Emotional Abuse, Kekerasan yang Sering Diabaikan

Serial Netflix “Maid” sempat menjadi trending, terutama di kalangan Ibu-Ibu milenial. Bagaimana tidak, serial ini menceritakan tentang perjuangan seorang Ibu untuk menghidupi anaknya, dengan menjadi Asisten Rumah Tangga.

Nah, ada hal menarik juga nih, dari “Maid” karena banyak menceritakan emotional abuse dalam kehidupan keluarga. Diceritakan, sang pemeran utama, Alexandra Russell, mengalami kekerasan emosional oleh kekasihnya. 

 

Berkaca dari serial tersebut, emotional abuse memang seringkali diabaikan. Banyak orang mengira, bahwa jika kita tak terluka secara fisik, maka kita bukan korban kekerasan.

 

Padahal, faktanya, kekerasan emosional juga termasuk ke dalam domestic violence atau kekerasan dalam berumah tangga. 

 

Lalu, apa ciri-ciri dari kekerasan emosional dalam lingkungan keluarga? Dan bagaimana caranya mendapatkan bantuan?

 

Pengertian Emotional Abuse

 

Emotional Abuse adalah perilaku menghina, memanipulasi, ataupun mengkritik dengan tidak melibatkan fisik. Tidak berhenti di situ, setiap perilaku yang melibatkan emosi dan bisa menyakiti perasaan korban bisa didefinisikan sebagai kekerasan emosional.

 

Mengutip Verywellmind, emotional abuse bisa berupa kata-kata kasar atau buruk yang dilontarkan seseorang sehingga korban merasa harga dirinya terlukai dan merusak kesehatan mentalnya.

 

Tujuan mendasar kekerasan ini adalah mengontrol perilaku korban dengan mengisolasi serta membungkam mereka. Akhirnya, si korban akan perlahan kehilangan kepercayaan serta jati dirinya yang selama ini Ia jaga.

 

Ciri-ciri Emotional Abuse

 

Kekerasan emosional memang sulit dikenali. Malah terkadang, kebanyakan korban tidak menyadari bahwa dirinya merupakan korban emotional abuse.

 

Yang perlu diketahui, kekerasan emosional berbeda dengan konflik. Adanya konflik dalam setiap hubungan, tentu wajar dan sehat-sehat saja. Namun, tidak dengan kekerasan emosional.

 

Untuk mengenali ciri-ciri umum dari emotional abuse, Safe Horizon merilis daftarnya.

  • Mengabaikan Perasaan dan Privasi

Kita semua memiliki ruang privasi masing-masing. Walaupun dengan pasangan, atau orang tua sendiri, kita berhak menjaga ruang tersebut untuk diri sendiri. 

 

Jika, mereka mulai tidak menghargai privasi, bisa jadi itu adalah tanda emotional abuse. Contoh tindakan mengabaikan privasi adalah mengecek ponsel tanpa permisi. 

  • Selalu Mengkritik dan Menghakimi

Kritikan memang wajar dalam setiap perdebatan. Namun, jika Mama terus-terusan dikritik tanpa diberi ruang untuk mengemukakan pendapat, bisa jadi Mama adalah korban dari emotional abuse.

 

Pelaku juga biasanya menghakimi korban dengan menghinanya di depan publik, menjadikan lelucon, hingga menganggap apa yang Ia lakukan selalu benar.

  • Manipulatif

Ciri emotional abuse ini cukup susah dikenali, karena biasanya pelaku akan membuat korban tidak menyadari siapa yang sebetulnya harus disalahkan.

 

Biasanya pelaku emotional abuse akan melontarkan kata-kata yang membuat korban malah menyalahkan dirinya sendiri. Korban juga bisa meragukan jati dirinya dan terus stuck dalam pikiran tersebut.

  • Terlalu Posesif dan Mengontrol

Emotional abuse juga bisa terjadi ketika pelaku terlalu mengontrol segala tindakan korban. Ia akan memantau segala aktivitas korban dan akan langsung bereaksi jiga korban tak melakukan sesuai perintahnya.

 

Tindakan mengontrol ini juga akan membuat korban terisolasi dari lingkungan sekitar. Pelaku juga biasanya tak akan senang jika korban menghabiskan waktu bersama orang lain.

 

 

Cara Keluar dari Jeratan Emotional Abuse

 

Korban emotional abuse biasanya susah sekali untuk keluar dari jeratan hubungan toxic yang ia miliki. Verywellmind merilis bahwa korban biasanya terjebak, kemudian kembali lagi ke kubangan yang sama, sehingga siklus berulang. 

  • Hubungi Kerabat Terdekat

Untuk benar-benar keluar dari jeratan kekerasan ini, yang pertama kita harus lakukan adalah, cari pertolongan dari kerabat terdekat. Mama bisa menghubungi siapapun yang Mama percayai dan menceritakan semua yang dirasakan.

  • Hubungi Lembaga Berwenang/Psikolog

Jika Mama tak mempercayai siapapun, Mama juga bisa menghubungi lembaga berwenang yang bisa membantu keluar dari permasalahan ini. Salah satunya, psikolog ataupun komunitas khusus korban kekerasan rumah tangga. 

  • Jangan Pernah Kembali 

Kemudian, ingat selalu untuk jangan terlena dengan kata-kata manis pelaku ketika sedang tak emosi. Akan ada masa, si pelaku terlihat baik-baik saja dan bahkan membuat Mama ingin memaafkannya.

 

Namun, ingat untuk jangan pernah kembali ke kubangan yang sama. Karena pelaku kekerasan emosional memiliki kecenderungan untuk kembali melakukan hal yang sama di kemudian hari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.