Pengalaman Jalan-jalan Tanpa Uang Tunai di Jakarta

Ingatkah Mama bagaimana paniknya dulu saat tidak membawa uang tunai? Dulu khawatir karena tidak membawa dompet. Sekarang lebih ketar-ketir saat ketinggalan handphone!

Kini, semua kegiatan bisa dioperasikan melalui gawai. Mulai dari belanja sayur, transfer dana ke orangtua, top-up e-money, jajan-jajan di kafe, sampai menarik uang dari ATM, semua dilakukan melalui gawai sendiri. Secanggih itu! Makanya, tidak membawa uang tunai ya enggak jadi masalah karena semua bisa dilakukan melalui gawai.

Seharian tanpa uang tunai adalah hal yang sangat memungkinkan, apalagi jika berada di kota besar. Semua bisa dilakukan tanpa menyentuh uang tunai asal pegang gawai dengan daya, kuota internet, dan tentu saja sejumlah dana di rekening. Pengalaman cashless ini sudah biasa dilakukan di kota-kota besar, seperti contohnya Bandung dan Jakarta. Alhasil, tidak membawa uang tunai di dompet pun tidak terlalu bikin khawatir.

Transaksi cashless ini memudahkan karena pedagang tidak perlu repot mencari uang kembalian. Apalagi dengan hadirnya QRIS yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia untuk mengintegrasikan pembayaran dari berbagai jenis bank dan dompet digital.

QRIS adalah singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard. QRIS merupakan upaya standardisasi oleh Bank Indonesia untuk semua perusahaan yang memanfaatkan teknologi finansial (fintech) seperti GoPay, OVO, DANA, LinkAja, dan lain-lain. Sehingga, QRIS menyatukan berbagai macam QR code dari beragam Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) supaya transaksi digital menjadi lebih cepat, aman, dan mudah.

Tak hanya kafe besar yang menerima pembayaran non-tunai, kini penjual sate gerobak dan jus harga ceban pun menerima pembayaran melalui QRIS. Cashless society mulai terbentuk apik. Jadi, apakah kita masih butuh uang tunai?

Sehari tanpa uang tunai

Akhir pekan dapat menjadi momen tepat untuk menjajal pengalaman tanpa uang tunai atau cashless. Akhir pekan lalu, Digitalmama.id menjajalnya di Jakarta!

Dimulai dengan perjalanan dari rumah menggunakan ojek daring yang bisa bayar non-tunai karena sudah otomatis terpotong dari saldo dompet digital atau kartu debit/kredit berlogo VISA atau Mastercard. Biasanya, menghabiskan waktu di akhir pekan, paling cocok pergi ke tempat publik yang menyatukan brand-brand lokal dalam satu tempat. Cobain deh pergi ke M-Bloc Space!

Jika perjalanan menggunakan ojek daring ke M-Bloc Space terasa mahal, kita bisa turun di stasiun MRT terdekat untuk menuju Stasiun Blok M. Pastikan kamu punya sejumlah dana minimal Rp15.000 di e-Money, Flazz, Tapcash, Brizzi, atau kartu multitrip keluaran Commuter Line untuk bisa naik MRT, ya! Tapi, tenang saja buat yang tidak punya kartu-kartu tersebut. Kita bisa unduh aplikasi MRT-J di gawai kita. Ikuti saja arahan aplikasi tersebut untuk bisa membayar non-tunai ke stasiun tujuan.

Setelah berhasil turun di Stasiun Blok M, kita bisa berjalan menuju M-Bloc Space. Di sana terdapat beragam tenan makanan dan minuman, fesyen, hingga Galeri Museum Peruri yang menampilkan mesin pencetak uang kuno disertai berbagai penjelasannya. Tenang, masuknya gratis kok.

Setelah puas mengelilingi Galeri Museum Peruri yang tidak amat besar itu, kita bisa masuk ke M-Bloc Market, surganya brand lokal yang bermuara menjadi satu. Di sini, kita bisa melihat beragam hasil karya brand lokal mulai dari makanan sehat, skincare, hingga barang-barang kebutuhan rumah tangga yang khas dan unik. Tak lupa, ada sudut sayur mayur dan buah-buahan, serta rak minuman yang besar dan beragam isinya.

Perlu diingat, M-Bloc Market tidak menyediakan kantong belanja (hampir di setiap supermarket di Jakarta sudah stop penggunaan kantong belanja berbabahan dasar plastik). Jadi, jangan lupa bawa kantong sendiri ya. Selain itu, isi dompet digital atau siap-siap membuka aplikasi bank dengan fitur QRIS agar memudahkan pembayaran. Bahkan, kalau tidak salah, semua tenan di M-Bloc Space hanya menerima pembayaran non-tunai.

Setelah berbelanja, kita bisa jajan kopi atau makan berat seperti nasi dan lauk pauk di M-Bloc Space. Ada beberapa kedai kopi, jamu, es krim, dan resto yang bisa disambangi. Tentunya, kita bisa keluar masuk dengan senang hati untuk mengecek apa saja yang mereka jual. Jangan malu untuk melihat menu dan harga yang sekiranya sesuai dengan preferensi kita masing-masing.

Sudah kenyang? Yuk kita kembali ke rumah. Demi mengurangi kemacetan dan polusi, kita pun bisa kembali ke rumah menggunakan MRT atau ojek daring. Tentunya, transaksi menggunakan transportasi publik ini bisa dilakukan melalui gawai atau kartu. Oke, bisa kan kita jalan-jalan tanpa menggunakan uang tunai di di Jakarta? Bagaimana dengan di kota Mama?

Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published.