digitalMamaID — Mendaki gunung bukan lagi sekadar hobi ekstrem yang digemari segelintir orang. Hari ini, anak-anak muda—terutama Gen Z—ramai-ramai mendaki, mengabadikan sunrise dari atas awan, lalu mengunggahnya dengan caption ‘healing’. Tapi pertanyaannya, sudah siapkah mendaki gunung? Atau jangan-jangan, ini cuma efek FOMO belaka?
Ada yang memang benar-benar mencintai aktivitas ini—menyatu dengan alam, mencari ketenangan, atau menantang diri. Tapi tak sedikit pula yang terjebak dalam gelombang FOMO (Fear of Missing Out). Mereka yang naik gunung bukan karena ingin, tapi karena ingin terlihat—demi eksistensi dan validasi di dunia maya.
Bukan sekadar update story
Peri (33), seorang guru di Sekolah Alam Gaharu sekaligus pendaki berpengalaman, menyebut fenomena pendaki FOMO ini makin marak terjadi. “Sekarang tuh naik gunung gampang banget. Ada waktu kosong, lihat open trip, langsung berangkat. Padahal kadang nggak tahu medan, nggak tahu apa yang dibutuhkan, dan yang penting update story,” tutur Peri saat dihubungi lewat telepon, Kamis, 3 Juli 2025.
Menurut Peri, banyak pendaki pemula yang terlalu fokus pada tujuan: puncak. Padahal, prinsip utama dalam dunia pencinta alam adalah: “Tujuan utama bukan mencapai puncak, tapi kembali pulang dengan selamat.”
Selama 13 tahun mendaki gunung, Peri sudah menaklukkan hampir semua puncak di Jawa Barat. Tapi meski jam terbangnya tinggi, ia tidak pernah menyepelekan persiapan. Bahkan, butuh waktu hingga tiga minggu baginya untuk menyiapkan fisik, mental, dan logistik sebelum mendaki.
“Setiap gunung itu beda tantangan. Gunung Rinjani yang medannya pasir, Gunung Kerinci yang penuh akar-akar dan tebing vertikal, sampai Gunung Salak yang basah dan licin. Kalau nggak siap, bisa bahaya banget,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kondisi mitigasi bencana di jalur pendakian Indonesia yang masih dalam proses berkembang. Beberapa basecamp sudah mulai berkoordinasi dengan Basarnas dan melakukan sosialisasi keselamatan, tapi belum semua. Maka dari itu, menurut Peri, pendaki pemula wajib menyiapkan diri secara menyeluruh—baik fisik, mental, maupun keuangan.
“Kalau belum siap secara keuangan, jangan dipaksakan. Karena nanti banyak alat yang nggak terbeli, logistik kurang, dan itu bisa membahayakan keselamatan.” katanya.
Kecelakaan yang terjadi baru-baru ini di Gunung Rinjani—di mana seorang WNA asal Brazil, Juliana Marins, hilang dan masih dalam pencarian Basarnas—menjadi pengingat keras bahwa mendaki bukan soal estetika, tapi keselamatan. Mendaki adalah aktivitas yang punya risiko tinggi, apalagi untuk pemula.
Perhatikan hal-hal penting ini
Ada beberapa hal penting yang wajib dipersiapkan oleh pendaki pemula sebelum mencoba menaklukkan gunung:
Persiapan sebelum mendaki
- Latih fisik dan mental
Mulailah dengan olahraga ringan seperti jogging, jalan kaki jarak jauh, atau bersepeda. Latihan kardio secara rutin membantu tubuh agar tidak ‘kaget’ saat menghadapi jalur terjal dan udara dingin di ketinggian. - Pilih gunung yang ramah pemula
Jangan ikut-ikutan memilih jalur ekstrem hanya karena ingin terlihat keren. Pilih rute dengan jarak tempuh, medan, dan ketinggian yang sesuai dengan kemampuan. - Cek cuaca dan kondisi gunung
Jangan remehkan prediksi cuaca. Kabut tebal, hujan deras, hingga potensi letusan bisa jadi ancaman nyata. Selalu update informasi dari basecamp atau pengelola jalur pendakian. - Bawa peralatan standar
Bawa perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan: sepatu gunung yang aman, jaket tahan angin, tas carrier, tenda, sleeping bag, kompas, peta offline, senter, P3K, dan logistik makanan serta minuman yang cukup. - Siapkan alat komunikasi
Pastikan baterai ponsel penuh dan, bila perlu, bawa power bank atau walkie talkie. Selalu kabari keluarga atau teman soal rencana perjalanan: kapan berangkat, dengan siapa, dan kapan pulang.
Tips Selama Pendakian
- Perhatikan setiap langkah
Trek pendakian bisa sangat licin dan menantang. Selalu waspada, jangan asal melangkah, apalagi sambil mendengarkan musik dengan earphone. - Istirahat saat lelah
Jangan paksakan diri. Tubuh yang terlalu lelah rentan mengalami kecelakaan karena kehilangan fokus dan tenaga. - Jangan pernah mendaki sendirian
Selalu bersama kelompok. Jangan pisah karena risiko tersesat atau terlambat mendapat bantuan sangat tinggi. - Hindari aksi nekat dan berisiko
Jangan hanya demi konten, berpose di ujung tebing atau berenang di sungai gunung yang deras. Keindahan alam tidak sebanding dengan nyawa.
Mendaki gunung memang memberikan pengalaman tak terlupakan—pemandangan luar biasa, ketenangan dari hiruk-pikuk kota, serta rasa pencapaian yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Tapi semua itu hanya bisa dinikmati jika keselamatan jadi prioritas.
Seperti kata Peri, “Puncak bisa menunggu. Tapi keselamatan nggak bisa ditawar-tawar.” (Mabruroh/Penny Yuniasri)






