digitalMamaID – Apakah Mama sering menggunakan jasa transportasi online di keseharian Mama? Dari antar jemput sekolah anak hingga memesan makanan, rasanya saat ini sulit untuk tidak bergantung pada layanan ini, ya. Transportasi umum yang belum memadai serta kebutuhan akan kecepatan menjadi alasan masyarakat sangat terbantu dengan kehadiran jasa ojek online.
Di balik jasanya yang sangat membantu kita di kehidupan sehari-hari, para pengemudi ojek online justru kerap mengeluhkan potongan aplikasi yang dianggap semakin besar.
Lain dulu, lain sekarang
Ujang (55), pengemudi Grab sejak 2017 ini masih ingat betul ketika awal bergabung. Saat itu potongan aplikasinya tak sampai 20 persen. Kini, potongannya membengkak menjadi 20 persen, bahkan bisa sampai 30 persen.
“Dulu orderan banyak karena driver masih sedikit. Sekarang susah, driver makin banyak. Orang-orang juga pada bawa motor sendiri,” tuturnya pada digitalMamaID, Rabu, 20 Agustus 2025.
Meski begitu, Ujang punya sedikit “keistimewaan”. Bulan kemarin, ia berhasil mencapai level Jawara, tingkatan tertinggi bagi pengemudi Grab. Level Jawara membuatnya lebih mudah mendapatkan order dibandingkan pengemudi lain.
“Kalau lagi nongkrong bareng, orderan pasti masuk ke Jawara dulu,” ujarnya sambil tertawa kecil. Namun, bonus dari level Jawara tak seberapa. Hanya Rp100 ribu per bulan dengan tantangan yang berat dan harus dipertahankan terus-menerus. Level Jawara didapatkan setelah memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti target order bulanan, jumlah hari online, rating pengemudi oleh penumpang dan lainnya.

Setiap hari Ujang menargetkan pendapatan bersih minimal Rp100 ribu per hari. Ia pernah memperoleh sampai Rp250 ribu dalam sehari, namun ia tak kuat. “Pantat panas, ripuh,” katanya.
Meski sudah 8 tahun menjadi pengemudi ojek online, ia merasa aplikasi tidak cukup berpihak pada pengemudi. Beberapa kali ia ditipu penumpang yang mengaku sudah membayar via OVO, padahal belum. “Kalau driver yang ngadu ke aplikasi, jarang ditanggapi. Kalau penumpang, pasti langsung ditindak,” keluhnya.
Cerita lain datang dari Farah (48). Pengemudi ojek online perempuan Indrive ini terhitung nekat menghindari potongan aplikasi. Ia meminta penumpang untuk membatalkan orderan saat sampai untuk menjemput.
“Makannya saya izin dulu. Kalau nggak mau ya nggak apa-apa,” ujar ibu empat anak ini pada digitalMamaID, Selasa 19 Agustus 2025. Ia paham cara ini melanggar aturan aplikasi. Tapi ia merasa selama ada persetujuan penumpang, seharusnya tidak masalah.
Di antara aplikasi lain seperti Grab dan Gojek, Indrive memang mematok ongkos lebih murah. Potongan aplikasinya juga paling kecil, hanya 12 persen. Sayangnya, tidak ada bonus harian maupun bulanan. Akibatnya, pendapatan pengemudi tetap terasa kecil.
Farah, yang dulu sempat menjadi polisi di Sulawesi, sudah pernah mencoba menjadi pengemudi taksi online sejak 2017. Saat itu ia bisa mengantongi hingga Rp400 ribu sehari. Sekarang, Rp100 ribu saja sulit didapat. Karena usianya tak muda lagi, kini ia hanya berburu order dekat, di sela-sela waktu mengurus anak bungsunya yang masih berusia 4 tahun. Dalam sehari, Farah biasanya mendapat Rp50-70 ribu. Itu pun memakai akun aplikasi milik adiknya yang dipakai secara bergantian, meski tahu itu melanggar aturan. Karena alasan ini, Farah pernah ditolak penumpang, baik karena pengemudi tidak sesuai aplikasi, maupun karena ia seorang perempuan.
“Pernah dapat orderan bapak-bapak, sudah sampai dia nggak mau. Katanya nggak biasa dibonceng perempuan, padahal saya sudah jauh ke situ,” ujarnya. Meski penghasilannya kecil, Farah tetap bersyukur. “Ya lumayanlah, buat nambah jajan di rumah,” katanya.
Potongan aplikasi jadi sorotan
Masalah potongan aplikasi yang dirasakan Ujang dan Farah bukanlah kasus baru. Sepanjang 2025, isu ini terus digaungkan para pengemudi. Tempo mencatat, sudah ada lima demonstrasi besar yang digelar para pengemudi transportasi online tahun ini, salah satunya menuntut potongan maksimal menjadi 10 persen.
Pada Juli lalu, komunitas ojol Garda Indonesia menggelar aksi “Kebangkitan Jilid II Transportasi Online Nasional 217” di Jakarta Pusat. Mereka menilai usulan kenaikan tarif dari aplikator lebih menguntungkan perusahaan ketimbang pengemudi.
Sesuai dengan Kepmenhub KP Nomor 1001 Tahun 2022 (perubahan dari KP 667 Tahun 2022), pemerintah sebenarnya sudah mengatur pedoman biaya jasa transportasi online, termasuk batas biaya tidak langsung atau sewa aplikasi maksimal 15 persen, dan biaya penunjang kesejahteraan pengemudi maksimal 5 persen.
Disadur dari CNN Indonesia, pihak Grab Indonesia juga sempat memberi klarifikasi. Menurut Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, komisi 20 persen hanya dihitung dari tarif dasar, bukan dari total biaya perjalanan. “Ini penting untuk dipahami supaya tidak salah hitung. Kadang ada tambahan-tambahan seperti asuransi atau offset karbon, tapi itu bukan bagian dari dasar tarif,” ucapnya.
Ia menegaskan, komisi tersebut tidak sepenuhnya menjadi keuntungan perusahaan, melainkan digunakan kembali untuk perlindungan mitra maupun penumpang, termasuk asuransi aktif. Hingga kini, lebih dari 20 ribu pengguna telah menerima manfaat perlindungan dengan klaim lebih dari Rp100 miliar.
Suara konsumen: tak masalah harga naik asal driver sejahtera
Hadin (35) salah satu pengguna aktif jasa transportasi online di Bandung merasa terbantu untuk kegiatan sehari-harinya terutama memesan makanan. Dalam seminggu, ia bisa menggunakan jasa transportasi online sampai tiga kali. Kepraktisan jadi alasan utama.
Karena cukup rutin, ia sering memilih mode hemat. Namun sejak kelahiran anak keduanya, ia beralih ke mode regular demi kenyamanan. “Soalnya kondisi mobil lebih baik dan nggak bau rokok,” katanya, Selasa, 26 Agustus 2025.
Hadin juga tahu soal potongan besar aplikator dari obrolannya dengan para pengemudi. Hal ini kadang membuatnya khawatir. “Kasihan, jadi harus sering narik,” ujarnya. Untuk itu, ia membiasakan memberi tip dan rating bagus sebagai dukungan morilnya untuk para pengemudi.
Soal potongan ini, ia berharap aplikator bisa lebih bijak. “Harusnya nggak terlalu besar biar driver nyaman,” usulnya. Ia juga tidak keberatan jika tarif dinaikkan sedikit, asal kesejahteraan pengemudi lebih terjamin. Namun ia menambahkan, “Bagaimanapun konsumen akan selalu memilih yang lebih murah dengan banyak promo,”.
Persaingan bisnis platform digital kerap menempatkan driver sebagai pihak yang paling tertekan. Potongan kian besar, pendapatan kian menipis. Sementara itu, konsumen terbiasa dengan tarif hemat. Tanpa perubahan kebijakan dari perusahaan maupun regulasi pemerintah, kesejahteraan driver ojol hanya akan semakin tergerus. Pada titik inilah, suara konsumen dan keberpihakan publik dibutuhkan agar roda ekonomi berbagi ini tetap berjalan dengan adil. [*]






