digitalMamaID — Sekumpulan awan gelap nampak menggantung di jejeran kanvas ruang pameran. Namun, bukan awan ringan yang lembut dan menguap. Melainkan awan-awan yang lahir dari guratan bolpoin, saling bertumpuk seperti ombak.
Bagi banyak orang, awan adalah simbol ketenangan. Namun bagi Stevia Widyatmasari, perupa perempuan asal Palangka Raya, awan adalah personifikasi dari harapan yang tinggi sebuah puncak yang ingin diraih meski menggantung jauh di langit. Awan juga mencerminkan emosi yang kompleks termasuk kemarahan, ekspektasi sosial dan tantangan yang dihadapi Stevia selama kehidupan pribadi dan profesionalnya.
“Awan ini ‘marah’ bukan karena kebencian, melainkan karena memikul beban emosi yang luar biasa dalam proses pendewasaan. Juga perayaan atas ketangguhan manusia dalam menghadapi naik-turunnya emosi demi mencapai titik tertinggi dalam hidupnya,” ujar Stevia saat ditemui di gelaran Teman Festival, Sabtu, 24 Januari 2026 di Cafe Afterwork, Palangka Raya.

Penggunaan warna-warna dan guratan bolpoin yang agresif dalam karyanya melambangkan badai internal yang harus dilewati: air mata yang tumpah, drama kehidupan yang tak terduga, hingga benturan antara ambisi pribadi, dan ekspektasi sosial.
Karya Stevia yang sarat kritik dengan visual kuat dan emosional adalah responsnya terhadap tragedi aksi emonstrasi di bulan Agustus 2025 lalu. Sebuah elemen awan penuh harap, mata kosong, telinga kelinci yang ganjil dan tetesan warna merah mengalir. Menurutnya, karya itu muncul dari perasaan kebingungan dan ketidakpastian tentang siapa yang sebenarnya menjadi musuh dan korban dalam situasi tersebut.
“Telinga kelinci melambangkan seolah-olah mendengar, tetapi sebenarnya tidak mendengar, menandakan ketidakpedulian atau ketidakmampuan untuk benar-benar memahami situasi pada waktu itu,” tambahnya.

Stevia menilai doodle art adalah cara otentiknya dalam berkarya sesuai dengan perasaannya yang jujur. Dia merasa memiliki kebebasan untuk bereksperimen dengan pola dan goresan detail di atas kanvas menggunakan bolpoin.
Meski sebelumnya pernah mencoba menggunakan akrilik, namun feel yang tepat dia rasakan saat menuangkannya dengan doodle art. “Rasanya langsung dan jujur tanpa harus melalui proses panjang seperti menunggu cat akrilik mengering,” ujar Stevia yang karya-karyanya banyak terinspirasi dari gaya seni Jepang.
Menyalakan mimpi di media sosial
Stevia yang merupakan lulusan fakultas hukum mengaku baru memulai lagi membuat karya seninya setelah anak-anaknya mulai tumbuh besar dan lebih mandiri. Setelah menikah dan fokus pada keluarga serta karier di bidang hukum, akhirnya Stevia menemukan kembali waktu dan kesempatan untuk mengeksplorasi minatnya dalam seni.
“Ketika anak-anak sudah memasuki usia sekolah, saya mulai lagi menggambar dan posting karya di Instagram. Teman-teman lama yang mengetahui minat saya dalam menggambar sejak masa kuliah juga memberikan dorongan dan apresiasi,” kata Stevia.
Menurut dia, media sosial menjadi ruang awal untuk berbagi karya dan mendapatkan keberanian untuk kembali mengakui identitas kreatifnya yang sempat tertunda. Dukungan dari teman-teman lama yang mengetahui ketertarikannya pada seni sejak masa kuliah memberi validasi bahwa perjalanan ini layak dilanjutkan.
Stevia berkeyakinan, meskipun perannya sebagai ibu menuntut banyak perhatian, tetap penting untuk menjaga nyala api kreativitas dan mengekspresikan diri melalui seni.
“Setiap orang memiliki waktu dan prosesnya sendiri, dan tidak ada kata terlambat untuk para ibu memulai kembali sesuatu yang dicintai,” ujarnya.
Stevia pun dengan tegas akan terus berkarya dengan jujur dan menyambut kejutan lain di depan. Rencananya, pertengahan tahun 2026 nanti sudah ada ajakan pameran dan dia sangat bersemangat untuk itu.

Dari kanvas ke tekstil : Ketika emosi dijahit
Dalam pameran ini, hadir pula partisipan kreatif, Lusy Oklivtita, yang merespon “Angry Cloud” melalui karya menjahit berupa bantal berbentuk awan. Sebagai orang yang merespons karya, ia memilih medium tekstil untuk menafsir ulang emosi yang hadir dalam lukisan.
Jika Angry Cloud merepresentasikan luapan emosi dan kemarahan, Lusy menghadirkan awan sebagai ruang penyimpanan ingatan, perasaan, dan sisa-sisa pengalaman hidup. Bagaimana emosi itu dijahit, disimpan dan dipahami bukan diluapkan semata.
“Awan putih yang terbuat dari kain lembut itu berisi dakron dengan latar kain perca kumal ragam warna yang dikombinasikan dengan tikar anyam dari tanaman purun sebagai alasnya. Terdapat mata hitam tersemat di awannya. Mata yang memberi kesan awas, merekam sekaligus memendam,” ujar ibu dua anak itu.
Kain perca berbeda warna dipilihnya sebagai simbol fragmen kehidupan dan emosi perempuan. Setiap potongannya merepresentasikan ragam perasaan: lembut, kusut, cerah, tenang, atau meledak-ledak.
“Proses menjahitnya satu per satu seperti metafora penyatuan emosi yang juga butuh waktu, kesabaran dan keterhubungan sehingga bisa membentuk satu kesatuan,” kata Lusy yang juga menggeluti dunia teater bersama Borneo Art Play.
Sementara tikar purun sebagai alas dimaknai sebagai ruang keseharian, tempat istirahat dan menjalani rutinitas. Ketika awan emosi diletakkan di atas tikar, terjadi pertemuan antara perasaan batin ruang hidup sehari-hari. Tikar menopang awan, sebagaimana keseharian menopang perasaan, merawat sekaligus membentuknya.
Ia mengatakan, respon karya Angry Cloud itu menjadi langkah awalnya untuk eksplorasi fiber art yang berangkat dari pengalaman menjahit dalam praktik seni pertunjukkan.
“Sebelumnya saya menjahit untuk seni pertunjukkan teater saja bersama Borneo Art Play. Senang sekali kali ini saya bisa eksplorasi respon karya seniman perempuan lain dengan fiber art. Ini pengalaman baru karena ada proses dialog antar karya sebagai pertumbuhan artistik,” tambahnya.






