Cerita Ojol Perempuan Hadapi Diskriminasi Penumpang

Ilustrasi ojol perempuan
Share

“Kalo kita dapat pelanggan laki-laki, terus laki-lakinya kurang asem, ya. Suka ada yang ngajak ke hotel. Saya pernah ngalamin itu,” ujar Nina Kusniati (40), seorang pengemudi ojek online atau yang biasa disebut ojol di Bandung. Di sebuah tempat kumpul yang mereka sebut Basecamp Srikandi, beberapa ojol perempuan. Menjelang petang, tempat itu mulai ramai oleh ojol perempuan yang beristirahat sambil berbagai cerita.

Tak mudah bagi Nina hidup sebagai seorang janda dengan tiga anak. Untuk melanjutkan hidup, ia bekerja sebagai pengemudi ojek online. Pekerjaan ini memang jadi tumpuan bagi mereka yang tidak punya banyak pilihan pekerjaan. Meski begitu, pekerjaan sebagai pengemudi ojek online tidak mudah, terutama bagi perempuan.

Korban diskriminasi penumpang

Nina pernah menghadapi penumpang “nakal”. Saat mengantar penumpang itu, Nina tentu berusaha bersikap baik. Tapi kesopanan sebagai pengemudi itu justru dibalas dengan ajakan menginap di hotel.

Pengemudi ojol perempuan juga mengalami diskriminasi. “Dari cerita teman-teman di lapangan, (dapat order) lebih sedikit sih enggak karena pembagiannya dari kantor. Cuma terkadang driver perempuan tuh suka di-cancel sama customer dengan alasan bukan muhrim atau enggak biasa dibawa sama perempuan,” kata Dini Sukmawati (36) ditemui di Basecamp Srikandi pada Januari 2024.

 

Nina Kusniati (40), ojol perempuan di Bandung
Nina Kusniati (40), ojol perempuan ditemui di Basecamp Srikandi, Bandung ada januari 2024. (Jesicca Marpaung)

Menghadapi penumpang model begitu, butuh kesabaran. Bagi ojol, membatalkan permintaan pelanggan akan berpengaruh buruk pada capaian target pengemudi hari itu. Dini mengatakan, biasanya ia memberi pengertian kepada pelanggan untuk tetap bersedia melanjutkan pesanan.

”Pernah ada yang nolak untuk dibawa dengan alasan bukan muhrim atau takut kagok. Kita ngasih tahunya, kalau misalkan canggung atau gimana, kan bisa jaga jarak. Kalaupun kita sering di-cancel, performa kita turun. Kalau kita ngejalanin tanpa bawa penumpang juga melanggar aturan, yang pasti imbasnya semua kena ke driver. Jadi kita kasih pengertian dengan bahasa yang enaklah,” tutur Dini.

Di tengah situasi pelik seperti itu, Dini memilih untuk menyikapinya secara dewasa. Ia berusaha memberi penjelasan sebaik-baiknya dan bersikap seprofesional mungkin. 

Tidak semua penumpang

Kecanggungan penumpang terhadap ojol perempuan diakui oleh Rian Januar (23). Ia mengaku lebih nyaman jika berkendara bersama ojol laki-laki. “Mungkin laki-laki tuh lebih sat-set kalau lagi nyetir,” ujarnya.

Dini Sukmawati (36), ojol perempuan di Bandung
Dini Sukmawati (36), ojol perempuan ditemui di Basecamp Srikandi, Bandung ada januari 2024. (Jesicca Marpaung)

Meski begitu, tidak lantas membuatnya membatalkan pesanan jika mendapat pengemudi ojol perempuan. Bagi Rian, pengemudi perempuan punya kelebihan. “Menurut saya, perempuan lebih (mengutamakan) safety (keamanan). Jadi saya tidak mau memberi label ya, yang penting dia aman dan sesuai kinerjanya,” tuturnya.

Menolak ojol perempuan, kata Rian, bukanlah tindakan yang bijak. Bagaimanapun, mereka juga mencari nafkah. Tidak sampai hati ia menolaknya. “Namanya juga cari uang, mau gimana lagi. Masa kita tolak? Kan kasihan,” ujarnya.

Tantangan dan peluang ojol perempuan

Kondisi fisik menjadi salah satu tantangan bagi ojol perempuan. Jam kerja yang tidak menentu membuat mereka bekerja di waktu-waktu yang tidak normal. Kadang mereka harus menemus udara Bandung malam hari yang dingin sekali. Panas matahari juga tidak membuat mereka menepi. 

Kegigihan ojol perempuan membuat pengemudi laki-laki menaruh hormat. “Saya salut sama dia (ojol perempuan). Mau bekerja seperti ini. Padahal mah berat kan buat dia? Intinya saling menghormati saja,” ujar Cecep Sudarso (46), seorang pengemudi ojol di Bandung.

Pengemudi ojek online perempuan Melia Apriani (42) mengamini semua tantangan itu. Meski kadang membuat ciut hati, mereka memutuskan tidak berhenti. Ia mengingat pula hal-hal baik yang ia rasa. Misalnya saja kemudahan saat mendaftarkan diri. Ada jalur khusus yang disiapkan oleh platform ojek online bagi pendaftar perempuan.

Melia Apriani (42), ojol perempuan di Bandung
Melia Apriani (42), ojol perempuan ditemui di Basecamp Srikandi, Bandung ada januari 2024. (Jesicca Marpaung)

Setelah aktif, ia merasa sebagai ojol perempuan juga mendapat keuntungan, “Akun perempuan lebih gacor (cepat) sebetulnya, ya lebih bagus akunnya,” ujarnya. Tapi keuntungan itu tidak ada artinya jika akun tidak aktif digunakan.

Melia mengaku, ojol perempuan juga mendapat pelatihan lewat seminar-seminar. Ada pula forum yang disebut dengan “komdar”. Di situ mereka bisa menyuarakan kritik dan saran terkait kondisi di lapangan. Aspirasi ini jadi catatan bagi platform untuk berbenah. Forum ini biasanya diadakan 3-4 bulan sekali.

Perempuan rentan menghadapi diskriminasi, bahkan pelecehan seksual di tempat kerja. Tak terkecuali mereka yang bekerja sebagai ojek online. Demi nafkah keluarga, mereka tak mau kalah. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *