You Only Need One (YONO): The New YOLO untuk Hidup yang Berkesadaran

Ilustrasi You Only Need One (YONO)
Share

digitalMamaID — Di era flash sale, konten unboxing dari influencer, hingga tren mainan yang cepat berganti, banyak orangtua menghadapi tantangan yang sama: bagaimana mengajarkan anak membedakan kebutuhan dan keinginan. Paparan ini membuat anak dengan mudah merasa butuh banyak hal, meski belum tentu semuanya benar-benar digunakan atau dibutuhkan dalam jangka panjang. Orangtua pun kerap berada di persimpangan antara ingin membahagiakan anak dan menjaga pola konsumsi keluarga tetap sehat. Di titik inilah konsep You Only Need One (YONO) menjadi relevan. Apa itu YONO?

Riset perilaku konsumen di Indonesia menunjukkan, strategi flash sale dan promosi berbatas waktu secara signifikan mendorong impulsive buying, terutama di platform e-commerce. Strategi ini membentuk kebiasaan membeli tanpa perencanaan, sebuah pola yang tanpa disadari juga diamati dan ditiru anak dari orangtuanya.

Pertanyaannya kemudian, apakah orangtua sudah memberi contoh yang konsisten? Perilaku anak yang mudah FOMO terhadap mainan atau barang tertentu bisa jadi berakar dari kebiasaan orangtuanya sendiri. Misalnya, membeli peralatan rumah tangga tambahan hanya karena tergiur diskon, padahal fungsi barang yang ada masih memadai. Dari titik inilah refleksi tentang pola konsumsi menjadi penting.

Situasi tersebut membuat konsep You Only Need One (YONO) menjadi relevan. Sesuai namanya, konsep YONO menekankan pilihan yang berkesadaran: cukup satu barang yang benar-benar dibutuhkan dan digunakan.

You Only Need One, fase baru You Only Live Once

Sebelum istilah YONO dikenal sebagai bagian dari gaya hidup minimalis, istilah You Only Live Once (YOLO) lebih dulu populer sebagai versi modern dari carpe diem. Pada makna awalnya, YOLO merupakan ajakan untuk menghargai hidup dan berani mengambil keputusan, bukan dorongan untuk bertindak tanpa pertimbangan.

Namun, dalam budaya populer terutama di era media sosial, YOLO kerap bergeser makna. Ia sering dijadikan pembenaran atas keputusan konsumtif yang impulsif. Belanja diposisikan sebagai bentuk menikmati hidup atau self-reward, bahkan dikaitkan dengan kesehatan mental. Padahal, kepuasan semacam ini kerap bersifat sementara dan tidak selalu memberi makna yang bertahan lama.

Dari kegelisahan itulah konsep You Only Need One (YONO) muncul. YONO bukan penolakan terhadap YOLO, melainkan fase lanjutan yang lebih reflektif. Jika YOLO menekankan keberanian menikmati hidup, YONO mengajak untuk memilih dengan lebih sadar: hidup tetap dirayakan, tetapi dengan batasan yang dipilih sesuai kebutuhan.

Satu yang bermakna

Prinsip hidup YONO sudah lama diterapkan Raditya Dika. Penulis sekaligus komika ini dikenal konsisten menjalani gaya hidup minimalis. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap memperlihatkan rumahnya yang relatif minim barang dan penampilan yang sederhana.

Dalam podcast YouTube bersama Jeremhy Owen pada 24 Desember 2025 lalu, Radit bercerita bagaimana prinsip satu barang yang benar-benar dipakai mengubah cara pandangnya terhadap kepemilikan. “Gue inget banget pertama kali gue beli jam itu film Single tahun 2015. Itu tembus satu juta pertama,” ujarnya.

Jam tangan tersebut menjadi simbol pencapaian dan bentuk perayaan atas kerja kerasnya. Namun, seiring waktu, setiap pencapaian baru selalu diikuti dengan pembelian jam tangan baru. Film lain yang tembus sejuta penonton, tur stand-up comedy, semuanya dirayakan dengan cara serupa. Hingga akhirnya, ia menyadari perubahan makna dari benda-benda tersebut.

“Lama-lama gue ngelihat semua jam itu kayak banyak banget dan gue nggak pernah pakai. Ceritanya jadi nggak ada,” katanya.

Kesadaran itu mendorong Radit menjual seluruh koleksi jam tangannya dan memilih satu jam yang benar-benar ia pakai. Namun pandemi membuat jam tersebut nyaris tak pernah digunakan. Ia pun kembali menjualnya.

Setelah itu, Radit sempat membeli satu jam tangan lagi dengan prinsip yang sama. Namun, ketika orang-orang di sekitarnya mengetahui kegemarannya, ia mulai menerima banyak jam sebagai hadiah. “Kalau kado, sayang dong dijual. Gue nggak mungkin jual kado orang,” ujarnya. Akibatnya, jumlah jam tangannya kembali bertambah, meski jarang dipakai.

Hingga suatu hari, setelah menghadiri sebuah acara, ia kembali membeli satu jam untuk dirinya sendiri. Alasannya sederhana: “Gue butuh satu aja yang punya gue.” Dari refleksi itulah ia merangkum prinsip you only need one. Cukup satu barang yang benar-benar menjadi miliknya dan digunakan.

Prinsip serupa ia terapkan pada barang lain. Salah satunya ransel yang telah ia pakai selama delapan tahun. Untuk mengatasi rasa bosan, ia menambahkan aksesori kecil agar tas tersebut terasa baru, tanpa harus menggantinya.

Barang mahal dengan kualitas baik justru lebih hemat

Bagi Radit, membeli barang mahal tidak selalu berarti boros. “Kalau prinsip gue, beli barang yang berkualitas, harga mahal, itu nggak apa-apa karena gue ngitungnya dari cost per use-nya,” katanya.

Menurutnya, satu barang berkualitas yang dipakai bertahun-tahun justru lebih efisien dibanding barang murah yang cepat rusak dan harus sering diganti. Ia mencontohkan celana yang telah dipakainya sekitar lima tahun, bahkan dibuat khusus dengan bahan pilihan agar lebih awet dan sesuai kebutuhan.

Prinsip ini juga ia terapkan dalam kepemilikan mobil. Radit memilih memiliki mobil secukupnya. Satu untuk kebutuhan pribadi dan satu untuk keluarga, tanpa menambah koleksi meski secara finansial memungkinkan. Ia mengaku sempat tergoda, tetapi masukan dari perencana keuangannya membuatnya berpikir ulang.

“’Ngapain nambah mobil lagi? Lu punya mobil satu aja juga udah cukup,’” ujarnya menirukan nasihat tersebut.

Sejak itu, ia memilih kendaraan yang awet dan digunakan dalam jangka panjang. Pengalaman memakai mobil bertahun-tahun membangun keterikatan emosional, hingga akhirnya ia baru mengganti mobil setelah benar-benar dibutuhkan.

Adaptasi YONO untuk orangtua

Bagi orangtua, prinsip YONO dapat diterapkan dengan langkah sederhana: mengurangi mainan yang jarang dipakai, fokus pada barang yang merangsang kreativitas anak, serta menjelaskan perbedaan kebutuhan dan keinginan sejak dini. Rumah yang lebih rapi juga membuka ruang untuk kualitas waktu bersama keluarga.

Kuncinya adalah konsistensi. Bukan sekadar aturan, melainkan teladan. Ketika anak melihat contoh dari orangtuanya bahwa memiliki sedikit barang namun bermakna bisa membuat hidup lebih ringan, mereka akan belajar menghargai apa yang benar-benar penting. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE