Tantangan Bisnis Media di Masa Depan

Share

digitalMamaID – Era baru yang sering disebut sebagai era digital ini menjadikan hampir seluruh kegiatan masyarakat berpindah dari dunia nyata ke dunia maya. Kehadiran era digital menjadikan hubungan antar manusia tidak lagi terhalang jarak dan waktu.

Hal itu juga berpengaruh pada bisnis media di masa yang akan datang. Sekaligus menjadi tantangan tersendiri untuk menghadapi perkembangan teknologi.

VP Dentsu Indonesia, Janoe Arijanto mengatakan, media ke depan tentu harus semakin kreatif. Apalagi munculnya aturan-aturan baru baik dari Google dan kepemerintahan.

Janoe menatakan, saat ini sekitar 70% belanja iklan masuk ke dua mega platform, yaitu Google dan Meta. Fakta lainnya, saat ini pemasaran influencer menjadi tren yang masih terus berlanjut. Konten yang berujung pada transaksi perdagangan pun diperkirakan akan banyak dikembangkan.

Hal penting yang perlu diperhatikan ialah soal data pihak pertama. Data-data yang dikumpulkan dari pengguna atau pembaca perlu dikelola. “Data ini penting bagi pengelola news portal online, karena menawarkan wasasan mendalam tentang prilaku dan preferensi pembaca, karena memungkinkan untuk personalitas konten,” katanya saat menjadi pembicara di Local Media Summit 2023 di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Rabu, 11 Oktober 2023.

Produksi konten pun kini diarahkan untuk menjadi semakin personal. “Pendekatan yang menggunakan data dan teknologi atau menyediakan konten, produk atau pesan iklan yang sangat sesuai dengan kebutuhan konsumen,” sambungnya.

Janoe juga menyampaikan, bahwa tantangan di jurnalisme dan bisnis media ke depan akan semakin sulit. Karena, banyak yang membuat media dibangun oleh semangat jurnalisme. Ketergantungan terhadap platform besar membuat data-data dikuasai oleh pihak lain. Hal itu yang membuat posisi tawar media rendah.

Selain itu, pudarnya hubungan langsung penerbit dan pengiklan, bersaing dengan crowd content, menghadapi kendala transparansi data dan Influencer marketing.

Meski hal itu perlahan sudah ada, dia juga menjelaskan ada pekerjaan rumah yang sangat panjang ke depan bagi bisnis media dan jurnalisme. “Yakni mendorong fairness mega platform, dari ruang iklan integrasi aset digital, penguatan First Party Data, Penguatan data audience di aset multi platform, Community and multi segment engagement, Memposisikan media sebagai brand dan Memperkuat proses dan model bisnis multiplatform,” jelasnya.

Masih ditempat yang sama, CEO and Co-Founder ProPS, Ilona Juwita menjelaskan, sudah banyak media yang mengalami penurunan pendapatan dari iklan Google, penurunannya sekitar 40 hingga 60 persen.

Tentunya kata Ilona ada cara untuk meminimalisir hal tersebut, yakni dengan pendistribusian konten hingga optimasi. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *