digitalMamaID — Apakah Mama penikmat film? Dulu, bioskop jadi pilihan utama karena pengalaman menonton terasa spesial. Tapi sekarang, layanan Over-The-Top (OTT) menawarkan cara menonton yang lebih fleksibel.
Selama puluhan tahun, bioskop sudah menjadi pilihan utama untuk menikmati film. Layar besar, suara menggelegar, dan suasana gelap ruang teater menghadirkan pengalaman menonton yang terasa istimewa dan sulit tergantikan. Dulu pergi ke bioskop bukan sekadar menonton film tapi, juga menjadi momen melepas penat dan menikmati waktu bersama teman.
Namun seiring waktu, kebiasaan itu mulai bergeser dengan kehadiran layanan OTT seperti Netflix, Disney+ Hotstar, HBO, VIU, iQIYI, dan lainnya. Layanan paid streaming ini menawarkan cara baru menikmati film yang lebih fleksibel, beragam dan personal.
Seorang ibu tinggal di Bandung, Ninis (33) mengaku, sekarang lebih memilih untuk menonton film melalui layanan OTT ketimbang bioskop lantaran keterbatasan yang dimiliki. “Susah ninggalin rumah karena anak-anak masih pada kecil. Terus enaknya nonton di rumah itu bisa sambil rebahan, bisa dijeda atau rewatch, diakses kapanpun,” ungkap Ninis pada digitalMamaID Kamis 15 Januari 2026.
Dari sisi pengeluaran, Ninis juga menilai menonton film melalui OTT jauh lebih hemat karena tidak membutuhkan biaya transportasi maupun pengeluaran tambahan seperti jajan di luar rumah.
Senada dengannya, Desy (34) juga memilih menonton melalui layanan OTT karena dinilai lebih fleksibel. Fitur jeda dalam OTT menurutnya sangat membantunya yang kerap mengantuk di tengah film.
Meski lebih sering menonton melalui OTT, Desy tidak sepenuhnya meninggalkan bioskop. “Kalau diajak teman atau memang ingin nonton film tertentu ke bioskop. Walaupun nantinya suka ada aja (filmnya) di Netflix,” ungkapnya.
Chandra (36) juga memilih layanan OTT untuk menonton film karena, fleksibel dan dianggap lebih personal. Ia menyebut fitur jeda menjadi keunggulan utama, terutama saat menonton di tengah aktivitas lain.
Meski demikian, Chandra tak menampik bahwa pengalaman menonton di bioskop tetap tidak tergantikan. Menurutnya, kualitas Dolby sound yang dihadirkan di bioskop memberikan efek yang jauh berbeda dibandingkan platform streaming. Perbedaan tersebut membuat sensasi menonton terasa lebih nyata dan imersif. “Experience-nya itu sih yang beda,” jelasnya.
Lain halnya dengan Risma (24), baik menonton di bioskop atau layanan OTT, ia mengaku menyukai keduanya. Dalam keseharian, ia lebih sering menggunakan layanan OTT karena bisa menonton apa saja dengan banyak pilihan.
“Namun, untuk film-film genre tertentu, terutama hero seperti Avengers, nonton di bioskop bakal lebih seru karena antusiasme penontonnya yang biasanya udah sama-sama (dari awal) ngikutin. Kalau di tengah film atau pas klimaksnya ada plot twist, pasti lebih seru,” katanya.
Sedangkan bagi Mira (33), menonton di bioskop menjadi pilihannya karena memberikan pengalaman yang jauh lebih terasa dibandingkan di platform streaming. “Feel-nya lebih kerasa nonton film, dari sound-nya, tempatnya, layarnya,” bagi Mira.
Terkait layanan OTT, Mira sendiri mengaku tidak berlangganan karena keterbatasan waktu, terutama sejak kelahiran anaknya, kesibukannya meningkat dan waktu luang untuk menonton film semakin sulit didapat.
Pergeseran konsumen dari bioskop ke OTT
Pengalaman para penikmat film di atas sejalan dengan tren pergeseran konsumsi hiburan yang terjadi secara global. Dalam laporan Global Digital (Digital Global Overview Report) yang terbit tiap tahun dari We Are Social & Meltwater yang tersedia di DataReportal Februari 2025.
Persentase pengguna internet (usia 16 tahun ke atas) yang membayar untuk layanan streaming setiap bulan pada awal tahun 2025 sekitar 30,1 persen secara global. Ini berarti sekitar 3 dari 10 pengguna internet di seluruh dunia berlangganan layanan OTT seperti Netflix, Disney+ Hoststar, Amazon Prime Video, dan lain-lain.

Di Indonesia sendiri, ada sekitar 34,7 persen pengguna internet (usia 16 tahun ke atas) yang membayar langganan layanan streaming setiap bulan. Perbandingan ini menunjukkan pertumbuhan penetrasi langganan streaming di Indonesia dari sekitar 30,8 persen pada tahun 2024 menjadi sekitar 34,7 persen pada tahun 2025.
Dalam hasil penelitian berjudul “Model Bisnis Berlangganan dalam Ekosistem Digital: Studi Kasus Platform Streaming pada Bisnis Bioskop” karya Ahmad Adnan Gotala, Andrew Ridow Johanis, dan Muh. Khaddafi menunjukkan, model berlangganan platform streaming menawarkan fleksibilitas, kenyamanan, dan harga yang lebih kompetitif, sehingga mendorong pergeseran preferensi konsumen dari bioskop ke layanan digital.
Temuan utamanya mengungkapkan, konsumen kini lebih mengutamakan akses tanpa batas, jadwal menonton yang fleksibel, serta personalisasi konten yang sulit ditandingi bioskop dengan model penjualan tiket per tayangan. Kondisi ini berdampak pada penurunan frekuensi kunjungan bioskop dan melemahnya eksklusivitas bioskop sebagai tempat utama menonton film baru, terutama sejak maraknya strategi perilisan simultan di bioskop dan platform streaming.
Penelitian lain oleh Said Nur Umar dan kawan-kawan juga menemukan layanan OTT menawarkan biaya tetap bulanan yang seringkali lebih hemat dibanding biaya tiket bioskop per kunjungan, dan ini mendorong beberapa konsumen beralih ke streaming.
Dengan satu langganan bulanan, pengguna dapat mengakses berbagai konten tanpa batas. Sebaliknya, harga tiket bioskop untuk satu kali penayangan berkisar Rp35.000–Rp150.000 per film. Sementara biaya langganan layanan streaming seperti Netflix berada di kisaran Rp45.000–Rp200.000 per bulan. Artinya, biaya langganan bulanan OTT sudah bisa membayar beberapa kali nonton film, sehingga dari sisi biaya bisa jadi lebih ekonomis bila sering menonton.
Survei Populix juga turut menunjukkan rata-rata konsumen di Indonesia mengeluarkan hingga sekitar Rp250.000 per bulan untuk langganan video streaming (bisa untuk beberapa platform sekaligus), dan ini masih dianggap terjangkau oleh banyak responden karena mereka mendapatkan akses banyak konten tanpa batas selama periode langganan.
Keberlanjutan bioskop
Meski demikian, daya saing bioskop belum sepenuhnya hilang. Dilansir dari UNAIR, bioskop masih memiliki peluang bertahan. Melalui strategi adaptasi, antara lain dengan mengembangkan program keanggotaan berlangganan, meningkatkan pengalaman menonton lewat teknologi seperti IMAX, Dolby Atmos, dan 4DX, serta menghadirkan acara komunitas dan pengalaman sosial yang mungkin tidak dapat direplikasi oleh layanan streaming.
Alih-alih bersaing, bioskop dan OTT berpeluang saling melengkapi melalui kolaborasi, seperti tiket bundling dengan langganan streaming atau penayangan eksklusif di bioskop bagi pelanggan OTT.
Layanan OTT unggul dalam pemanfaatan data dan personalisasi konten, sementara bioskop masih memiliki kekuatan pada pengalaman menonton yang imersif, terutama untuk film-film yang mengandalkan visual dan audio. Dengan inovasi teknologi dan pendekatan personal kepada penonton, bioskop tetap berpeluang bertahan di era digital.
Keberlanjutan bisnis bioskop sangat bergantung pada kemampuannya berinovasi, menciptakan pengalaman unik, dan mengadopsi pendekatan bisnis yang lebih fleksibel agar tetap relevan di tengah ekosistem hiburan digital yang terus berkembang.
Walau mulai tergeser, akan tetapi bioskop masih menjadi barometer utama dalam kesuksesan film. Rilis film di bioskop menjadi prestige tersendiri bagi para produser dan pelaku film.
Sutradara Mouly Surya dalam QNA di Metro TV juga mengungkapkan, bioskop dan layanan streaming adalah dua medium yang berbeda. Proses pembuatannya pun sangat berbeda. Film yang dirancang untuk streaming memang ditujukan untuk ditonton di rumah, di tengah banyak distraksi.
“Karena itu, pengalaman menontonnya juga tidak sama. Di bioskop, penonton bisa fokus selama sekitar dua jam penuh. Sementara streaming lebih mirip dengan televisi, terutama jika dibandingkan dengan serial TV. Dari sisi visual saja sudah terlihat perbedaannya. Karena layar televisi lebih kecil, penggunaan shot close cenderung lebih dominan dibandingkan shot wide,” ungkap Mouly
“Dengan perbedaan tersebut, pengalaman menonton yang dihadirkan bioskop dan streaming memang tidak bisa disamakan,” pungkasnya.
Kalau Mama tim bioskop atau streaming, nih? [*]






