Tragedi Bayi Alena dan Pergulatan Ibu dalam Pengasuhan Antargenerasi

pengasuhan antargenerasi
Share

digitalMamaID — Kisah pilu bayi Alena mengguncang lini masa. Tragedi ini tak hanya menyoal mitos yang masih dipercaya generasi orangtua, tapi juga menunjukkan peliknya pengasuhan antargenerasi. Ketika pengasuhan dibagi bersama kakek-nenek, ibu jadi kehilangan kendali.

Alena, bayi berusia 28 hari menghembuskan napas terakhir setelah sang nenek mencekoki telur mentah. Tubuh mungilnya menyerah setelah berjuang di NICU dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.  Kematiannya pada Minggu, 11 Oktober 2026 itu menjadi duka bagi seluruh ibu di Indonesia.

Tragedi ini menunjukkan, betapa sulitnya pengasuhan antargenerasi, yaitu pengasuhan yang melibatkan lebih dari satu generasi. Anak diasuh bersama oleh orangtua dan kakek-nenek.

Di satu sisi, pengasuhan antargenerasi ini bisa menjadi sistem dukung yang semestinya meringankan ibu. Tapi di sisi lain, ibu kerap kalah kuasa dengan nenek karena dianggap lebih berpengalaman merawat bayi meskipun dilandasi pada mitos.

Penyesalan panjang

Fatimah (34), bukan nama sebenarnya, seorang ibu di Bandung tak pernah bisa melupakan kejadian buruk saat anaknya masih berusia tiga bulan. Selama ia bekerja, ia mempercayakan pengasuhan anaknya kepada ibu dan tantenya.

Saat berada di tempat kerja, ia menerima telepon dari rumah. “Aku nggak tahu kalau ASIku di rumah habis, tahu-tahu ditelefon, anakku sudah diberi air madu biar nggak kehausan katanya,” katanya kepada digitalMamaID, pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Ia tak bisa melawan ibunya. Ia kemudian buru-buru mengirimkan ASI perah dari kantor ke rumah. Begitu ASI terkirim dan sambungan telepon usai, Fatimah menangis. Ia mengutuk dirinya sendiri. Bahkan rasa bersalah itu kerap muncul sampai hari ini.

“Sampai detik ini saya menyalahkan diri sendiri, kenapa (dulu) nggak lebih galak, lebih bawel. Beruntung anakku enggak kenapa-kenapa karena madu itu,” sesal Fatimah.

Beda gaya pengasuhan berujung depresi

Idel (33) seorang ibu yang tinggal Yogyakarta bercerita, ia memilih melahirkan di Bekasi agar dekat dengan ibunya. Dengan harapan, ibunya bisa membantunya merawat bayi selama ia memulihkan diri setelah melahirkan. Ternyata, berbagi pengasuhan antargenerasi justru menjauhkan harapannya.

“Setelah melahirkan, saya nggak boleh tidur. Katanya nanti darah putih naik ke mata dan kepala. Padahal, saya ngantuk banget. Malamnya begadang, tapi paginya nggak boleh tidur,” tutur Idel.

Saat berusia tiga bulan, bayinya menangis tengah malam karena kolik. Ibu Idel segera membawa anaknya keluar kamar. Idel mengira, anaknya akan ditimang-timang agar tidur kembali. Tebakannya salah, ia memergoki ibunya menyuapi anaknya dengan pisang. Idel segera menarik anaknya dari gendongan ibunya.

“Kami sampai tarik-tarikan waktu itu. Anakku baru disuapin (pisang) belum tertelan, dan qodarullah anakku muntah ASI. Akhirnya nggak jadi dimakan itu pisang,” katanya.

Tak hanya soal mitos, Idel merasa ibunya kerap melanggar batas dengan mengabaikan aturan yang ia terapkan untuk anaknya. Misalnya memberikan anaknya gadget di usianya yang belum genap 1 tahun, memberikan snack menjelang waktu makan anak, hingga larangan imunisasi, dan dianggap terlalu sering konsultasi ke dokter.

Perbedaan sudut pandang pengasuhan itu memuncak ketika berat badan anaknya tidak naik selama 3 bulan. Idel yang khawatir berniat membawa anaknya berkonsultasi ke dokter. Namun, ia selalu dihalangi dan dicegah oleh ibunya. “Anak tuh jangan sering-sering dibawa ke dokter kasihan atau wajar anak umur segitu berat badannya nggak nambah,” tutur Idel menirukan ibunya.

Intuisinya sebagai ibu terlalu kuat untuk diabaikan. Diam-diam ia membawa anaknya ke dokter dan menjalankan berbagai tes untuk mengetahui kondisi anaknya. “Qodarullah ternyata benar anakku terkena TB (tuberculosis) kelenjar,” ungkap Idel.

Sebagai ibu, perasaan Idel hancur lebur. Ia harus membagi fokusnya pada pengobatan anak, jauh dari suami, hingga menghadapi perbedaan gaya pengasuhan dengan sang ibu.

“Jujur saya sampai stres berat. Saya sampai ke psikiater, sampai minum obat biar nggak overthinking saking stresnya menghadapi mama sendiri. Semua yang saya lakukan selalu salah di matanya. Saya nggak kerja salah, kerja salah, beli makan buat anak salah, pokoknya semua salah. Mama ingin anakku itu sepenuhnya diasuh sama dia,” ujarnya.

Dengan kondisi yang tidak semakin membaik, akhirnya suami menyarankan Idel kembali ke Jogja dan melanjutkan perawatan di sana.

“Saya tahu mamaku peduli banget sama cucunya, tapi dia salah memposisikan dirinya sebagai nenek. Yang diingat cuma melulu buat ngurusin anak. Sekarang saya mencoba lebih pengertian. Tapi kalau diminta tinggal bareng lagi, saya nggak mau,” ungkap Idel.

Otak-atik aturan ibu

Lain lagi pengalaman pengasuhan antargenerasi yang dialami Puji (34), seorang ibu dua anak asal Jakarta. Orangtuanya suka diam-diam mengotak-atik aturan yang sudah dibuatnya. Misalnya saja melanggar batasan konsumsi susu harian, mengajak anaknya makan sambil digendong atau jalan-jalan.

“Aku menerapkan konsumsi susu formula sehari cukup 650 ml. Nanti biasanya nenek atau kakeknya inisiatif ngasih susu lebih dari takaran hariannya itu. Sudah aku larang minum susu pakai dot, eh diam-diam dikasih botol dot,” ujarnya.

Kesenjangan informasi seringkali membuat co-parenting dengan orangtua tidak mudah dijalankan. Salah satunya yang banyak terjadi, orangtua masa kini bersandar pada petunjuk dokter. Sedangkan nenek dan kakek berpegangan pada kepercayaan turun-temurun dan mitos.

Sulitnya pengasuhan antargenerasi

Menurut Psikolog Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, ketegangan pada pengasuhan antargenerasi ini menjadi fenomena klasik. Beberapa menolak dengan tegas saran-saran pengasuhan dari orangtua, tetapi sebagian lagi memilih tetap mengikuti karena budaya penghormatan pada yang lebih tua.

Menurutnya, kuatnya akar pengasuhan masa lalu di era modern ini karena kentalnya pengalaman kasuistik dan subjektif. Saran-saran pengasuhan yang datang dari generasi orangtua kita kerap bersandar pada pengalaman masa lalu mereka. Padahal, saran-saran tersebut tidak ada buktinya. “Hanya informasi turun-temurun yang belum terverifikasi secara medis ataupun ilmiah,” jelas Gisella.

Selain itu, budaya masyarakat Indonesia yang masih memegang teguh nilai kekeluargaan menempatkan nasihat dan saran orang yang lebih tua atau dihormati dalam keluarga sebagai kebenaran mutlak yang harus diikuti. Meskipun saran tersebut bertentangan dengan saran-saran medis, hal tersebut tetap diikuti.

“Kondisi ini juga yang mungkin membuat keputusan pengasuhan anak tidak murni didasarkan pada pertimbangan ilmiah atau medis, melainkan demi menjaga keharmonisan keluarga,” terangnya.

Kuatnya mitos yang masih dipegang sampai hari ini, menurut Gisella, disebabkan tingkat literasi masyarakat yang kurang. Berbagai informasi yang diterima tidak dicermati dengan baik. “Akhirnya menuruti saja apa yang disarankan orangtua tanpa menelaah atau mungkin kurang memiliki kemampuan untuk memproses informasi secara mendalam,” tutur Gisella.

Duka ibunda Alena menjadi duka bagi semua ibu. Banyak ibu juga melalui pengalaman serupa. Tak kuasa melawan saat berbagi pengasuhan dengan orangtua. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

ORDER MERCHANDISE