Hati-Hati, Vitamin Palsu Marak Dijual di E-Commerce!

Ilustrasu vitamin palsu
Share

digitalMamaID — Cuaca yang semakin nggak menentu belakangan ini, membuat Mama lebih waspada menjaga daya tahan tubuh keluarga terutama si kecil. Vitamin pun seringkali jadi andalan agar anak tetap sehat dan aktif. Tapi apa jadinya kalau yang dibeli justru vitamin palsu?

Demi kepraktisan, e-commerce pun sering jadi pilihan untuk membeli vitamin. Pengiriman cepat, mudah, dan harganya pun murah. Namun, di balik kemudahan itu, ada yang perlu Mama waspadai nih, yaitu maraknya peredaran vitamin palsu di platform digital, terutama vitamin-vitamin impor.

Sebetulnya isu vitamin palsu ini sudah bergulir lama, namun belakangan ramai lagi dibahas di Threads dan X, karena ada beberapa konsumen yang mengeluhkan tentang kemasan vitamin yang rusak, luntur dan dirasa nggak sesuai dengan gambar.

Cuitan berawal dari Adelia @Racunkudishopee yang menemukan banyak vitamin palsu di toko oren, tak disangka banyak yang merepost, berkomentar hingga ribuan orang yang ternyata punya banyak pengalaman serupa.

           

Beberapa komentar yang muncul di akun X @Racunkudishopee yang menceritakan pengalaman membeli vitamin palsu

Apa saja ciri-ciri vitamin palsu?

  • Tidak ada izin BPOM

Izin BPOM pada vitamin bukan sekadar formalitas. Produk yang terdaftar di BPOM telah melalui proses penilaian keamanan, mulai dari bahan, dosis, hingga standar produksinya, sehingga kandungannya sesuai dengan yang tertera di label.

Hal ini penting karena vitamin tanpa izin BPOM berisiko mengandung bahan berbahaya atau dosis yang nggak sesuai, terutama bagi anak yang tubuhnya masih sensitif. Dengan memilih vitamin berizin BPOM, Mama juga lebih tenang karena produk tersebut dapat ditelusuri dan ditindaklanjuti jika terjadi masalah.

  • Label kemasan tidak sesuai, buram, rusak, bahkan typo

Ciri-ciri vitamin palsu umumnya bisa dikenali dari kemasannya. Produk palsu sering memiliki kemasan yang kurang rapi atau rusak, tulisan dan gambar yang buram, serta informasi yang tidak lengkap, seperti tanggal kadaluwarsa, komposisi, atau nomor izin BPOM. Tak jarang pula ditemukan kesalahan penulisan pada label.

Menariknya, beberapa vitamin palsu yang beredar terutama yang ramai dibicarakan di media sosial memiliki kemasan atau bentuk botol yang terlihat seragam dan berbeda dari kemasan merek vitamin ternama. Usut punya usut, kemasan ini di repacking lagi, sehingga Mama perlu lebih jeli sebelum membeli.

  • Sering ditemukan dalam bentuk soft gel atau gummy

Vitamin palsu kerap dibuat dalam bentuk gummy, yang isinya sebenarnya hanya minyak ikan dan gelatin. Ada juga yang soft gel karena lebih mudah disamarkan. Cangkangnya yang tertutup rapat membuat isi di dalamnya tidak terlihat jelas, sehingga sulit dibedakan secara kasat mata.

Selain itu, bentuk soft gel yang mengilap dan terlihat premium sering diasosiasikan dengan vitamin impor atau berkualitas tinggi, sehingga lebih mudah dipercaya konsumen. Tanpa standar produksi yang jelas, soft gel juga relatif murah untuk diproduksi, membuatnya kerap dipilih oleh pelaku pemalsuan. Tapi, nggak semua vitamin soft gel itu palsu ya, Mama!

  • Informasi dosis, komposisi, dan aturan pakai nggak lengkap

Seringkali vitamin palsu ini nggak mencantumkan informasi lengkap terkait kandungan, dosis, cara penggunaan dan peringatan terkait produknya. Kalau pun ada, terkadang menggunakan bahasa asing.

Vitamin palsu biasanya nggak memiliki nomor registrasi, jadi saat dicek melalui aplikasi atau situs resmi BPOM, nggak akan muncul.

Jadi, saat hendak membeli vitamin, pastikan produk tersebut memiliki nomor BPOM. Jika kurang yakin Mama jangan lupa mengecek keaslian nomor tersebut melalui laman resmi BPOM.

  • Harga jauh lebih murah

Jika dibandingkan harga vitamin palsu biasanya jauh lebih murah dari yang asli atau dengan suplemen sejenis lainnya. Perbedaan harga yang terlalu signifikan ini, Mama harus waspada, dan curiga apakah masuk akal vitamin D3 isi 60 kapsul dijual di bawah Rp 100 ribu, misalnya.

Di e-commerce banyak sekali vitamin terkenal, vitamin impor yang dijual dengan harga murah dibandingkan di website resminya atau toko lainnya. Tidak sedikit juga konsumen yang membeli dan mereview vitamin yang diduga palsu itu, terhitung sudah ribuan bahkan. Mama mesti lebih jeli!

Dampak konsumsi vitamin palsu

Dilansir dari laman instagram Halodoc, penggunaan vitamin palsu ini bisa berisiko terhadap kesehatan, diantaranya;

  • Berisiko mengandung zat berbahaya yang bisa merusak organ hati hingga memicu penyakit kronis

  • Berbahaya jika di konsumsi bersamaan dengan obat tertentu (menimbulkan interaksi yang nggak diinginkan)

Vitamin palsu bisa kandungannya tidak jelas dan tidak terkontrol. Jika dikonsumsi bersamaan dengan obat tertentu, vitamin palsu berisiko menimbulkan interaksi obat yang tidak diinginkan, seperti menurunkan efektivitas obat, memperberat kerja hati dan ginjal, hingga memicu efek samping seperti mual, pusing, alergi, atau gangguan pencernaan. Pada kasus tertentu, kandungan berbahaya atau dosis yang berlebihan juga bisa meningkatkan risiko keracunan, terutama pada anak, ibu hamil, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

  • Merugikan finansial dan membahayakan kesehatan jangka panjang

Dampaknya nggak main-main ya Ma! Mama perlu lebih hati-hati lagi jika ingin membeli vitamin di e-commerce. Jangan tergoda harga murah atau klaim berlebihan, selalu cek kemasan, izin BPOM, dan pastikan membeli dari penjual tepercaya. Langkah sederhana ini bisa memberi perlindungan besar, agar vitamin yang dikonsumsi benar-benar membantu menjaga daya tahan tubuh, bukan justru membawa risiko bagi Mama dan si kecil.

Jika Mama masih kurang yakin, Mama juga bisa beli di apotek atau drug store. Karena mereka beli dari distributor resmi, yang sudah punya Sertifikasi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB), dimana setiap pengantaran dan penyimpanan harus sesuai standart CDOB. CDOB ini adalah bukti sah bahwa Pedagang Besar Farmasi (PBF) memenuhi persyaratan Badan POM dalam mendistribusikan obat dan/atau bahan obat. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting