Flexing: Penyebab, Dampak, dan Cara Menghindarinya

Ilustrasi flexing
Share

digitalMamaID – Di media sosial, banyak kita jumpai konten pamer kekayaan. Tidak sedikit orang yang menunjukkan uang tunai bertumpuk-tumpuk, barang-barang mahal, gaya hidup foya-foya, dan perilaku lainnya.Sebetulnya, apa sih yang mendorong perilaku flexing? Apakah perilaku ini berbahaya? Baca sampai tuntas ya Mama!

Secara bahasa, flexing artinya pamer. Arti flexing menurut kamus Merriam-Webster ialah aktivitas memamerkan sesuatu secara mencolok. Keberadaan sosial media menyuburkan perilaku flexing sebab interaksi sosial media mensyaratkan engagement.

Penyebab flexing

Merangkum dari berbagai sumber, faktor-faktor penyebab munculnya perilaku flexing antara lain:

1. Insecure

Secara sederhana, insecure adalah perasaan tidak mampu dan kurang percaya diri. Pelaku flexing berharap postingan pamer yang mereka lakukan, mendapatkan pengakuan dari orang lain sehingga kepercayaan diri mereka meningkat.

2. Tekanan sosial dan kecemburuan sosial

Unggahan di media sosial yang memamerkan kesuksesan atau kemewahan, sangat mungkin menimbulkan tekanan dan kecemburuan sosial bagi orang lain. Orang yang mengalami tekanan dan cemburu kemudian mengunggah konten bertema flexing untuk menunjukkan bahwa ia memiliki kesuksesan dan kemewahan yang sama.

3. Sifat membandingkan diri dengan orang lain

Sifat suka membandingkan dapat memicu perilaku flexing. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa kehidupannya setara atau lebih baik dari orang lain.

4. Memiliki sumber daya finansial

Seseorang dengan sumber daya finansial memadai (bahkan berkelimpahan) sangat mudah melakukan flexing. Bagi mereka, postingan yang menunjukkan kemewahan dan kesuksesan merupakan bagian dari aktualisasi diri.

Secara umum, penyebab utama perilaku flexing adalah adanya keinginan untuk diakui atau dihargai oleh orang lain.

Dampak flexing

Flexing seringkali digunakan oleh para pelaku usaha sebagai salah satu teknik marketing. Mereka sengaja menggaet para influencer untuk memamerkan produk atau jasa mereka dengan tujuan menarik perhatian calon konsumen sehingga penjualan produk dan jasa mereka meningkat. Meski memiliki dampak positif, namun flexing pun berpotensi untuk menjadi alat untuk menipu orang sebagaimana yang terjadi pada tahun 2022 lalu. Saat itu, seorang trading affiliator memamerkan kemewahan yang dia dapatkan dari hasil trading dan secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk mengikuti usaha yang dilakoninya. Selain itu, ada beberapa dampak negatif flexing lainnya, yaitu:

1. Memupuk perasaan tidak bersyukur

Pengguna media sosial yang terpengaruh konten flexing sangat mungkin merasa tidak bersyukur sebab dia selalu membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih bahagia. Padahal sosial media tidak selalu menunjukkan keadaan sebenarnya.

2. Sulit mendapatkan kepuasaan hidup

Seseorang yang tidak bersyukur akan merasa hidupnya selalu kekurangan. Dia merasa tidak ada bagian dari diri dan kehidupannya yang bisa dibanggakan. Akhirnya, dia sangat sedikit mendapatkan kepuasan hidup.

3. Memanipulasi citra diri

Pelaku flexing selalu ingin menjadi pusat perhatian dan ingin diakui oleh orang lain. Namun ternyata di sisi lain, sumber daya materi yang dimiliki terbatas. Saat dorongan ego (rasa ingin diperhatikan dan diakui) lebih tinggi daripada daya dukung finansial, maka saat itu pelaku flexing melakukan manipulasi diri. Mereka memaksakan keadaan agar terlihat sukses, hidup mewah, dan bahagia. Padahal kondisi sesugguhnya tidaklah demikian.

4. Mengganggu kepribadian

Knox College dalam bukunya yang berjudul ‘The High Price of Materialism’ menyebutkan bahwa orang yang gemar pamer memiliki sifat kurang empati, kurang prososial, dan lebih kompetitif sehingga mengganggu kepribadiannya. Mereka pun memiliki rasa cemburu sosial yang besar karena selalu ingin tampil lebih baik dari orang lain dan menjadi pusat perhatian.

5. Tidak nyaman bergaul

Suatu ketika, bila masyarakat mengetahui bahwa perilaku flexing yang ditunjukkan di sosial media adalah manipulasi, maka pelakunya akan merasakan ketidaknyamanan untuk berinteraksi dengan orang lain. Dia merasa malu hingga akhirnya menarik diri dari lingkungan.

Wah, ternyata besar juga dampaaknya bagi hidup seseorang ya, Mama! Lalu, bagaimana ya supaya kita tidak terpengaruh dengan flexing?

Cara menghindari flexing

Konten flexing menjadi konten yang lazim kita temukan di media sosial. Dampak negatif yang ditimbulkan bisa meluas sebab sekitar lima miliar warga dunia adalah pengguna sosial media. Maka, kita perlu mengetahui cara menghindari dampak negatif flexing.

1. Fokus pada diri sendiri

Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Fokus pada tujuan hidup yang hendak dicapai. Yakinlah bahwa setiap manusia sudah Tuhan ciptakan dengan keunikan potensi peran masing-masing. Maka setiap manusia sesugguhnya bisa sukses dengan cara dan perannya masing-masing.

2. Memahami bahwa setiap manusia punya takdir rezeki masing-masing

Tidak perlu silau dengan rezeki yang dimiliki orang lain. Setiap manusia punya kadar rezeki masing-masing. Jika saat ini merasa kehidupan finansial masih kekurangan lebih baik cari peluang lain untuk menambah penghasilan.

3. Bersyukur

Bersyukur dapat menimbulkan perasaan lapang dan tenang. Dengan bersyukur, kita pun akan selalu menghargai pencapaian diri sekecil apapun. Kita pun akan bisa melihat hal-hal kecil dengan makna yang mendalam. Orang yang selalu bersyukur akan merasakan kepuasan hidup sebab merasa cukup.

4. Berhenti mencari validasi dari orang lain

Sesungguhnya nilai diri kita ditentukan oleh kita sendiri, bukan orang lain. Maka, tidak perlu mencari validasi atau pengakuan dari orang lain. Toh, yang menjalani hidup adalah kita sendiri, bukan orang lain. Validasi dari orang lain mungkin akan mendatangkan kebahagiaan, tapi yakinlah bahwa kebahagiaan tersebut adalah kebahagiaan semu (sementara). Kebahagiaan sejati sesungguhnya muncul dari dalam diri saat kita mampu bersyukur.

Semoga dengan menerapkan keempat strategi di atas, kita bisa terhindar dari pengaruh buruk flexing dan dapat menjalani hidup dengan lebih bermakna. Kira-kira Mama akan mulai melangkah dari cara nomor berapa nih? [*]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *