Bagaimana Membicarakan Konflik atau Perang dengan Anak?

Membicarakan konflik atau perang dengan anak apakah diperlukan? Ketika perang berkecamuk dan menjadi berita utama di semua media massa juga mendominasi percakapan di media sosial, akan menimbulkan rasa takut, sedih, marah, juga cemas. Meski berada jauh dari medan perang, perasaan seperti itu bisa menyergap siapa saja di mana saja, termasuk anak-anak.

Bagi anak, orangtua adalah sumber keamanan, ketenangan, dan kenyamanan. Di tengah situasi yang membuat takut dan cemas, anak membutuhkan kehadiran orangtua lebih dari biasanya. Bagaimana cara memulai membicarakan konflik atau perang dengan anak? Respons apa yang tepat pada situasi seperti itu?

Unicef memberi beberapa tips yang bisa Mama coba untuk mulai membicarakan konflik atau perang dengan anak agar merasa lebih tenang dan nyaman:

1. Cari tahu apa yang mereka ketahui dan bagaimana perasaannya

Anak-anak bisa mengetahui berita konflik ataupun perang dari berbagai cara. Bisa dari televisi atau internet, dari sekolah, atau dari temannya. Ada anak-anak yang bisa jadi tidak tahu banyak tentang kejadian itu dan tidak tertarik untuk membicarakannya. Akan tetapi, ada pula anak-anak yang diam-diam menyimpan keresahan.

Ketika konflik dan perang terjadi, berbagai foto, gambar, dan berbagai narasi bertebaran di mana-mana. Di media massa, lini masa media sosial, aplikasi percakapan membahas topik yang sama. Ini yang membuat krisis ini jadi demikian terasa.

Untuk anak-anak yang usianya masih kecil, untuk memulai diskusi bisa dilakukan lewat menggambar, bercerita, atau aktivitas lainnya. Anak yang masih kecil kadang belum bisa membedakan antara gambar di layar dengan realitanya sendiri. Sehingga ia bisa merasa sedang dalam bahaya meski konfliknya terjadi jauh dari tempat tinggalnya saat ini.

Sementara anak yang lebih besar berpotensi melihat berbagai hal yang mengkhawatirkan di media sosial. Mereka bisa jadi merasa takut jika kejadian itu akan membesar dan akan mempengaruhinya.

Penting bagi orangtua untuk tidak mengecilkan atau meremehkan kekhawatiran anak-anak. Orangtua perlu untuk mencari tahu seberapa banyak yang diketahui anak-anak dan apa saja yan membuatnya khawatir. Jika mengetahui sumber kekhawatiran itu, maka orangtua akan bisa menenangkan dan meyakinkan mereka.

Katakan pada anak-anak, apapun yang mereka rasakan merupakan sesuatu yang wajar. Tunjukkan bahwa Mama mendengarkan, memberi perhatian penuh kepada mereka. Beri tahu anak-anak, mereka bisa bicara kapan pun dengan Mama. Anak-anak juga bisa bicara kepada orang dewasa lain yang mereka percayai.

Pemilihan waktu dan tempat untuk membicarakan hal ini juga penting. Pilih waktu dan tempat yang nyaman sehingga anak bisa berbicara bebas, misalnya saja saat makan malam keluarga. Usahakan untuk tidak membicarakannya sebelum waktu tidur.

2. Tetap tenang dan sesuaikan dengan usia anak

Anak-anak mempunyai hak untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia ini, namun orangtua punya tanggung jawab untuk menjaga agar mereka aman dari berbagai kesulitan. Gunakan bahasa yang sesuai, perhatikan reaksinya, dan perhatikan tingkat kecemasan mereka.

Jika Mama merasa takut dan cemas juga, itu sesuatu yang wajar. Akan tetapi, Mama perlu ingat, anak-anak akan membaca situasi dari emosi orang dewasa. Jadi usahakan untuk tidak membagi ketakutan secara berlebihan dengan anak. Bicaralah dengan tenang, gunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang tepat.

Mama perlu meyakinkan anak-anak bahwa mereka aman dari bahaya apapun. Beri tahu mereka, saat ini banyak orang yang bekerja keras untuk menghentikan konflik yang sedang terjadi.

Jika anak-anak mengajukan berbagai pertanyaan, jawablah sesuai yang Mama tahu. Jika Mama tidak bisa menjawabnya, tidak apa-apa. Sampaikan saja Mama masih perlu mencari tahu jawabannya. Mama bisa mencari informasi dari sumber yang terpercaya.

3. Tebarkan welas asih, bukan stigma

Konflik dan perang sering melibatkan prasangka juga diskriminasi, baik kepada seseorang maupun sebuah negara. Saat membicarakan konflik dengan anak, hindari menyematkan label seperti “orang jahat” atau “penjahat”. Gunakan kesempatan ini untuk mendorong anak berwelas asih kepada orang lain, misalnya mereka yang harus mengungsi karena perang.

Meski perang terjadi di tempat yang jauh, diskriminasi imbas konflik bisa terjadi di sekitar kita. Pastikan anak kita tidak menjadi bagian dari pelaku maupun korban diskriminasi. Jika mereka terlibat dalam persoalan ini, dorong anak untuk berani memberi tahu orang dewasa yang mereka percaya. Anak-anak harus tahu, semua orang berhak hidup aman di sekolah maupun di lingkungannya.

4. Fokus pada para penolong

Penting bagi anak untuk mengetahui bahwa di tengah konflik atau perang, banyak orang saling bergandengan tangan membantu orang lain. Carilah cerita-cerita positif yang terjadi di tengah konflik, misalnya anak-anak muda yang menyuarakan perdamaian.

Tanyakan kepada anak apakah ia mau ambil bagian dalam kegiatan positif. Misalnya membuat poster atau puisi tentang perdamaian, bisa juga ikut kegiatan penggalangan bantuan. Sekecil apapun kontribusi kita, hal baik selalu bisa membawa kenyamanan.

5. Tutup Percakapan dengan hati-hati

Saat mengakhiri percakapan, pastikan Mama tidak meninggalkan anak dalam keadaan tertekan. Perhatikan apakah anak masih cemas dengan melihat bahasa tubuhnya, nada suara, juga pernapasannya. Ingatkan anak, Mama peduli dan selalu ada untuk mendukung kapanpun dibutuhkan.

6. Terus sertai anak

Seiring berita tentang konflik dan perang terus berlanjut, Mama perlu terus memantau kondisi anak. Bagaimana perasannya? Apakah ada yang mereka ingin tanyakan atau bicarakan?

Jika anak terlihat khawatir tentang apa yang sedang terjadi, perhatikan jika ada perubahan perilaku, termasuk jika mengalami sakit perut, sakit kepala, atau susah tidur.

7. Batasi banjir informasi

Perhatikan seberapa banyak anak-anak terpapar dengan informasi terutama yang disertai dengan gambar atau video yang mengganggu. Pertimbangkan untuk mematikan berita di sekitar anak yang masih kecil. Sedangkan dengan anak yang lebih besar, Mama bisa mendiskusikan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membaca berita, sumber informasi apa saja yang mereka percayai.

Mama bisa mengajak anak-anak berjalan-jalan atau bermain bersama agar mereka tidak terpaku dengan pemberitaan tentang perang yang mendominasi media.

Oh iya, Mama juga hati-hati saat membicarakan soal perang atau konflik dengan orang dewasa lain. Terutama jika anak-anak masih bisa mendengarkan apa yang Mama bicarakan.

8. Jangan lupa jaga diri Mama sendiri

Mama bisa membantu anak-anak dengan lebih baik, jika bisa mengatasi situasi ini dengan baik pula. Respons Mama yang baik bisa membuat anak-anak tahu bahwa orangtua tenang dan situasi terkendali.

Jika merasa cemas atau kesal, luangkan waktu untuk diri sendiri, bicaralah dengan keluarga, teman, atau orang-orang yang Mama percayai. Jangan terus-menerus online dan terpapar berbagai informasi yang membuat Mama cemas dan marah. Mama juga perlu rileks dan memulihkan diri.

Membicarakan konflik atau perang dengan anak memang bukan sesuatu yang gampang, tapi bukan berarti harus dihindari. Pembicaraan ini penting agar Mama bisa membantu anak melewati dan mengatasi kekhawatiran akan situasi yang terjadi. Jangan menyerah, Mama!

Leave a Reply

Your email address will not be published.