feed tetap kosong atau minim unggahan sebagai cara untuk menghindari penilaian dari orang lain.

Menjaga privasi atau takut dinilai?

Selain soal kenyamanan, meningkatnya kesadaran akan privasi digital juga menjadi faktor penting. Dengan arus informasi yang semakin masif, pengguna kini lebih memahami bahwa jejak digital bersifat permanen dan dapat berdampak di masa depan, baik secara sosial maupun profesional.

Namun, faktor psikologis juga berperan besar. Syifa mengaku kerap overthinking sebelum mengunggah sesuatu di media sosial.
“Ada overthinking-nya. Kadang takut, kayak ‘ih jelek nggak ya fotonya?’ atau ‘ini bagus nggak ya?’,” katanya.

Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep psikologi sosial yang dikenal sebagai fear of negative evaluation, yaitu ketakutan seseorang terhadap penilaian negatif dari orang lain. Dalam konteks media sosial, kondisi ini membuat pengguna cenderung berpikir berulang kali sebelum mengunggah sesuatu, bahkan memilih untuk tidak memposting sama sekali.

Sebuah studi dalam jurnal Frontiers in Psychology (2026) menemukan, ketakutan terhadap penilaian negatif secara langsung dapat mendorong perilaku sharing avoidance atau kecenderungan menghindari berbagi di media sosial. Artinya, semakin tinggi kekhawatiran seseorang akan penilaian orang lain, semakin besar kemungkinan ia memilih untuk tidak mengunggah konten sama sekali.

Kekhawatiran ini, menurut Achmed, juga dapat dijelaskan melalui teori Looking-Glass Self dari Charles Horton Cooley, yang menyebut bahwa cara seseorang melihat dirinya sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia merasa dilihat oleh orang lain.

Lebih lanjut, overthinking yang muncul juga dinilai wajar di tengah meningkatnya kerentanan digital saat ini. Kasus penyalahgunaan data pribadi hingga manipulasi foto dan video melalui teknologi seperti AI membuat pengguna semakin berhati-hati. Di sisi lain, overthinking juga bisa dilihat sebagai bentuk manajemen reputasi di tengah kompetisi yang terjadi di media sosial, sehingga proses kurasi sebelum mengunggah menjadi semakin mendalam.

Identitas yang semakin fleksibel dan pengaruh algoritma platform

Perubahan ini juga menunjukkan bahwa cara kita membangun identitas di dunia digital ikut bergeser. Mengacu pada konsep Liquid Identity dari Zygmunt Bauman, identitas saat ini tidak lagi bersifat tetap, melainkan terus berubah mengikuti situasi dan konteks.

Jika sebelumnya feed menjadi tempat untuk menampilkan “versi terbaik” diri, kini banyak orang lebih memilih menunjukkan proses kehidupan sehari-hari secara lebih spontan melalui story atau video singkat. Konten yang dibagikan tidak lagi harus sempurna, melainkan cukup merepresentasikan momen yang sedang terjadi.

Achmed melihat hal ini sebagai upaya pengguna untuk keluar dari narasi diri yang terlalu kaku. “Kita ‘berakting’ seolah-olah spontan, yang sebenarnya adalah strategi—baik disadari maupun tidak—untuk terlihat lebih manusiawi di tengah dunia digital yang terlalu terkurasi, kaku, dan kompetitif,” ungkapnya.

Di balik perubahan cara orang mengekspresikan diri ini, ada peran lain yang sering tidak disadari, yaitu algoritma media sosial yang ikut mengarahkan kebiasaan pengguna. Achmed menilai peran algoritma juga tidak bisa diabaikan. Platform seperti Instagram dan TikTok kini lebih mendorong konten yang cepat dan interaktif, seperti video pendek dan story. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan waktu penggunaan aplikasi (dwell time), sehingga pengguna lebih lama berada di dalam platform.

Akibatnya, konten feed yang bersifat statis menjadi kurang menarik dibandingkan konten yang dinamis. Di sisi lain, fokus algoritma juga mulai bergeser dari konten personal ke arah kebutuhan profesional dan hiburan, sehingga unggahan pribadi di feed menjadi terasa kurang relevan bagi sebagian pengguna.

Apa artinya bagi orangtua?

Bagi orangtua, memahami perubahan ini penting, terutama dalam mendampingi anak di era digital. Jika anak terlihat jarang mengunggah di feed, bukan berarti mereka tidak aktif di media sosial. Mereka hanya memilih cara berbagi yang berbeda. Beberapa perubahan yang terlihat saat ini antara lain:

  • Lebih sadar akan privasi digital
  • Lebih berhati-hati terhadap jejak digital
  • Lebih selektif dalam membagikan momen

Namun, penting juga untuk memperhatikan adanya tekanan sosial dan kecenderungan overthinking yang bisa memengaruhi kepercayaan diri. Bagi Mama, memahami dinamika ini bisa menjadi langkah awal untuk lebih bijak mendampingi anak di dunia digital. Kini, bukan hanya apa yang dibagikan yang penting, tetapi juga bagaimana mereka merasa saat menggunakan media sosial. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE