Kpopfication, Warna Baru Kampanye Pemilu

Ilustrasi kpopfication
Share

digitalMamaID – Penggemar K-Pop menjadi kekuatan baru dalam masyarakat. Mereka kompak menggalan dana saat terjadi bencana. Suaranya juga vokal menyampaikan sikapnya atas persoalan lingkungan dan kemanusiaan. Nah, di musim kampanye pemilu ini, muncul istilah Kpopficatioan. Apa sih itu?

K-Pop telah menjadi salah satu fenomena global yang memikat jutaan orang di seluruh dunia. Diantara J-Culture, Chinese Culture dan Culture lainnya, K-Culture yang termasuk di dalamnya K-Pop, yang paling berhasil membentuk komunitas dan identitasnya sendiri.

Kpopfication Annies Baswedan

Kultur K-Pop ini begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari musik, drama, fashion, makanan, kosmetik bahkan baru-baru ini diadopsi untuk sebuah dukungan politik bernama Anies Bubble (@aniesbubble). Bubble sendiri merupakan aplikasi berbayar yang biasanya digunakan fans K-Pop untuk berkomunikasi dengan idol-nya.

Anies Bubble pertama kali viral di platform X (dulu Twitter) Januari awal sesaat setelah kandidat Presiden Indonesia, Anies Baswedan melakukan Live TikTok sederhana setelah berkegiatan. Akun yang disinyalir diprakarsai oleh K-Popers (sebutan untuk penggemar K-Pop) itu berisi unggahan potongan-potongan video Anies yang ada di Live TikTok yang di Kpopfication (hal-hal yang di K-Pop-kan) dengan caption menggunakan Hangeul (alfabet Korea). Akun ini mengemas dan memperlakukan sosok Anies layaknya idol Korea. Hal-hal ini yang kemudian disebut dengan Kpopfication.

Hal ini menarik Ghibah Ilmiah, sebuah lingkar diskusi ilmiah kajian media dan budaya populer yang digagas oleh dosen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Dr. Syafrida Nurrachmi Febryanti dan Aulia Rahmawati, Ph.D. Sebelumnya, K-Popers hampir tidak pernah terlibat dalam gerakan politik apapun. Hal ini memancing pertanyaan besar, apakah dukungan ini benar organik atau buatan sebagai marketing kampanye saja?

“Nampaknya awalnya pada Anies Bubble ini yang pertama muncul itu untuk ‘test the water’, jadi K-popers ini menurut wartawan yang sudah mewawancarai langsung, awalnya organik, ia ingin mencoba membuat akun tersebut. Lalu belakangan kemudian banyak keterlibatan dari eksternal, termasuk mengalirnya uang, foto-foto, video dan sebagainya,” papar Prof. Rachmah Ida M.Comms., Ph.D dalam diskusi di Zoom pada Jumat, 19 Januari 2024.

Gerakan pertama di Indonesia

Biasanya K-Pop lebih banyak terlibat dalam kampanye political movement yang kaitannya dengan environment dan disaster. Namun, dalam politik praktis dirinya tidak banyak menemukan keterlibatan K-Pop kecuali, kejadian sabotase kampanye Donald Trump oleh fandom K-Pop di tahun 2020 lalu dan kemudian yang lebih kontemporer lagi bagaimana K-Popers juga berada di balik kesuksesan terpilihnya Presiden Cili termuda, Gabriel Boric yang didukung oleh komunitas K-pop dengan membuat tagar, meme dan lain sebagainya.

“Pada kasus di Indonesia, kita melihat mungkin Anies Bubble ini gerakan pertama di Indonesia dalam beberapa kali pemilihan umum setelah reformasi Indonesia. Jika ini organik maka sama halnya seperti Indosiar di tahun 2002 mencoba menanyangkan berbagai drama Asia ke televisi. Mereka itu membeli 1 drama dan mendapat 10 bonus drama yang di dalam bonusnya ada serial Meteor Garden dan ternyata boom,” lanjutnya.

Tamida, K-Popers yang ikut memeriahkan Anies Bubble mengatakan kemunculan Anies Bubble dan Olppaemi Project ini tidak ingin disebut sebagai K-Popers. Mereka hanya salah satu dukungan dalam bentuk Kpopfication. Jika Anies Bubble fokusnya pada kegiatan-kegiatan Pak Anies. Sedangkan Olppaemi Project fokus ke projek-projek, seperti link donasi.

“Jadi akhirnya Anies Bubble dan Olppaemi Project ini mempunyai nama fandom sendiri yang diperuntukkan untuk mendukung Pak Anies. Mungkin awalnya berangkat dari K-Popers tapi mereka tidak menyebutkan mereka K-Popers, karena tidak mau menodai K-Pop. K-Popers memang tidak mau disangkutpautkan dengan politik tapi mungkin ini suatu jalan untuk melek terhadap politik,” tuturnya.

Mengapa Anies Baswedan yang dibuat Kpopfication?

Keberhasilan Kpopfication yang dilakukan pendukung Anies baswedan, menurut salah seorang peserta Ghibah Ilmiah Dygna adalah faktor pembawaan diri. Anies dinilai baik dalam merespon media. “Prabowo itu kan tegas dan kontroversial, K-Popers itu tidak akan suka yang seperti itu. Sementara Pak Ganjar jika ada yang tahu, sewaktu di roasting oleh stand up comedian Kiki Saputri itu sempat di cut. Ini menunjukkan seolah-olah jika nanti beliau dikemas takutnya tersinggung. Pak Anies tidak, Pak Anies slow. Jadi jika Pak Anies dikonsepkan seperti idol mungkin Pak Anies tidak akan marah. Saya melihatnya seperti itu,” paparnya.

Berbeda pendapat, Akbar Maulana yang juga salah satu peserta diskusi Ghibah Ilmiah berpendapat Kpopfication bisa untuk semua Calon Presiden dan Wakil Presiden. “Tinggal menunggu momen saja Pak Prabowo, Pak Ganjar melakukan hal yang sama. Menunggu para K-popers melakukan hal yang sama terhadap paslon lain. Menurut saya ini organik karena punya cara komunikasi yang berbeda dan hanya mereka yang mengetahui arti dari komunikasi tersebut. Sama halnya seperti Ultras sepak bola,” ungkapnya.

Tidak tabu lagi

Di luar pro dan kontra apakah dukungan ini organik atau buatan. Ida melihat fenomena K-Popers dengan politik itu seolah-olah menghilangkan tabu bahwa K-Pop dan politik itu norma yang harus dipisahkan.

“Ketika ada fenomena Anies Bubble ini, tabu ini hancur. Tetapi yang menarik dari sini bahwa ini upaya untuk memobilisasi jumlah potensial. Jika citizen K-Pop di X itu 178 juta, walau ada second account atau akun bodong, ini bisa dimobilisasi untuk perolehan suara, itu menggiurkan,” paparnya.

Tetapi menurutnya perlu diingat bahwa K-Popers itu masih memegang  values, dukung-mendukung dengan politik itu sebenarnya tidak ada. Fenomena ini bukan hanya persoalan tabu yang dihancurkan saja, tetapi ini menunjukkan fenomena ini bisa menjadi alat untuk memobilisasi dukungan.

“K-Popers ini bisa menjadi haters pada pemilih-pemilih yang tidak siap untuk memilih. Tapi pada pemilih-pemilih yang siap memilih ini adalah upaya untuk mempengaruhi. Saya masih percaya pada value dan norma yang dipegang K-Popers mereka mencoba memilah antara K-Pop dan politik,” pungkasnya. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bingung cari konten yang aman untuk anak?
 
Dapatkan rekomendasi menarik dan berikan pendapatmu di Screen Score!
Ilustrasi melatih anak bicara/Bukbis Ismet Candra Bey/digitalMamaID