digitalMamaID — Puasa Ramadan memiliki banyak manfaat. Selain membersihkan diri secara spiritual, puasa juga dikenal memberi efek positif bagi kesehatan tubuh, termasuk sebagai proses detoksifikasi alami.
Hal ini disampaikan Koordinator Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PP PDUI) dr. Nurhadji Abdullah Kastari, saat mengikuti Kongres Nasional V Perhimpunan Dokter Umum Indonesia di Tangerang, Minggu, 1 Februari 2026.
Menurut dr. Nurhadji, puasa memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan, terutama jika dilihat dari sudut pandang pola makan atau diet puasa. Ia menyoroti, penyakit penyebab kematian tertinggi nomor satu, dua, dan tiga saat ini banyak dipicu oleh overnutrisi atau kelebihan gizi. Karena itu, diperlukan pengaturan pola makan yang tepat untuk mencegah kondisi tersebut.
“Nah, banyak sekali diet-diet yang notabene itu adalah puasa. Salah satunya intermittent fasting,” kata dia.
Puasa Ramadan, lanjut dr. Nurhadji, memiliki mekanisme yang serupa dengan diet intermiten. Selama dilakukan dengan benar, puasa dapat memberi dampak positif bagi tubuh, seperti membantu perbaikan sel-sel tubuh, dengan catatan asupan makanan dan cairan tetap tercukupi saat berbuka dan sahur.
“Ketika tubuh tidak menerima makanan sejak subuh hingga menjelang waktu berbuka, maghrib, maka mekanisme pertahanan antioksidan ikut bermain,” ujarnya.
Manfaat puasa bagi tubuh
Selain membantu mencegah obesitas atau kelebihan nutrisi, tidak makan dalam jangka waktu tertentu akan memicu tubuh masuk ke mode bertahan hidup. Dalam kondisi ini, tubuh mulai menggunakan cadangan energi secara bertahap, seperti glukosa yang tersimpan di hati dan otot (glikogen), untuk diubah menjadi energi.
“Pada saat pencernaan kita sudah kosong, nah itu akan mengoptimalkan fungsi-fungsi enzimatis kita, fisiologis pencernaan kita termasuk mengambil cadangan yang berlebihan. Asalkan, kita juga tidak balas dendam pada waktu berbuka puasa,” ucapnya.
Apakah ibu hamil boleh berpuasa?
“Prinsipnya tidak ada halangan untuk ibu hamil berpuasa, dengan catatan ibu hamil tersebut dalam kondisi sehat,” ujar dr. Nurhadji.
Namun, dalam kondisi tertentu, ibu hamil tetap memerlukan pertimbangan dokter sebelum berpuasa. Misalnya, jika ibu mengalami kekurangan nutrisi atau masalah kesehatan lain yang berpotensi membahayakan ibu maupun janin.
“Saat berpuasa, ibu hamil juga disarankan untuk tidak beraktivitas yang berlebihan. Aktivitas yang menyebabkan keringat berlebih karena itu juga membahayakan, berisiko terjadi dehidrasi,” tambahnya.
Ibu hamil boleh berpuasa, asal…
Dokter kandungan dari Bintaro Women Children (BWCC) dr. Hasra Depiesa Dianika, Sp.OG, menegaskan, pada prinsipnya ibu hamil boleh berpuasa. Namun, ada syarat dan ketentuan yang harus diikuti.
Berikut kondisi ibu hamil yang tidak disarankan berpuasa, menurut dr. Hasra:
- Usia kehamilan trimester pertama dengan keluhan mual muntah berat, sehingga asupan makanan dan nutrisi tidak terpenuhi secara seimbang.
- Ibu hamil dengan status nutrisi tidak baik, seperti berat badan kurang, berisiko anemia, mudah lelah, atau memiliki komplikasi kehamilan.
- Pertumbuhan janin tidak optimal, misalnya berat badan janin tidak sesuai usia kehamilan.
- Ibu hamil dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes, anemia berat, atau penyakit kronis lainnya.
Tips aman berpuasa untuk ibu hamil
Bagi ibu hamil yang tetap ingin berpuasa, dr. Hasra menyarankan beberapa strategi berikut:
- Menyiapkan kondisi fisik sebelum puasa, pastikan berat badan dan kebutuhan kalori tercukupi.
- Makan besar dua kali saat sahur dan berbuka, ditambah camilan sehat setelah berbuka hingga sebelum tidur.
- Hindari makanan terlalu manis dan karbohidrat sederhana.
- Pilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, jagung, atau sereal.
- Hindari gorengan, mi, dan makanan berbahan dasar tepung.
- Usahakan ada dua jenis protein, hewani dan nabati, di setiap waktu makan.
- Sayur dan buah wajib dikonsumsi setiap hari.
- Hindari minuman berkarbonasi, serta batasi teh dan kopi.
- Jangan lupa berkonsultasi dengan dokter kandungan jika muncul kondisi yang berisiko bagi ibu maupun janin.
Keluhan yang umum dialami ibu hamil
Setiap ibu hamil bisa mengalami keluhan yang berbeda-beda. Mama perlu mengenali apakah keluhan tersebut masih tergolong normal atau sudah menjadi tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan medis. Beberapa keluhan yang umum terjadi pada ibu hamil antara lain:
- Sembelit
Mengutip American Pregnancy Association, sembelit pada ibu hamil biasanya disebabkan perubahan hormon dan tekanan rahim pada usus. Atasi dengan memperbanyak konsumsi serat dan minum air putih minimal delapan gelas per hari. - Perut kram
Umumnya terjadi saat rahim meregang, terutama trimester kedua, dan bisa terasa hingga area panggul atau pangkal paha. - Tangan dan kaki bengkak
Pembengkakan terjadi akibat peningkatan cairan tubuh. Kurangi dengan membatasi garam, rutin bergerak, dan menghindari berdiri terlalu lama. - Sakit punggung
Perubahan hormon dan beban rahim yang membesar dapat memicu nyeri punggung. - Sakit kepala
Sering terjadi di awal kehamilan dan biasanya berkurang di trimester akhir. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, namun tetap mengganggu kenyamanan. - Sering buang air kecil
Umum terjadi di awal dan akhir kehamilan karena tekanan rahim dan kepala janin pada kandung kemih. - Keputihan
Merupakan kondisi normal akibat perubahan hormon selama kehamilan. - Asam lambung naik
Dipicu oleh perubahan hormon dan tekanan janin pada lambung. - Tubuh lemas dan mudah lelah
Dikenal sebagai pregnancy fatigue, yang bisa memburuk jika disertai dehidrasi. - Sesak napas
Sering dialami pada trimester ketiga akibat dorongan janin ke arah paru-paru. - Vagina gatal
Bisa disebabkan keputihan atau dehidrasi. Jika berlebihan, sebaiknya segera konsultasi ke dokter.
Mama, sudah siap berpuasa? [*]






