Memilih Sekolah untuk Anak, Seperti Mencari Rumah Kedua

Tahun ajaran baru segera dimulai nih, Mama! Tak terasa si kecil naik kelas tahun ini, begitu juga dengan yang baru memasuki dunia sekolah. Welcome to the club!
Untuk orangtua yang tahun ini menyiapkan anaknya untuk masuk sekolah pertama kali, memilih sekolah untuk anak bisa menjadi PR besar. Memilih sekolah diibaratkan memilih rumah kedua untuk anak, karena nanti waktu anak akan banyak dihabiskan di sekolah selain di rumahnya. Apalagi bila direnungkan, masa sekolah ini akan berlangsung tanpa berhenti dari masuk TK sampai akhirnya ke perguruan tinggi.
Orangtua mestinya mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu sebelum memilih sebuah sekolah. Tidak lupa, anak sebagai murid yang akan menjalani kegiatan belajar harus masuk dalam pertimbangan orangtua. Apakah sekolah memenuhi apa yang orang tua dan anak butuhkan? Lalu, apa ya biasanya pertimbangan utama orang tua saat memilih sekolah?

Visi misi orangtua dan sekolah harus selaras

Setiap orangtua tentu memiliki visi dan misi dalam mendidik anak-anaknya. Visi dan misi orangtua bisa berbeda-beda dan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti latar pendidikan keluarga, juga budaya masing-masing. Perbedaan ini akan menghasilkan gaya parenting yang berbeda pula. Pada akhirnya akan mempengaruhi sekolah yang akan dipilih. Sudah barang tentu semua orangtua akan memberikan usaha terbaik untuk anak terlepas bagaimana visi misi keluarga yang dijalankan.
Anti (34), ibu satu putri yang tinggal di Depok menuturkan, sekolah baginya dan suami haruslah memiliki nilai yang sama dengan yang dijalankan keluarga. Dalam hal ini misalnya, Anti memilih sekolah berbasis agama Islam sebagai pilihan sekolah untuk sang anak. “Sekolah Islam ini wujud dari ingin menjaga nilai yang sudah dibangun di keluarga,” ujarnya (1/7/2022).
Selain itu, menurutnya orang tua tidak bisa menyerahkan semua urusan pendidikan anak ke sekolah. “Jadi, sekolah dan orang tua harus mendidik anak bareng-bareng.”
Lain halnya dengan Puspita (30), ibu dari satu anak yang tinggal di Cibubur ini menuturkan bahwa suasana belajar dan bermain menjadi pertimbangan utamanya saat memilih sekolah untuk anak, mengingat kebutuhan anaknya yang aktif dan senang bermain. Sedangkan untuk pendalaman agama sang anak, ia memilih untuk mempelajarinya di luar sekolah dengan menggunakan guru privat yang dipanggil ke rumahnya. “Agar lebih termonitor oleh saya. Dan bisa berkomunikasi langsung dengan gurunya.” tambahnya.

Melibatkan Anak

Melibatkan anak saat memilih sekolah akan menunjukkan bahwa suaranya didengar. Hal ini bisa diawali dengan apakah anak mau mulai sekolah di tahun ini? Karena bila si anak belum mau, sebaiknya orang tua tidak memaksa. Bila pertanyaan tersebut sudah terjawab, bisa dilanjutkan dengan mengunjungi sekolah-sekolah pilihan orang tua dan meminta pendapat anak. Orangtua bisa mengajak anak mengikuti trial yang diadakan sekolah.

Biaya sekolah

Biaya tentu jadi pertimbangan orang tua saat memilih sekolah untuk anak. Amat disarankan biaya pendidikan anak telah disiapkan jauh-jauh hari, bahkan saat si anak masih di dalam kandungan. Soal biaya, jangan sampai orang tua terlalu pelit atau terlalu boros. Sesuaikan dengan budget yang disiapkan.

Kurikulum dan fasilitas sekolah

Saat trial sekolah, orang tua bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk berdiskusi dengan tenaga pengajar. Najelaa Shihab, penggagas Sekolah Cikal mengatakan, selain mendiskusikan kurikulum tertulis, orang tua mestinya mendiskusikan juga tentang applied curriculum (kurikulum terapan yang berfokus pada pendidikan yang menghubungkan apa yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan sehari-hari).
Selain kurikulum, perihal fasilitas juga bukan hanya sebatas seberapa besar dan bagus sarana yang dimiliki sekolah. “Ada hal intagible (yang tidak tampak) yang lebih menentukan kualitas sekolah,” katanya dalam kanal youtube Sekolah Cikal Official . Misalnya, apakah fasilitas sekolah digunakan dengan maksimal oleh sekolah? Atau hanya 1-2 jam setiap minggu? Karena riset membuktikan, kegiatan outdoor atau olahraga menurunkan stres anak dan menghilangkan kejenuhan.

Penggunaan teknologi

Pasca pandemi, semua instansi, baik pendidikan, sosial, pemerintahan dan bisnis mulai menggunakan teknologi secara maksimal. Bekerja dan belajar bisa dilaksanakan tak terbatas ruang dan waktu. Berkaca dari situasi pandemi, orangtua bisa juga mempertimbangkan bagaimana kesiapan teknologi yang dimiliki sekolah untuk untuk memudahkan belajar dan memudahkan komunikasi antara sekolah, orang tua dan anak. Misalnya ketersediaan LMS (Learning Management System), e-library, rekaman belajar, atau ekskul komputer atau coding yang dimiliki sekolah.

Jarak

Jarak sekolah dan rumah juga harus menjadi pertimbangan orangtua saat memilih sekolah untuk anak. Meski setiap sekolah saat ini mempunyai layanan antar jemput, hingga jenjang sekolah dasar sebaiknya dicarikan sekolah yang tidak terlalu jauh agar anak tidak kehabisan energi di perjalanan.

Kesejahteraan guru

Persoalan kesejahteraan guru sering luput dari radar orangtua saat memilih sekolah untuk anak. Orangtua merasa bahwa kesejahteraan guru bukan menjadi area tanggung jawabnya. Padahal, bila direnungkan, kesejahteraan guru ini sangat berkaitan dengan kualitas mengajar di sekolah dan ini akan terhubung langsung dengan anak. Guru yang bahagia akan mengajar dengan bahagia.
Walaupun tampak sensitif, orangtua dapat memulai pembicaraan ini saat wawancara penerimaan murid. Orangtua bisa menanyakan kepada pihak sekolah bagaimana hubungan antara sekolah dengan para pegajar, misalnya apakah berstatus kontrak atau pegawai tetap,  apakah gaji guru sesua dengan UMR yang berlaku di daerah tersebut, adakah tunjangan atau fasilitas yang diberikan kepada guru-guru, dan sebagainya. Guru yang menjadi ujung tombak pengajaran mestinya diberikan perhatian lebih.
Setiap orangtua akan memilih pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Walaupun terkadang orang tua masih memiliki ego dan memaksakan kehendaknya kepada anak. Orangtua hendaknya tidak hanya melihat pengalamannya sendiri di masa lalu sebagai tolak ukur. Zaman berkembang, metode belajar juga berkembang.
“Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang menghasilkan perubahan perilaku dan menghasilkan kompetensi utuh secara akademik dan non akademik,” kata Najelaa Shihab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.