digitalMamaID – Seberapa sering Mama tergoda belanja karena diskon besar? Promo besar-besaran di tanggal kembar atau Harbolnas seringkali membuat kita tergoda membelinya tanpa berpikir panjang. Namun, setelah barang yang diinginkan sampai, rasa senangnya hanya sesaat. Kemudian, kebiasaan belanja impulsif ini terulang lagi. Bila Mama sudah di tahap itu, rasanya gaya hidup minimalis baiknya mulai dipelajari!
Kalau dulu Harbolnas atau Hari Belanja Nasional hanya diperingati setahun sekali, kini hadir nyaris setiap tanggal kembar atau angka cantik di berbagai platform e-commerce. Semua jor-joran memberikan diskon besar. Walau terlihat menguntungkan, sayangnya promo serprti ini sering memicu kebiasaan belanja impulsif, yaitu membeli barang hanya karena tergiur diskon tanpa benar-benar membutuhkannya.
Dampak belanja impulsif
Menurut data We Are Social 2024, Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia sebagai negara dengan transaksi e-commerce tertinggi, mencapai 59,3%. Dalam laporan tersebut, perempuan menjadi konsumen terbesar e-commerce. Sejak pertama kali digelar pada 12 Desember 2012, Harbolnas bertujuan meningkatkan transaksi belanja online. Kini, Harbolnas diadakan setiap bulan pada tanggal-tanggal cantik, memudahkan konsumen, tetapi juga membuat semakin konsumtif.
Belanja impulsif bukan hanya berdampak pada anggaran keluarga tetapi juga lingkungan. Kemasan belanja online menambah limbah, sementara pengiriman barang meningkatkan jejak karbon. Akibatnya, muncul tekanan emosional seperti rasa bersalah setelah belanja.
Gaya hidup minimalis sebagai solusi
Gaya hidup minimalis menawarkan solusi untuk mengatasi kebiasaan konsumtif. Meski istilah “minimalisme” populer di era modern, konsep ini telah lama dikenal. Di era modern, minimalisme membantu mengurangi tekanan hidup dan kecemasan. Minimalisme menjadi bahasan dalam webinar bertajuk Minimalism for Happier Life: Embracing Simplicity and Purpose yang digelar oleh Minimalist Mom Indonesia (MMID) dan digitalMamaID pada 21 Desember 2024. Founder MMID Evi Syahida atau Visya membagikan pengalamannya menjalani gaya hidup minimalis sejak 2020. Menurut Visya, gaya hidup minimalis adalah seni menjalani hidup sederhana dan secukupnya dengan rasa syukur dan kesadaran penuh.
Visya menyoroti perilaku belanja impulsif dan tren FOMO yang memperparah konsumtivisme. “Kita sering membeli barang hanya untuk kesenangan sesaat, tapi kemudian menyesal karena barangnya tidak sesuai ekspektasi atau ternyata kita tidak membutuhkannya,” ujarnya. Visya menambahkan perilaku impulsif boleh asalkan untuk meningkatkan nilai diri seperti untuk prestasi, kebaikan bukan dengan belanja.
Iklan yang berseliweran, review-review menarik dari influencer membuat masyarakat menjadi pembeli impulsif. “Kita mungkin pernah mengalami memiliki banyak lipstik dengan warna yang hampir sama,” kata Visya menganalogikan.
Prinsip-prinsip gaya hidup minimalis
Minimalisme menekankan pada prinsip-prinsip berikut:
- Less is More: Semakin sedikit barang yang dimiliki, semakin banyak ruang dan energi yang bisa kita fokuskan untuk hal-hal penting, seperti pengembangan diri.
- Conscious Shopping: Berbelanja dengan bijak dan sadar, menghindari godaan diskon.
- Decluttering Secara Teratur: Menyumbangkan barang yang tidak terpakai kepada orang yang membutuhkan.
- Orientasi pada Tujuan: Fokus pada kebutuhan dan nilai-nilai yang penting bagi hidup kita.
Gaya hidup minimalis bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, antara lain:
- Rumah: Menyusun menu makanan sederhana dan bergizi secukupnya.
- Waktu: Tidak menunda pekerjaan agar tidak menumpuk.
- Pengasuhan Anak: Menggunakan barang lungsuran untuk anak yang masih tumbuh cepat.
- Digital: Merapikan file dan aplikasi di perangkat elektronik.
Visya juga berbagi pengalamannya menjalankan minimalisme di keluarga. “Rumah lebih lapang, pikiran lebih tenang, dan emosi lebih stabil,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya belajar berkata “Tidak” pada barang yang tidak dibutuhkan, termasuk yang gratis sekalipun.
Tips memulai gaya hidup minimalis
- Kenali Prioritas: Tentukan kebutuhan sebelum membeli barang.
- Pertimbangkan Alternatif: Sewa atau beli barang preloved.
- Manfaatkan Barang Lungsuran: Gunakan pakaian atau barang bekas dari teman atau saudara.
- Decluttering Rutin: Evaluasi barang-barang di rumah secara berkala.
Digital minimalism
Gaya hidup minimalis bukan hanya tentang barang fisik, namun juga termasuk area gawai di mana banyak dari kita mempunyai device lebih dari satu. Belum lagi aplikasi yang diunduh pada setiap device. Apakah Mama sudah mengeceknya? Berapa device dan aplikasi yang Mama punya?
Menurut Catur Ratna Wulandari, Editor in Chief Digital Mama ID, manusia modern sering merasa lelah tanpa aktivitas fisik akibat paparan informasi digital dikonsumsi terus-menerus. “Misalnya, dalam satu menit, ada 6 juta orang berbelanja online dan 600 juta orang menonton video TikTok,” ungkapnya.
Bila Mama merasa kewalahan dengan paparan informasi digital yang bertubi-tubi setiap hari artinya Mama sedang mengalami digital overload yang harus diwaspadai. Digital overload harus diwaspadai karena hal ini memicu kecemasan yang akan mengganggu keseharian Mama. “Lakukan detoks digital, di momen itu kita bisa me-review aplikasi mana sajakah yang benar-benar diperlukan,” saran Ratna. Digital overload bisa diatasi dengan digital minimalism.
Mengambil istilah digital minimalism dari buku karya Cal Newport, Digital Minimalism mengajak kita untuk beraktivitas digital lebih sedikit namun bermakna. Menurut Newport, waktu dan energi yang dihabiskan terlalu banyak untuk beraktivitas digital dapat mengganggu fokus dan produktivitas. Hal seperti ini sudah kita rasakan bahwa adanya penurunan rentang perhatian manusia yang awalnya panjang menjadi lebih pendek karena terlalu banyak mengkonsumsi informasi.
Tips menjalankan digital minimalisme
- Identifikasi aplikasi atau aktivitas digital yang bisa dihapus atau dikurangi: Misalnya dibantu dengan mempraktekkan Konmari Gadget untuk ponsel yang lebih rapi, atau mengurangi aktivitas media sosial yang kurang bermanfaat seperti scrolling “FYP” menjadi fokus ke fitur “Following” saja.
- Buat aturan waktu untuk beraktivitas digital: Manfaatkan fitur wellbeing dan screen time di ponsel dan aplikasi.
- Berkomitmen untuk mengisi waktu luang dengan aktivitas bermakna.
- Melakukan detoks digital.
Minimalisme membawa banyak manfaat, termasuk rumah yang lebih rapi, finansial yang stabil, dan peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan. Selain itu, minimalisme juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan dengan mengurangi produksi limbah dan jejak karbon.
Dengan gaya hidup minimalis, Mama tidak hanya dapat menciptakan lingkungan yang lebih damai di rumah, tetapi juga menginspirasi keluarga untuk hidup lebih bijaksana. Anak-anak pun bisa belajar pentingnya menghargai barang dan fokus pada hal-hal yang benar-benar berarti dalam hidup.
Mulailah dari langkah kecil, seperti mengurangi belanja impulsif, mendonasikan barang yang tidak terpakai, atau mencoba detoks digital. Lama kelamaan, Mama akan merasakan perubahan positif yang besar. Hidup lebih tenang, lebih fokus, dan pastinya lebih bermakna. Jadi, siapkah Mama mencoba? [*]