Apakah Aku Sudah Berdamai? (Bagian II)

Ilustrasi cerita mama
Share

Setelah menulis bagian pertama yang penuh dengan tanda tanya dan sedikit tanggung, izinkan aku membagikan kisahku selanjutnya ya, Mama.

Akhirnya, aku sampai di titik ini. Titik di mana aku benar-benar hanya bisa pasrah, ikhlas dan menerima… Tagihan dengan denda yang terus berjalan, biaya hidup sehari-hari yang harus dipenuhi, semua harus aku lalui setiap hari. Hidup adalah perjuangan, katanya. Ya, betul. Aku paham itu betul, karena setiap hari aku berjuang untuk menyambung hidupku, suamiku, anakku, orangtuaku dan saudaraku.

Kadang diri ini merasa tidak berdaya, tidak mampu, bahkan tidak sanggup. Tapi di sisi lain, aku yakin bahwa pertolongan-Nya itu benar ada dan pasti akan datang. Hanya saja, aku sebagai manusia biasa yang tidak sabaran masih belum tau pertolongan itu akan datang kapan, di mana, dan berbentuk apa. Otakku yang idealis ini kadang tidak mau menerima solusi yang sudah ada di pikiranku yang seharusnya bisa menjadi jalan keluar walau hanya sementara. Semoga DIA selalu menegakkan dan menguatkan imanku.

Ketika aku sedang menghadapi situasi yang membuat aku merasa berat, sedih, sendiri, dan merasa diri ini kecil karena tidak berdaya, tentu saja aku marah dan kesal. Semua emosi negatif dalam diriku menjadi satu dan sedihnya, tidak jarang anakku kena imbasnya. Setelahnya, aku hanya bisa menyesal karena sudah memarahi anak, kemudian menangis tanpa suara sejadi-jadinya. Menangis dalam diam. Bertanya-tanya dalam hati, kenapa seolah-olah di dunia ini tidak pernah ada yang memenangkanku? Kapan aku akan seberuntung orang-orang yang aku lihat? Aku merasa sendiri karena tidak punya tempat pelarian.

Mungkin dalam rumah tangga yang ideal, tempat pelarian seorang istri adalah suaminya. Sayang sekali, hal ini tidak terjadi pada kehidupanku. Aku berjuang dan bertahan sendiri. Tanpa apresiasi dan tak punya tempat mengeluh atau mengadu. Sedih, ya! Sedih sekali!

Hal yang harus selalu aku syukuri sampai detik ini adalah hati, jiwa dan ragaku diberikan ketenangan dan kepasrahan dalam menjalani apa yang sedang aku hadapi. Kadang, aku merasa sangat malu dengan keluhan yang aku utarakan dan permintaanku yang sangat banyak tapi rasa syukurku yang sangat minim. Alangkah tak tahu dirinya aku karena banyak meminta tapi sedikit bersyukur. Untuk hal yang satu ini, jujur saja aku berlindung pada kalimat, “Ya, namanya juga manusia. Aku hanya manusia biasa.” 

Pertanyaan dalam kepalaku adalah: apakah rasa pasrah ini adalah hal yang baik untuk diriku? Dengan pasrah dan menerima keadaan tanpa menolak, apakah ini sebuah tindakan yang benar dan bukan sebuah kedzaliman pada diri sendiri? Sejatinya setiap manusia memiliki hak atas dirinya untuk bahagia, menyayangi dan disayangi secara utuh.

Eye_V


Cerita Mama berisi cerita yang ditulis oleh pembaca digitalMamaID seputar pengalamannya saat bersentuhan dengan dunia digital. Baik saat menjalankan perannya sebagai individu, istri, ibu, pekerja, maupun peran-peran lain di masyarakat. Kirimkan cerita Mama melalui email redaksi@digitalmama.idatau digitalmama.id@gmail.com dengan subyek [Cerita Mama].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *