Apakah Aku Sudah Berdamai?

Foto Ilustrasi oleh Ildigo dari Pixabay.
Share

Pertanyaan ini tiba-tiba selalu ada di kepalaku. Aku perempuan berusia 30 tahunan dan mempunyai satu anak usia 3 tahun dengan suami yang berprofesi sebagai seorang freelancer.

Usia pernikahan kami tahun ini menginjak empat tahun. Katanya, lima tahun pertama pernikahan akan diuji dengan persoalan keuangan. Hal itu benar terjadi kepada pernikahan kami. Ditambah dengan masalah-masalah lainnya, seperti komunikasi yang buruk sampai urusan ranjang yang mungkin kami sama-sama tidak puas.

Hari demi hari aku lalui. Semaksimal mungkin aku berikan yang terbaik setiap harinya. Selain bekerja di kantor, aku membuka usaha sambilan menjual makanan kepada teman-temanku dan mempromosikannya secara online. Aku mengerjakan semuanya sendirian. Kadang ingin sekali bekerja sama dengan suami mengerjakan usahaku ini. Tapi aku tidak tahu apa isi kepalanya sampai dia tidak mau berjualan bersamaku.

Komunikasi yang buruk dan persoalan-persoalan rumah tangga lainnya membuat aku merasa kesepian, merasa sendirian. Hingga tiba di suatu hari aku berfikir, “Jika aku bisa mengerjakan semuanya sendirian, kenapa aku harus punya suami?”

Singkat cerita, aku sudah bulat memutuskan untuk berpisah. Di saat aku mencari momen yang tepat untuk mengutarakan niatanku untuk berpisah, entah mengapa, seiring dengan berjalannya waktu, tiba-tiba saja komunikasi kami sedikit-sedkit semakin aktif. Urusan ranjang sudah tak kupikirkan lagi. Jumlah risiko rumah tangga yang ia berikan padaku pun aku tidak terlalu perduli. Saat merasa dan berpikir seperti itu, entah mengapa hati dan pikiranku ini jauh lebih ringan, hati lebih tenang, dan selalu merasa baik-baik saja.

Apakah perasaan ini akan terus ada seperti ini sampai nanti? Apakah keadaan akan berubah seperti apa yang aku inginkan? Apakah aku bisa, mampu dan sanggup untuk bertahan? Apakah aku zalim pada diriku? Apakah yang aku lalukan sudah benar dan tepat? Apa mungkin aku sudah berdamai dengan keadaan dan menerima dengan seutuhnya apa yang menjadi takdirku, yang sudah menjadi ladang pahala bagiku? Semoga.

Eye_V


Cerita Mama berisi cerita yang ditulis oleh pembaca digitalMamaID seputar pengalamannya saat bersentuhan dengan dunia digital. Baik saat menjalankan perannya sebagai individu, istri, ibu, pekerja, maupun peran-peran lain di masyarakat. Kirimkan cerita Mama melalui email redaksi@digitalmama.idatau digitalmama.id@gmail.com dengan subyek [Cerita Mama].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *