Menciptakan Lingkungan Kerja Inklusif untuk Pekerja Difabel

Difabel
Share

digitalMamaID — Dunia kerja menjadi medan perang bagi semua orang, tidak terkecuali bagi difabel. Belum lagi badai PHK (pemutusan hubungan kerja) yang terus terjadi di pelbagai sektor industri, membuat jumlah pengangguran semakin merajalela di Indonesia.

Maka tidak heran bila kemudian kesempatan kerja bagi difabel semakin tergeser dan terpinggirkan. Jangankan berharap memiliki pekerjaan dengan lingkungan kerja yang inklusif dan mendukung, paradigma masyarakat saja dalam memandang mereka seringkali menganggapnya sebagai aib, beban, dan kelompok lemah yang tidak bisa berdiri sendiri.

Hal ini semakin membuat kelompok difabel terdiskriminasi dan menganggap hanya rumah tempat yang aman bagi mereka. Mereka semakin tertutup dan menolak membuka diri untuk dunia luar.

Stigma dan paradigma yang salah

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas (KND), Jonna Aman Damanik mengungkapkan, menjadi disabilitas bukan beban dan bukan pula hambatan. Cara pandang masyarakat yang melihat mereka dengan keterbatasan fisik, intelektual, maupun mental seringkali tidak adil dan tidak manusiawi. Padahal mereka memiliki kesempatan dan hak asasi yang sama sebagai manusia.

“Bicara tentang disabilitas artinya bicara dengan keunikan yang berbeda yang dimiliki setiap manusia. Kita melihat ada yang memakai kursi roda, ya itu cara mereka berjalan, kita juga melihat teman tuli yang berbicara menggunakan bahasa isyarat karena itu cara mereka. Jadi bagaimana kita mentransformasikan paradigma masing-masing dalam rangka mengeliminasi stigma,” kata Jonna.

“Jadi mari kita melihat mereka teman-teman disabilitas sebagai bagian dari keberagaman,” tambahnya dalam talkshow bertajuk Aksesibilitas dan Kesempatan bagi Penyandang Disabilitas di Dunia Kerja yang digelar Plan Indonesia di Epiwalk, Kuningan, Jakarta, Sabtu, 12 Juli 2025.

Jonna mencontohkan beberapa kasus seperti di perusahaan injection molding dengan tingkat kebisingan yang tinggi, mereka akhirnya merekrut teman tuli untuk dipekerjakan dan produktivitas mereka pun melonjak. Di Eropa, sebagian besar marshaller atau juru parkir pesawat adalah penyandang disabilitas tuli. Teman tuli dipekerjakan sebagai seorang profesional yang bertugas mengarahkan pesawat saat parkir atau saat akan lepas landas.

“Teman tuli itu punya potensi visual yang luar biasa, teman netra punya potensi pendengaran yang luar biasa, artinya setiap manusia ketika punya kekurangan pasti dia juga punya kelebihan. Ini juga paradigma bagaimana kita mengeliminasi stigma,” tegasnya.

Difabel di dunia kerja

Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024, total penyandang disabilitas di Indonesia sebanyak 22,8 juta orang atau 8,3 persen dari total populasi. Data BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) juga menunjukkan hanya 30 persen penyandang disabilitas di seluruh Indonesia yang lulus SD, 14 persen lulus SMP, 11 persen lulus SMA dan hanya 2,87 persen yang menyelesaikan perguruan tinggi.

Sedangkan para CEO perusahaan seringkali mencantumkan syarat lulus S1, memiliki sertifikası, hingga kemampuan berbahasa inggris yang baik dalam proses rekrutmen mereka. Syarat-syarat seperti ini tentu saja membuat kesulitan para difabel untuk survive dan mandiri. Apalagi bagi teman disabilitas intelektual yang mungkin untuk belajar membaca dan menulis membutuhkan usaha yang berkali-kali lebih besar.

“Tiga bulan ini komisi disabilitas bekerjasama dengan BUMN membuka rekrutmen bagi teman-teman disabilitas, hampir 5000 orang disabilitas yang mendaftar, namun yang memenuhi persyaratan berapa? Tidak sampai 120 orang. Ini faktanya,” tegas Jonna.

Oleh karena itu, Jonna berharap ada banyak pelatihan-pelatihan bersertifikasi yang sesuai dengan marketplace Indonesia untuk meningkatkan keterampilan difabel. Sehingga sertifikasi profesi tersebut diakui dan bisa mereka gunakan ketika melamar kerja.

Selain mempersiapkan skill melalui pelatihan-pelatihan profesi, Jonna juga berharap agar orangtua yang memiliki anggota disabilitas untuk mempersiapkan mental mereka dengan kemandirian. Faktanya, ketika difabel diterima bekerja beberapa ada yang akhirnya berhenti karena belum siap mental.

“Karena harus diakui bahwa teman disabilitas masih banyak yang punya mental block, sudah coba bekerja di luar tapi tidak lama kemudian resign. Karena apa? overprotective dari orangtua, selalu dikhususkan, itu fakta. Jadi ini PR kita yang memiliki anggota keluarga disabilitas, jangan hanya skillnya yang dilatih tapi mentalnya juga disiapkan,” ujar Jonna.

Tantangan di dunia kerja

Pusat Pemberdayaan Penyandang Disabilitas (Puspadi) Bali terus melakukan berbagai program untuk menjangkau dan merehabilitasi lebih banyak lagi penyandang disabilitas, khususnya di daerah Bali, NTB, dan NTT. Ketua Puspadi Bali, I Made Gunung mengatakan pihaknya bekerja sama dengan hotel-hotel dan perusahaan untuk menjadi tempat bagi teman disabilitas dapat bekerja dan mandiri finansial.

“Jadi sebelum terjun langsung untuk bekerja, kami akan merehabilitasi mereka, memberikan pelatihan-pelatihan sesuai dengan kemampuan mereka, termasuk memotivasi mereka secara mental dan kemandirian, karena sebagus apapun pekerjaan mereka tapi kalau motivasinya belum ada mereka akan keluar, karena masih ada diskriminasi atau stigma terhadap penyandang disabilitas di masyarakat,” jelasnya.

Proses penerimaan untuk memaafkan dan berdamai dengan keadaan mereka ini menurut I Made Gunung berbeda-beda bagi setiap individu disabilitas. Terutama bagi mereka yang terlahir normal namun karena kecelakaan dan lain hal menjadi disabilitas.

“Banyak yang menjadi disabilitas akibat kecelakaan, setelah kecelakaan dan tidak memiliki kaki, atau tangan, atau anggota tubuh yang tidak lengkap, mereka merasa dunia telah berhenti. Karena itu kami ajak mereka mengikuti kelas motivasi dan melakukan rehabilitasi,” papar I Made Gunung.

Ketika mereka sudah siap secara mental dan skill, Puspadi Bali akan mengirim mereka untuk magang di hotel-hotel dan perusahaan terdekat. Masa magang biasanya selama 3 bulan, pada bulan pertama mereka akan bekerja selama 4 jam, pada bulan kedua meningkat menjadi 5 jam, kemudian pada bulan ketiga menjadi 8 jam.

Banyak teman disabilitas bekerja di hotel-hotel membantu departemen housekeeping (tata graha) yang bertanggung jawab untuk kerapihan dan kebersihan, seperti menata dan merapikan meja kamar, meja resepsionis, atau di bagian collection laundry yang bertugas mencuci, mengeringkan, menyetrika dan melipat linen hotel. Mereka akan bekerja sesuai dengan skill mereka.

“Pada awal-awal bekerja mereka mengalami kesulitan tapi mereka juga dengan cepat akan menyesuaikan diri, dan dengan berjalannya waktu teman disabilitas ini justru akan semakin mahir. Jadi membuka akses kerja untuk teman disabilitas sangat penting untuk mewujudkan kesetaraan dan hak yang sama untuk bisa bekerja,” ujar  Made Gunung.

Hal yang sama juga disampaikan Sustainability and Corporate PR Manager UNIQLO Indonesia, Yulia Rahmawati. Uniqlo memiliki 24 staf disabilitas, termasuk disabilitas intelektual yang tersebar di store-store Uniqlo di seluruh Indonesia.

“Di luar keterbatasan yang mereka miliki, kami percaya bahwa semangat kerjanya sama, baik staf biasa dan staf disabilitas,” ujar Yulia.

Agar bertahan di dunia kerja

Sebelum menerima karyawan disabilitas, penting bagi perusahaan untuk membangun lingkungan kerja yang inklusif dan memahami kebutuhan khusus dari masing-masing disabilitas. Di Uniqlo sendiri, akan ada training bagi manajer toko dan staf mereka, tentang bagaimana cara berinteraksi dengan staf disabilitas dan customer disabilitas.

“Di kami ini ada namanya ‘body’, staf toko yang memang bertugas sebagai ‘body’nya teman disabilitas, jadi apapun kesulitan yang dialami teman disabilitas bisa dikomunikasikan, staf ‘body’ ini juga terlatih bagaimana cara berkomunikasi dengan staf disabilitas termasuk menyiapkan mental mereka juga karena namanya bekerja mungkin ada improvement-improvement yang perlu disampaikan, nah itu membuat mereka open minded,” tutur Yulia.

Setiap tahun Uniqlo juga menggelar gathering yang diikuti oleh karyawan disabilitas dan non disabilitas. Tidak hanya itu, pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan soft skill pun selalu diadakan untuk seluruh staf mereka, seperti mengenalkan conversation bahasa inggris, cara menghadapi customer, dan pelatihan lainnya.

“Kami berusaha untuk menciptakan suasana kerja yang inklusif bagi teman-teman disabilitas, kami percaya semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkarya,” ujar Yulia.

Yulia menceritakan, bahwa kedisiplinan dan keuletan staf disabilitas dalam bekerja membuat mereka akhirnya dipercaya untuk secara langsung melayani customer di store Uniqlo. Namun masalahnya, tidak semua pelanggan tahu tentang staf disabilitas di Uniqlo, sehingga mereka memberikan keluhan karena merasa diabaikan ketika bertanya kepada staf tersebut.

“Karena disabilitas intelektual kadang tidak kelihatan jelas, jadi mereka tidak tahu, jadi pernah teman tuli yang dipanggil customer tapi tidak dengar sehingga dia marah dan komplain, tapi ketika kami memberitahu bahwa ini teman disabilitas, mereka mau ngerti dan akhirnya kami juga siapkan pin supaya customer aware bahwa yang memang diajak berkomunikasi ini teman disabilitas,” jelas Yulia.

“Tapi pemasangan pin juga atas izin mereka. Mereka boleh menolak karena tidak nyaman, tapi rata-rata menerima karena mereka sadar itu akan membantu mereka, dan kita siapkan buku kecil berisi conversation general yang akan membantu mereka berkomunikasi. Misalnya di mana letak fitting room? Jadi kita buatkan tanya jawabnya,” tambah Yulia. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE

Bingung cara ajak anak diskusi soal bahaya online tanpa menghakimi? 

Dapatkan solusi anti-panik untuk mengatasi hoaks, cyberbullying, dan mengatur screen time dalam Panduan Smart Digital Parenting